Suasana di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Tarif transportasi di Bali dinilai masih belum ramah wisatawan. Terutama tarif transportasi dari Bandara Ngurah Rai sebagai titik awal wisatawan ke berbagai tujuan wisata di Bali.

Keluhan soal ini pun bermunculan. Seperti yang terpantau di sosial media, salah satunya X. Pemilik akun @eka……. Ia menilai tarif transportasi dari Bandara ke Kuta sangat mahal. Ia yang akan ke salah satu mal yang terletak di Pantai Kuta harus merogoh kocek Rp109.000 padahal hanya berjarak 4,2 km.

Netizen lain, di akun Tiktok-nya, menyampaikan di masa liburan sekolah, Juni lalu, tarif dari Bandara Ngurah Rai ke daerah Sukawati, Gianyar, bisa mencapai Rp400,000 lebih untuk sekali perjalanan. Hal ini juga diamini oleh netizen lainnya di kolom komen.

Baca juga:  Pertumbuhan Penumpang Bandara Ngurah Rai Hampir 100 Persen, Ini 3 Rute Paling Diminati

Banyak pihak menilai, kembali menggeliatnya pariwisata Bali tersebut seharusnya dibarengi dengan berbagai kebijakan yang mendukung. Salah satunya di sektor transportasi sebagai moda yang menggerakkan wisatawan dari satu tempat ke tempat lain. Jika dilihat jumlah penumpang yang hilir mudik di bandara Ngurah Rai sangat banyak, mereka menilai tarif transportasi bisa dibuat lebih rendah.

Masih belum lengkapnya opsi transportasi publik yang memadai, ditambah lagi dengan masih tingginya biaya transportasi, seperti biaya sewa mobil dan transportasi online, membuat pilihan wisatawan menjadi sangat terbatas. Untuk pilihan yang murah, bus TransDewata masih sangat terbatas rute dan aksesnya sehingga wisatawan kesulitan menjangkau akomodasi dan destinasi-destinasi pariwisata lainnya dengan nyaman.

Baca juga:  Bandara Ngurah Rai Mulai Persiapan Sambut Lebaran

Mengutip data yang dilansir Kantor Berita Antara, General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai Handy Heryudhitiawan mengatakan, saat ini rata-rata dalam satu hari, bandara internasional ini melayani 65 ribu penumpang yang berasal dari sekitar 400 pesawat. Menurutnya jumlah penumpang tersebut kemungkinan akan bertambah seiring dengan bertambahnya jadwal penerbangan ke Bali.

Saat ini saja sudah ada empat maskapai internasional yang mengajukan penambahan jadwal penerbangan ke Bali. Selain empat maskapai internasional tersebut, juga ada pesawat terbesar di dunia asal Emirates Airbus A380 juga meminta slot tambahan penerbangan. “Ada beberapa maskapai juga yang rencananya mengubah tipe pesawat jadi ukuran lebih besar,” ujar Handy.

Saat ini, Bandara I Gusti Ngurah Rai telah ada 36 maskapai yang melayani penerbangan internasional dengan 30 rute. Sebanyak 13 maskapai melayani domestik dengan 19 rute dalam negeri.

Baca juga:  Visiting Nusa Lembongan, Tour Guides Asked not to Leave Guests Alone

Terkait kondisi pariwisata Bali yang sudah pulih juga disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali Erwin Soeriadimadja. Ia mengatakan perkiraan jumlah wisatawan mancanegara (Wisman) saja pada akhir 2023 mencapai 5,25 juta dari 2,16 juta Wisman di 2022. Tidak hanya wisatawan mancanegara, wisatawan domestik juga diprediksi akan terus meningkat.

Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprediksi pergerakan masyarakat pada saat musim liburan Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 bisa mencapai 107,63 juta orang atau 39,83 persen dari total populasi nasional. Angka ini naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. (kmb/balipost)

BAGIKAN