John de Santo. (BP/Istimewa)

Oleh John de Santo

Kemampuan berpikir kritis selalu menjadi sorotan dalam semua wacana tentang pendidikan di era digital. Berpikir kritis umumnya dipahami sebagai kemampuan untuk bernalar dengan jernih, dalam memahami hubungan antar berbagai konsep, melalui upaya mencari, menemukan, memilah, merenungkan, menggabungkan, menyimpulkan dan menerapkan hasil pengamatan dan penalaran itu dengan menggunakan media komunikasi yang baik.

Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis dipandang sebagai capain tertinggi dari seluruh proses pendidikan formal seseorang. Orang dengan kemampuan ini akan selalu dicari karena dibutuhkan untuk memecahkan berbagai persoalan. Bagaimana mengembbangkan kemampuan ini?

Jordan  Peterson, seorang psikolog klinis dan penulis buku 12 Rules for Life: An Antidote to Chaos (2018) mengatakan, bahwa cara terbaik mengembangkan kemampuan berpikir kritis adalah melalui kegiatan menulis. Itulah alasan mengapa karya tulis seperti skripsi, tesis dan disertasi dipandang sebagai puncak karya akademis seorang mahasiswa.

Ironisnya keharusan menulis selama masa pendidikan formal itu tak serta merta menjadi keterampilan yang dimiliki kaum cerdik pandai. Kegiatan menulis itu sendiri bahkan menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar calon sarjana. Karya tulis dianggap sebagai tugas terberat oleh sebagian besar mahasiswa kita, sehingga ada yang tak enggan mengambil jalan pintas dengan membayar orang lain untuk mengerjakan karya tulisnya.

Tidak mengherankan, jika lulusan perguruan tinggi kita, rata-rata memiliki kemampuan berpikir kritis yang rendah. Padahal orang dengan kemamampuan berpikir kritis yang rendah, mudah menerima informasi apa pun yang datang kepadanya. Ia tak mampu memilah mana informasi yang benar dan mana yang palsu (hoax).

Baca juga:  Mengkreasi Kota Polisentris

Dengan kata lain, orang dengan kemampuan berpikir kritis yang rendah mudah menjadi bulan-bulan arus informasi yang begitu kuat di era digital dan mereka juga mudah dihasut. Mengapa kegiatan menulis tetap menjadi momok bagi  kaum terpelajar di negeri ini? Banyak pakar media mengatakan, karena kegiatan menulis membutuhkan  komitmen jangka panjang dan stamina. Orang yang mau menguasai keterampilan menulis, wajib sendirian menempuh jalan sepi yang jauh dan melelahkan.  Kegiatan menulis adalah hal yang membutuhkan proses berpikir, agar tulisan yang dihasilkan itu bernas dan layak dibagikan karena mengandungkan informasi atau pengetahuan yang baru dan terpercaya sehingga dianggap bermanfaat buat pembaca.

Nicolette Demetriou, dalam video link-nya: Look Deeper: the Wonders of Writing (2017), mengemukakan kiat mengubah kegiatan menulis yang berat menjadi proses yang menyenangkan. Baginya, kegiatan menulis itu ibarat menggunakan cahaya obor untuk menelusuri relung kehidupan pribadi yang gelap dan asing. Untuk membiasakan diri, ia menyisihkan waktu 15 menit setiap pagi sebagai kegiatan pertama yang ia lakukan sebelum beralih kepada rangkaian kegiatan lain.

Tuntutan Era Informasi

Datangnya era informasi dan teknologi di abad ini semakin menuntut kemampuan berpikir kritis. Karena hanya dengan kemampuan itu kita bisa menilai manakah informasi paling akurat dari yang akurat dan manakan informasi yang paling relevan dari informasi yang relevan untuk mengembangkan dan mengaktualisasi potensi diri dan manakah informasi yang bersifat sampah, agitatif dan provokatif.  Menurut Demetriou, sejatinya kegiatan menulis itu tak sulit karena hanya menuntut pembiasaan seperti halnya keterampilan berenang atau bersepeda.  Artinya, yang tekun berlatih pada akhirnya akan menguasai keterampilan itu.

Baca juga:  Kehadiran Negara di Hati Siswa

Selain itu, banyak pakar kepenulisan pun menganjurkan metode menulis bebas (free writing). Artinya,  selama jangka waktu tertentu,  sebagai pemula, orang dianjurkan untuk sekedar menggerakkan tangan atau jemari pada keypad dan menulis tentang apa saja. Prinsipnya, don’t get it right, get it written. Jangan pikir soal benar-salah, pokoknya menulis saja. Kegiatan menulis menjadi semakin muda, manakala kita merunut sebuah kajian yang mengatakan, bahwa terdapat sekitar 70 ribu gagasan yang berseliweran di  dalam kepala kita setiap hari. Ada yang menganalogikan pikiran manusia dengan jalan raya  yang penuh kendaraan hilir mudik berkecepatan tinggi. Nah, dengan kegiatan menulis kita mengurai benang kusut itu, sekaligus mengurangi kecepatan  ide atau gagasan yang berseliweran di dalam benak kita. Ini pula yang menjadi alasan, mengapa para psikolog juga menggunakan kegiatan menulis sebagai terapi.

Baca juga:  Candi Prambanan ”Hidup” Lagi

Menurut penulis, ada tiga langkah penting dalam kegiatan menulis agar layak dibaca. Pertama, bernilai. Sebuah tulisan harus bernilai bagi pembaca karena ia tak akan  menyia-nyiakan waktunya untuk mencermati sesuatu yang tidak berharga. Artinya, jika ingin tulisan anda mendapat perhatian, maka pada saat menulis, pikiran anda senantiasa tertuju kepada kepentingan pembaca.

Kedua, terstruktur. Artinya dalam menulis anda harus teratur, runut, mengalir dengan baik sesuai kaidah bahasa yang anda  gunakan. Pilihan diksi harus tepat untuk menggambarkan maksud atau pesan. Kalimat atau paragraf yang  anda pakai tidak membuat pembaca mengernyitkan dahi. Ketiga, ruang. Ketika menulis, hendaknya anda tidak menjelaskan segala sesuatu secara panjang lebar. Karena data dan rincian yang terlalu banyak akan membuat pembaca kewalahan.  Menulis itu seperti membangun percakapan lisan. Lawan bicara tak senang, bila anda mendominasi percakapan dengan cenderung menggurui karena bertele-tele.

Menulis adalah karya keabadian. Sebuah ungkapan Latin berbunyi, verba volant, scripta manent. Ucapan menguap hilang, tapi tulisan mengabadi. Kegiatan menulis memberi kita peluang untuk berlatih menahan diri dan tidak terburu-buru mempercayai, mengutip atau mengedarkan informasi yang belum pasti kebenaranya. Tanpa kemampuan berpikir kritis kita akan mudah menjadi korban cuci otak oleh berbagai kekuatan gelap di luar sana.

Penulis, pendidik dan pengasuh Rumah Belajar Bhinneka, berdomisili di Yogyakarta

BAGIKAN