Paruman Desa Adat Buleleng terkait peniadaan parade ogoh-ogoh. (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng meniadakan parade ogoh-ogoh pada Hari Raya Nyepi 2024 (Tahun Baru Caka 1946). Peniadaan parade lantaran bertepatan dengan Piodalan di Pura Dalem Desa Adat Buleleng.

Keputusan ini didasarkan pada paruman yang diselenggarakan pada Jumat (19/1), di wantilan Sekretariat Desa Adat Buleleng. Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna mengatakan desa adat Buleleng sepakat tidak melaksanakan ogoh-ogoh dengan berbagai pertimbangan.

Salah satunya adalah pelaksanaan Pujawali di Pura Dalem Desa Adat Buleleng yang bersamaan dengan  hari pengerupukan. Walau ogoh-ogoh tidak akan dilaksanakan pada 2024, desa adat akan mengadakan Lomba Ogoh-Ogoh pada 2025.

Baca juga:  Ini 9 Seniman Penerima Penghargaan Pengabdi Seni

Sebagai gantinya, pihaknya akan memberikan dana stimulan sebesar 5 juta rupiah untuk setiap banjar adat yang berpartisipasi pada perayaan Nyepi 2025 mendatang. “Pada tahun 2025 kami bantu para yowana dengan dana stimulan sebesar Rp 5 juta untuk setiap banjar adat. Dengan demikian, keputusan ini diharapkan dapat mendorong kreativitas masyarakat setempat dalam menyelenggarakan tradisi budaya yang berharga,” imbuhnya.

Menurut Sutrisna, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan masukan dari yowana, kelian banjar adat, koordinator pecalang, Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan Kerta Desa. Dalam rapat, ada tiga alternatif yang dipertimbangkan, yaitu hanya melaksanakan ogoh-ogoh oleh Banjar Adat Delod Sema, tidak melaksanakan ogoh-ogoh di semua banjar adat, atau diizinkan dengan tanggung jawab dan pengamanan masing-masing banjar adat.

Baca juga:  Operasi Antik, Polisi Tangkap Tiga Pengedar dan Tujuh Pemakai Narkoba

“Dengan mempertimbangkan kebersamaan, kesetaraan dengan yadnya, serta kondisi politik dan ekonomi tahun ini, kami memutuskan untuk tidak melaksanakan ogoh-ogoh di tahun 2024,” tambah Sutrisna.

Menanggapi keputusan tersebut, Wakil kelian Yowana Satya Swadharma Banjar Peguyangan, Ngurah Gede Arya Kusuma Wardana, menyatakan kekecewaannya. Meski begitu, ia menegaskan pihaknya akan tetap menghormati keputusan prajuru desa kelian adat. “Tentu kami kecewa, tapi kita harus hormat dengan keputusan prajuru desa kelian adat. Kami akan tetap berpartisipasi dalam lomba pada tahun depan,” katanya. (Nyoman Yudha/balipost)

Baca juga:  Gubernur Koster "Mecapatan" dan "Megagapan", Spontan Tinjau Empat Ogoh-Ogoh di Denpasar
BAGIKAN