Sebuah alat berat memindahkan sampah ke truk pengangkut di TPS Monang-maning, Denpasar, Jumat (10/11). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sampah yang tidak bisa diangkut lancar ke TPA Suwung menimbulkan persoalan di mana-mana termasuk kawasan jantung pariwisata Bali yakni Kuta dan Legian. Pemerintah kabupaten Badung diminta mencarikan solusi jangka panjang, agar masalah sampah tidak terjadi jika TPA Suwung tidak bisa difungsikan. Apalagi Badung memiliki pendapatan daerah yang sangat memadai. Hal tersebut disampaikan tokoh masyarakat Legian, I Wayan Puspa Negara dan Pengusaha Senior Bali, Panudiana Kuhn yang diwawancarai di Kuta beberapa waktu lalu.

Menurut Panudiana, soal kebakaran di TPA Suwung sudah menjadi pemberitaan di media asing. Selain itu, sampah yang menumpuk di pagi hari sepanjang Jalan Raya Kuta, menurut Kuhn juga sudah mulai mengganggu karena menebarkan bau yang kurang sedap. “Saya kalau jalan pagi di seputaran Jalan Raya Kuta, terganggu dengan bau sampah,” kata Panudiana Kuhn yang punya kebiasaan jalan pagi ini.

Baca juga:  Mahasabha PGSDT VI 2018, Momentum Mempererat Hubungan Serta Meningkatkan SDM dan Ekonomi Pasemetonan

Sementara itu, Puspa Negara mengatakan prihatin dengan soal sampah yang banyak menumpuk di jalan-jalan yang banyak dilalui para wisatawan. “Ini menjadi masalah karena kawasan pariwisata seperti Legian dan Kuta dinilai gagal menangani soal sanitasi lingkungan,” ujarnya. Tentu saja citra pariwisata Bali menjadi taruhannya.

Puspa Negara mengatakan, kondisi sampah di kawasan Kuta Selatan sebagai jantung pariwisata adalah sebuah ironi. Dengan pendapatan daerah yang demikian besar, Badung harusnya memiliki dana cukup dalam soal penanganan sampah. “Dengan PAD yang ditargetkan mencapai tujuh triliun, seharusnya permasalahan sampah dapat diatasi,” katanya.

Baca juga:  Kondisi Sarana Pendukung di "Art Center" Memprihatinkan

Lebih ironis lagi karena program Bupati yakni Badung Angelus Buana, justru membagikan dana ke kabupaten kota dengan jumlah yang cukup fantastis. Dana dari PAD khususnya dari sektor pariwisata, sangat layak dialokasikan juga untuk penanganan sampah.

Penangananan sampah di Bali, secara keseluruhan menurut Panudiana Kuhn belum benar-benar serius. Bahkan pemerintah dikatakan terkesan tidak ada niat untuk membereskan masalah sampah. “Belum ada niat dari pemerintah untuk menuntaskan masalah sampah,” tegas Panudiana.

Solusi untuk penanganan sampah sebenarnya banyak tersedia yang mencontoh dari tempat lain. Misalnya, kata Kuhn, dari Singapura. Di negara kota seperti Singapura, sampah ditangani dengan teknologi berupa insenerator. Ada energi dari pembakaran yang digunakan sebagai pembangkit listrik.

Baca juga:  Periksa Pick Up, Pelaku Curanmor Ditangkap di Gilimanuk

Hal serupa disampaikan Tokoh Masyarakat Legian, Wayan Puspa Negara. Badung bisa mencontoh penanganan sampah di Singapura. Dengan pendapatan yang dimiliki oleh Badung dari pariwisata, dana mungkin bukan menjadi kendala utama.

Pemkab Badung pada sebuah kesempatan menyatakan akan membangun TPST yang nilainya anggarannya mencapai ratusan miliar rupiah. Salah satu lokasinya direncanakan di Sangeh. Namun demikian, belum apa-apa masyarakat di Sangeh telah menyatakan penolakannya. Keberadaan TPST dinilai akan mengganggu kenyamanan dan ekonomi warga yang menggantungkan hidup salah satunya dari sektor pariwisata. (Nyoman Winata/balipost)

 

BAGIKAN