BPBD menyuplai air bersih ke titik rawan kekeringan. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Hujan telah mengguyur hampir seluruh wilayah di Bali. Meskipun intensitasnya belum tinggi, namun hujan yang terjadi belakangan ini telah mampu mengurangi jumlah wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem di Bali.

Pada periode sebelumnya, ada 4 wilayah di Bali masuk ketegori kekeringan ekstrem ranking atas (lebih dari 60 hari tidak turun hujan). Namun, kini tinggal 2 wilayah yang masih alami kekeringan ekstrem. Yaitu, di wilayah Perasi Kabupaten Karangasem serta wilayah Tejakula dan Sambirenteng di Kabupaten Buleleng.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar I Nyoman Gede Wiryajaya, mengungkapkan secara umum hari tanpa hujan (HTH) di Bali berada pada kategori masih ada hujan hingga kategori kekeringan ekstrem (lebih dari 60 hari tidak turun hujan). Ada daerah alami tidak hujan berturut-turut >30 hari. Yaitu, Kabupaten Karangasem (Perasi) dan Kabupaten Buleleng (Tejakula, Sambirenteng). Bahkan, kedua wilayah ini masuk ranking teratas kategori kekeringan ekstrem. Masing-masing di Kabupaten Karangasem 105 hari (Perasi) dan Kabupaten Buleleng 77 hari (Tejakula, Sambirenteng).

Baca juga:  Dari Pelestarian Sapi Putih di Taro Terancam hingga PPKM Sudah 3 Jilid, Zona Merah Masih Mendominasi Bali

Meskipun demikian, BMKG memprediksi beberapa wilayah Bali berpeluang diguyur hujan ringan hingga 10 Desember 2023 mendatang. Diantaranya, wilayah Kabupaten Tabanan, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Bangli, Kabupaten Karangasem, Kabupaten Badung, Kota Denpasar, Kecamatan Negara, Jembrana, Mendoyo, Pekutatan, Kecamatan Budungbiu, Sawan, Seririt, Banjar, Sukasada, Buleleng, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, dan Dawan.

Sementara itu, potensi hujan sedang hingga lebat diprediksi terjadi di wilayah Bali bagian tengah. Distribusi curah hujan di wilayah Bali secara umum antara 0 hingga 224.2 mm/dasarian.

Baca juga:  Tabrak Truk di Pohsanten, Mantan Sekda Jembrana Meninggal

Untuk itu, masyarakat dihimbau untuk selalu mewaspadai dampak bencana hidrometeorologi yang terjadi. Seperti, tanah longsor, pohon tumbang, banjir, dan bencana lainnya. Apalagi, berdasarkan data dalam dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) Provinsi Bali tahun 2022 – 2026, yang diterbitkan oleh Kedeputian Sistem dan Strategi BNPB tahun 2021, merinci katalog desa / kelurahan rawan banjir.

Terdapat 328 desa / kelurahan di Bali yang perlu waspada banjir. Dengan rincian 68 kelas bahaya tinggi dan 260 kelas bahaya sedang. Selain itu, terdapat 363 desa / kelurahan harus mewaspadai ancaman tanah longsor. Dengan rincian 39 kelas bahaya tinggi dan 324 kelas bahaya sedang. (Winatha/balipost)

Baca juga:  Selundupkan 444 Gram Sabu Via Bandara, Segini Tuntutannya
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *