AAGN Ari Dwipayana. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sastra Jawa Kuna saat ini berada dalam keadaan penuh perjuangan untuk terus bertahan seiring waktu. Untuk itu diperlukan proteksi terhadap para penekunnya. Demikian mengemuka dalam Seminar Nasional Sastra Jawa Kuna bertajuk “Pemajuan dan Penguatan Sastra Jawa Kuna di Tengah Persaingan Global” yang diselenggarakan oleh Universitas Udayana, Jumat (11/11).

Koordinator Prodi Sastra Jawa Kuno I Nyoman Suarka menjelaskan, Sastra Jawa Kuna adalah milik bangsa Indonesia. Di dalamnya merepresentasikan jati diri bangsa Indonesia, sebagai sumber jiwa dan nafas bangsa.

Buktinya bahasa Jawa Kuna digunakan sebagai falsafah, motto dan ideologi negara. Menurutnya, sastra pra-modern Indonesia ini menyimpan kearifan dengan nilai-nilai universal.

Baca juga:  Nyepi di Era Pandemi, Momentum Bangkit dengan Semangat Baru

Sastra Jawa Kuna, kata dia, berkembang dari abad 9 sampai 14, yang sejak keruntuhan Majapahit, kehidupan Sastra Jawa Kuna dibawa ke Bali dan tumbuh serta berkembang di Bali hingga sekarang. Namun demikian, Suarka menyebut Sastra Jawa Kuna saat ini berada dalam keadaan penuh perjuangan untuk terus bertahan seiring waktu. “Marilah kita semua menumbuhkan kesadaran kita dengan mengangkat kembali Sastra Jawa Kuna, walau dalam hal sekecil apa pun,” ujar Suarka dilansir dari keterangan tertulisnya.

Terkait terancam punahnya Sastra Jawa Kuna, Koordinator Staf Khusus Presiden RI AAGN Ari Dwipayana menyampaikan harus ada aksi afirmasi dalam rangka memberikan perlindungan dan proteksi terhadap program studi dan para penekunnya. Dengan perlindungan dari pemerintah pusat hingga daerah, dan juga didukung oleh aksi pengembangan dan pembudayaan sastra, diharapkan Sastra Jawa Kuna dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman, digemari kawula muda, sehingga tidak akan mengalami kepunahan.

Baca juga:  Ratusan Ribu Dosis Vaksin Sinovac Tiba di Bali

Ari yang juga merupakan Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud pun menyampaikan, terdapat tiga strategi utama bagaimana Sastra Jawa Kuno agar tetap dapat lestari. Pertama, proteksi atau perlindungan dari negara, baik pemerintah pusat sampai daerah; Kedua yaitu melakukan pengembangan dan pemajuan pusat riset sastra jawa Kuno sebagai “gateway” untuk mengeksplorasi sistem ilmu pengetahuan lokal-nusantra; usadha, nilai-nilai luhur agama, wariga, tutur, kanda, itihasa, babad, tantri; dan  Ketiga yaitu pembudayaan yang bukan lagi di tataran elite, tetapi di kalangan anak-anak muda, milenial nyastra misalnya.

Baca juga:  Dialog Antar-agama Jangan Berhenti di Mimbar, Harus Sampai Akar Rumput

“Kita harus bersyukur karena bahasa dan sastra Jawa Kuna tidak punah, setidaknya selama 1.244 tahun. Pelajaran yang bisa diambil adalah bahasa dan sastra tidak punah karena digunakan, dipakai, digunakan dalam ilmu pengetahuan, dan digunakan dalam ritual,” kata Ari. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *