Wakil Bupati Karangasem bersama tim penilai dari ahli Scientific Advisory Group-Globally Important Agricultural Heritage System (SAG-GIAHS), pada acara dinner, Jumat (2/2). (BP/Istimewa)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Salak Sibetan diusulkan menjadi salah satu warisan dunia Food and Agriculture Organization (FAO) sejak 2017. Pada Jumat (2/2), dilakukan penilaian dari ahli Scientific Advisory Group-Globally Important Agricultural Heritage System (SAG-GIAHS).

Dalam kegiatan Welcome Dinner dengan tim ahli tersebut, Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa berharap Salak Sibetan yang menjadi ikon Karangasem, dan  diakui sebagai warisan dunia.

Artha Dipa, mengucapkan selamat datang kepada Dr. Patricia Bustamante dan timnya di Kabupaten Karangasem. Dalam sambutannya, Wabup Artha Dipa menyoroti tingginya potensi pertanian, baik di lahan kering maupun sawah. Kata dia, meskipun luas lahan pertanian besar, hasilnya belum optimal karena belum dioptimalkan. “Salak sebagai komoditas hortikultura unggulan Kabupaten Karangasem, maupun Provinsi Bali yang mendapat perhatian secara khusus,” ucapnya.

Artha Dipa mengatakan, luas tanaman salak mencapai 4.188 hektar dengan produksi 240.608 kuintal di 2023. Kecamatan Bebandem, terutama Desa Adat Sibetan, menjadi pusat produksi utama.

Baca juga:  Pendistribusian Bantuan COVID-19 Diminta Transparan dan Tepat Sasaran

Desa ini dikenal tidak hanya oleh masyarakat lokal, tetapi juga mancanegara karena produk lokalnya, seperti wine salak, keripik, pia, dan bumbu rujak, mendapat sambutan positif di berbagai kios dan pasar modern di Bali.

“Meski potensi pertanian besar, tapi Kabupaten Karangasem masih dihadapkan pada tantangan seperti alih fungsi lahan, krisis regenerasi petani muda, dan rantai pasok yang panjang. Stabilitas harga saat musim panen menjadi perhatian utama,” katanya.

Dia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Karangasem berkomitmen mendukung upaya Kementerian Pertanian dalam mendorong sektor pertanian sebagai prioritas utama. Kegiatan Site GIAHS untuk tanaman salak dianggap sebagai langkah strategis dalam pelestarian budidaya salak dan warisan budaya lokal.

Baca juga:  Pupuk Organik Diminati, Permintaan Hingga 50 Ton/Hari

Lebih lanjut dikatakannya, pihaknya berharap agar salak Karangasem menjadi ikon Kabupaten Karangasem, dan diakui oleh FAO sebagai warisan dunia.Keberhasilan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi sektor pertanian, terutama petani salak.

“Saya sangat berharap dengan adanya kegiatan ini Salak yang menjadi ikon Karangasem bisa benar-benar menjadi warisan dunia yang diakui oleh FAO sehingga produksi salak yang selama ini dinikmati bisa bertahan dan diwariskan kepada generasi muda untuk mampu memberikan nilai tambah daya saing dipasaran. Dengan begitu pendapatan dan kesejahteraan petani salak bisa meningkat,” imbuhnya.

Pemerintah Kabupaten Karangasem menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak yang telah terlibat dalam mendukung kegiatan Site GIAHS “Salak Agroforestry System in Karangasem”. ”Semoga tujuan dari SITE GIAHS, yang menjadi satu-satunya di Indonesia, dapat terwujud dengan baik,” tutupnya.

Baca juga:  Wabup Artha Dipa Buka Peringatan Bulan Bahasa Bali VI di Karangasem

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (Distan PP) Kabupaten Karangasem I Nyoman Siki Ngurah mengatakan, bahwa penilaian tersebut dilakukan sejak tanggal 1-4 Februari 2024. Penilaiannya meliputi banyak hal mulai dari meninjau pasar, proses pembibitan, kondisi kebun salak dan yang lainnya. “Ini merupakan penantian yang sangat panjang untuk menjadikan sistem pertanian salak Sibetan menjadi salah satu warisan dunia FAO,” kata Siki Ngurah.

Siki Ngurah mengatakan, kalau  salak Sibetan diusulkan menjadi salah satu warisan dunia FAO karena memiliki lima unsur kriteria yaitu ketahanan pangan, agrobiodiversitas, pengetahuan lokal tradisional petani setempat, nilai budaya dan organisasi sosial serta yang terakhir memiliki alam yang menarik. Sehingga sangat pantas untuk dijadikan salah satu warisan dunia. (Adv/balipost)

BAGIKAN