Dr. Drs. I Gusti Ketut Widana, M.Si. (BP/kmb)

Oleh  I Gusti Ketut Widana

Beranalogi seperti halnya moda transportasi bus jurusan Jawa-Bali PP (Pergi-Pulang), ternyata rerainan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali memiliki makna identik. Sugihan Jawa, dilaksanakan pada Kamis/Wraspati Wage wuku Sungsang, dimaknai sebagai momen ritual membersih-harmoniskan unsur di luar diri (Jawa = jaba = luar) yang tiada lain bhuwana agung (alam). Membersihkan di sini, bukan dalam arti “menghabisi” seisi alam beserta sumber daya hayatinya, melainkan meredam, bila mungkin memadamkan segala bentuk tindakan yang membuat alam disharmoni. Intinya, secara simbolis ritual Sugihan Jawa mengajak umat untuk sekali waktu ke “jaba” — pergi keluar, lihat dan saksikan bagaimana kondisi mutakhir alam yang sepanjang hidup tiada henti memberikan berkah kehidupan.

Pesan pentingnya, manusia (Sanskrit : Manusya) yang berarti memiliki kebijaksanaan, sekaligus  penghuni bumi paling terhormat dan bermartabat dapat dengan arif dan bijak memperlakukan alam sebagaimana ia merawat dan memelihara dirinya. Usai Sugihan Jawa, keesokan harinya, Jumat/Sukra Kliwon wuku Sungsang, dilanjutkan Sugihan Bali. Jika Sugihan Jawa maknanya bergerak ke “jaba” (keluar diri),  Sugihan Bali sebaliknya, mendorong umat kembali ke dalam diri (Bali/wali = mawali).

Baca juga:  Menjaga Peradaban Bali

Menjadi momentum pembersihan dan penyucian diri (bhuwana alit), yang unsur-unsurnya secara rinci disuratkan kitab Manusmrti, V. 109 : “badan dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran dan kejujuran, roh dibersihkan dengan ilmu pengetahuan suci dan tapa, dan akal dibersihkan dengan kebijaksanaan”.

Relevansinya, umat tidak cukup hanya rajin membersihkan sekujur tubuh dengan air (plus sabun pewangi), semestinya juga dengan rutin menyucikan pikiran agar senantiasa berada di jalur kebenaran berdasar kejujuran. Lalu unsur roh (spirit) dijernih-murnikan melalui ilmu pengetahuan suci agar tetap tegteg dan enteg dalam pengendalian diri. Akal (rasio) pun dalam penggunaannya patut dilandasi kebijaksanaan agar  pengejawantahannya tidak menyimpang jauh dari fungsinya sebagai media pencerahan menuju kesadaran sang diri.

Adapun titik temu pemaknaan ritual Sugihan Jawa-Bali PP terletak pada  sumbu filosofis kedua rerainan menjelang hari suci Galungan tersebut  yaitu berupa ajakan kepada umat agar terlebih dahulu pergi ke “Jawa” (jaba = luar), melihat situasi terkini, mencermasti kondisi alam ini, bumi pertiwi,  beserta segenap sumber daya hayati yang selama ini telah menghidupi. Apakah masih dalam keadaan harmonis, atau sudah menampakkan tanda-tanda krisis, sehingga sebelum berlanjut menjadi kritis apalagi sampai habis, penting sekali umat untuk kembali pulang ke “Bali” (mawali), dengan modal bersih diri, pikiran suci, spirit terkendali, dan kebijaksanaan akal-budhi melakukan evaluasi lewat introspeksi (mawas diri) untuk nantinya menentukan sikap dan unjuk aksi berdasar hati nurani, perihal bagaimana kiat menjadikan alam (bhuwana agung) tetap harmoni dan siasat menghadirkan manusia (bhuwana alit) ajeg bersinergi demi keberlangsungan kehidupan di bumi tetap abadi.

Baca juga:  “Sugihan” Ajak Umat Harmoniskan Alam

Ini berarti, pelaksanaan rerainan suci Sugihan Jawa-Bali tidak boleh terhenti sebatas ritualistik simbolik, tetapi lebih lanjut secara impresif dan ekspresif ditransformasi melalui berbagai cara sebagai ikhtiar merawat, memelihara dan melestarikan alam dengan harapan  keberlangsungan pasokan daya dukung alam penopang kehidupan manusia tetap  lestari hingga akhir nanti. Jadi, ritual suci Sugihan Jawa-Bali PP, tidak sekadar pergi pulang seperti melajunya bus yang terus bolak balik melintasi jalur Jawa-Bali saja, tetapi lebih jauh lagi mampu menginspirasi, memotivasi dan mensugesti umat agar dengan rajin, rutin dan disiplin menyadarkan diri betapa pentingnya saling menjaga   keberadaan bhuwana agung (makrokosmos) dan bhuwana alit (mikrokosmos) sebagai satu kesatuan jiwa (psikokosmos) yang satu sama lain bisa saling memengaruhi eksistensinya. Alam subur pasti akan membawa kemakmuran, sebaliknya alam rusak hanya akan membawa kehancuran bagi kehidupan manusia.

Baca juga:  Sistem dan Pemerataan Pendidikan di Indonesia

Amanatnya, selain lewat ritual, pelaksanaan ritual Sugihan Jawa-Bali saat ini, dapat mengikuti laju cepat transportasi bus Jawa Bali, tidak lagi seperti  “odong-odong” (sering dipakai moda transportasi/atraksi hiburan anak-anak) yang bergerak “adeng-adeng” (pelan/lambat). Karena itu, “edengin” (perlihatkan) model kebaruan pemaknaan Sugihan Jawa-Bali dengan cara “ngadungin” (menyesuaikan) dengan konteks kekinian beserta tindakan kongkretnya agar tidak terkesan bolak-balik dilaksanakan (210 hari sekali) tetapi tanpa bukti dalam implementasi.

Penulis, Dosen UNHI Denpasar

BAGIKAN