Marjono. (BP/Istimewa)

Oleh Marjono

Kiprah sosok Karsim Arifin, Tahun 1964 yang dikirim Fakultas dari IPB untuk membina petani di Waimital Pulau Seram Maluku : meningkatkan hasil tanaman dan ternak mereka. Kasim menolong masyarakat desa untuk menjadi mandiri. Bersama-sama ia membuka jalan desa, membangun sawah-sawah baru, membuat irigasi, dan semua itu dilakukannya dengan swadaya.

Peluh keringat Karsim di atas masih menggenangkan kenangan dan spirit bagi kaum muda. Begitu juga tak sedikit kampus yang punya fakultas pertanian, tapi tak pernah membawa mahasiswanya menjadi petani tulen modern. Begitu juga banyaknya career expo yang digelar kampus, dinas tenaga kerja, dan EO lain, rasanya selalu nihil untuk lowongan formasi kerja untuk mengisi profesi petani. Inilah ironi negeri padi, karena seluruh penduduk kita tak bisa lepas dari budi baik para petani yang acap dipermainkan harga dan nasibnya.

Inilah yang acap kita sebut voyeuristik sarjana kita. Seakan mencecapi betul dunia yang sudah menceraikan dari ibu kandungnya, pertanian dengan ruang ber-AC, wangi parfum, berdasi, dll, tapi di belahan lain pertanian ambruk, petani menjerit dan profesi petani kerap ditinggalkan kaum milenial. Estafet profesi, nampaknya menjadi satu problema yang harus diurai sebelum semuanya berganti ke pemilik modal dan akhirnya petani hanya menjadi budak baru pertanian. Sementara petani di pedesaaan pun tak sanggup mencukupi beban moral dan kebutuhannya, ketika iuran BPJS harus jalan, bayar listrik harus tertib, uang saku anak sekolah harus tersedia setiap pagi, perbaikan rumah yang sudah tidak layak huni pun juga mendesak.

Baca juga:  Adiksi Viral: Antara Nalar dan Kreativitas

Akhirnya, mereka harus rela menjadi pecundang di negerinya sendiri dan mengikhlaskan sekujurnya menjadi tenaga kerja kasar, bahkan tak menutup kemungkinan ada yang bekerja di wilayah underground. Hal ini lebih karena kemendesakan (kepepet) butuh dan tak ada urusan dengan gengsi yang membaur tak jelas. Ironi negeri petani, secara kasat mata terungkap pada penderitaan petani yang tak juga beranjak berubah, barangkali itu juga turut menyokong gaya hidup lulusan pertanian terninabobokan dengan sikap mental sanglaritis.

Mereka hanya punya mental buruh, yaitu ingin menjadi pegawai negeri atau pegawai swasta, kurang mampu dan mau menciptakan lapangan kerja sendiri. Pemicunya, sarjana atau kaum muda sulit memulai usaha dengan alasan mereka tidak diajar dan dirangsang berusaha sendiri, dukungan dan peran lingkungan dan budaya masyarakat dan keluarga yang sejak dulu menginginkan anaknya menjadi orang gajian/pegawai atau ambtenar. Digaji, bukan menggaji. Dan, rata-rata orang tua tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman berusaha.

Sudah saatnya kita berbuat nyata, meminang kaum muda, ya mahasiswa juga sarjana untuk tertarik berminat menekuni profesi petani kembali. Kalau orangtua sebagai petani, maka ketika harus mikul dhuwur mendhem jero, tak ada salahnya anak itu harus melebihi ayah ibunya. Misal jadi petani milenial (petanui muda modern, petani professional) dan tidak pelit berbagi ilmu kepada para petani miskin lainnya.

Baca juga:  Ironi Korupsi Akademisi

Program sarjana masuk desa, profesor masuk desa, gubernur masuk desa, presiden masuk desa : back to village, back to nature, nampaknya masih relevan kita gerakkan kembali untuk membalik nasib petani kita, masyarakat dan desa kita. Model sarjana pendamping desa, sebetulnya juga bisa dimanfaatkan sebagai sosok yang mrantasi untuk itu, dan penempatan mereka mesti sesuai dengan potensi unggulan desa atau ikon masing-masing wilayah.

Nilai Tukar Petani (NTP) Januari 2024 sebesar 118,27 atau naik 0,43 persen. Harga Gabah Kering Panen di Tingkat Petani naik 2,97 persen dan Harga Beras Premium di Penggilingan naik 2,36 persen. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Januari 2024 sebesar 120,03 atau naik 0,28 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya. Seperti diketahui, NTP diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. NTP di atas 100 menunjukkan indeks harga yang diterima lebih tinggi dari indeks harga yang dibayar. Begitu sebaliknya, kala NTP di bawah angka 100. NTP merupakan indikator daya beli sekaligus tingkat kesejahteraan petani.

Merawat Mimpi

Untuk mencuri hati kaum muda siap menjadi petani, dan bangga berprofesi petani dengan segala resikonya, antara lain insentif akses keuangan, saprodi dan jaminan harga sekaligus pembatasan impor produksi pertanian bisa menjadi jalan pertama. Kedua, insentif teknologi, yakni teknologi tepat guna yang betul-betul aplikatif bagi upaya peningkatan produktifitas pertanian, selama ini kita kalah sejahtera dengan petani negeri tetangga, karena kekurangan teknologi maupun untuk soalan komodifikasi produk pertanian.

Baca juga:  Timnas U-23, Tradisi dan Tuhan

Selain itu, perlu juga diseminasi tentang e-petani (di Jateng), go-tani (di Bali), smart farming (di Bali dan NTT), dan lainnya. Juga perlu revitalisasi Darmotirto di Jateng dan atau seperti Subak di Bali. Semua itu bagian dari inovasi untuk memajukan pertanian dan mensejahterakan sedulur tani. Warning-nya adalah kita harus siap memberi pendampingan dan mengedukasi praktik operasionalisasi aplikasi petani.

Harapannya, di masa mendatang itu petani juga bisa menjadi favorit atau idola bagi kaum muda, tak cuma on farm tapi segi off farm nya yang harus dioptimalkan. Di sini soal agribisnis dan pertanian modern menjadi konsentrasi kita semua.

Dan, tentu upaya itu sedikitnya bakal membuat petani lebih terbuka, lebih sejahtera dan regenerasi petani buat kaum muda tak tercekat. Kini, di tengah harga beras menjulang, telur melangit, kentang membumbung dan cabai rawit meninggi, tapi kehidupan petani masih saja terengah, saya membayangkan Karsim Arifin hadir memberikan spirit dan motivasi kepada petani untuk tetap bekerja bersawah di alam terbuka dengan mandi matahari dan mandi teknologi. Profesi dan mata pencaharian petani ini menjadi kekuatan yang menjaga nyala mimpi daulat pangan Indonesia.

Penulis Kepala UPPD/Samsat Kabupaten Tegal, Jawa Tengah

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *