Petugas TPS 007 di Kelurahan Kampung Kajanan, Buleleng menghias TPS dengan nuansa Valentine. (BP/Istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Pemilu 2024 yang berbarengan dengan perayaan hari kasih sayang Valentine di Kota Singaraja dilaksanakan dengan cara unik. Salah satu TPS 007 di Kelurahan Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng memiliki petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) perempuan, satu-satunya di Kabupaten Buleleng. Bahkan suasananya dirancang dengan nuansa serba pink yang meriah.

Ketua KPPS 007, Kelurahan Kampung Kajanan, Singaraja, Yeni Rahmawati, Selasa (13/2) mengatakan inisiasi pembuatan TPS dengan bernansa hari kasih sayang ini, digagas oleh petugas KPPS sendiri. Mereka ingin memberikan suasana yang berbeda kepada pemilih yang akan menyalurkan hak suaranya pada hari pencoblosan nanti. “Kami ingin berbeda dibadingkan dengan TPS lainnya dan ini merupakan satu-satunya TPS dengan anggota perempuan di Kabupaten Buleleng,” terangnya.

Baca juga:  Tahun Depan, QRIS Ditargetkan Bisa Digunakan di 2 Negara Ini

Meski seluruh anggota KPPS hingga petugas Linmasnya merupakan perempuan, para petugas ini memastikan akan bekerja secara professional. Para petugas KPPS telah mengikuti bimbingan teknis (bimtek) sejak Januari hingga Februari, termasuk bimtek terakhir yang diadakan minggu lalu. “Anggaran dari KPU kami atur sendiri, Rp 2 juta untuk operasional dan Rp 1 juta untuk dekorasi pink ini,” ungkap Yeni.

Sementara itu, Lurah Kampung Kajanan Ketut Sudarsana mengaku bangga atas terpilihnya TPS perempuan satu-satunya yang ada di Buleleng. Pihaknya pun menekankan kepada para petugas agar siap mental untuk bekerja saat pencoblosan. “Mereka harus siap mental. Karena ini yang pertama kali. Ini sekaligus percontohan” katanya.

Baca juga:  PKB dan Buleleng Expo, Dimeriahkan Pentas Seni Luar Bali

Sudarsana menyebut, jika sebelumnya sempat kesulitan untuk melakukan perekrutan petugas yang semuanya perempuan. Berkat informasi yang disampaikan ke masyarakat secara intens, akhirnya semua bisa terpenuhi. “Perekrutan lumayan susah, karena banyak yang tidak mau. Namun semuanya bisa berjalan. Ada ibu rumah tangga, ada guru TK. Ibu-ibu Pengajian da ada beberapa mahasiswa. Umurnya bawah 50 tahun,” imbuhnya. (Nyoman Yudha/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *