Ngurah Weda Sahadewa. (BP/Istimewa)

Oleh Sahadewa

Keperluan politik luar negeri untuk menjadikan politik luar negeri sebagai salah satu lompatan untuk mencapai kesejahteraan rakyat memperoleh semangat penting dan perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk menciptakan pola hubungan yang konstruktif terhadap masa depan hidup masyarakat. Sekarang tidak dapat dicermati secara seksama jika tidak dengan kepekaan yang luar biasa terhadap kejadian demi kejadian yang menimpa keberadaan G20. Ini sebagai sebuah pertanda penting untuk menyimak lebih dalam lagi.

Ini juga berarti bahwa keberadaan G20 mesti lebih lanjut dijadikan sebagai bentuk evaluasi baru untuk melakukan kerjasama yang tidak semata-mata saling menguntungkan melainkan memberikan dampak berlanjutnya kerjasama yang benar-benar nyata dapat dirasakan untuk jangka pendek (kini), menengah, dan panjang. Petualangan tentang perjalanan G20 patut
dirancang ke depan dalam kacamata yang semakin memperlebar jarak pandang dan sudut pandang. Ini berarti bahwa G20 tidak dapat dikacaukan dalam keadaan dan kondisi seperti saat terpecahnya momen kebersamaan yang dikarenakan adanya peperangan seperti Rusia yang menyerang Ukraina. Saat ini itulah yang sesungguhnya terjadi.

Baca juga:  "Soft Skills" dan "Life Skills" Generasi Milenial

Seterusnya ini tidak dapat dibiarkan karena peperangan itu sendiri tidak semata-mata membawa dampak bagi negara yang terkait terutama Ukraina melainkan sudah merambah ke dalam relung relasi yang menyulitkan posisi masing-masing negara dalam G20 dikarenakan Rusia sebagai salah satu negara pokok yang bercokol di sana. Perlu disadari bersama ketika G20 digelar di Bali maka patut disadari pula sepenuh hati dan pikiran manusia yang terlibat langsung ataupun tidak langsung jika ini menandai peristiwa besar di tengah masih menggeliatnya dampak dari Covid-19.

G20 mesti berusaha keras untuk tidak terjebak dalam konstelasi terpecahnya kemungkinan kerjasama namun dapat semakin merasakan betapa perang tidak dapat meningkatkan kerjasama melainkan hanya sebagai penghalang pintu yang semakin terbukanya relasi yang konstruktif demi bangkitnya masyarakat dunia dari keterpurukan pandemi Covid-19 ini. Bali sebagai tuan rumah yang mewakili Indonesia pantas dikedepankan sebagai salah satu pencetus perdamaian (Shanti) atas kondisi tersebut sehingga pantas pula Bali digunakan sebagai simbol perdamaian itu.

Baca juga:  Amankan Kegiatan Sherpa Track, Patroli Pengamanan Dilakukan Lewat Udara

Semangat menjelma menjadi putus asa di kala orang sudah tidak peduli. Ketidakpedulian kemudian menumpuk menjadi kekecewaan yang mendalam sehingga keputusasaan dapat
memunculkan chaos yang tidak terkendali. Inilah cermin dari keberadaan G20 untuk segera menemukan formulasi baru yang saling tidak semata menguntungkan saja melainkan lebih memberikan keamanan dan kenyamanan dalam bekerja sama. Inilah potret terkini yang harus dijadikan sebagai bentuk perlawanan atas ketidakdamaian di hati dan pikiran para pesertanya.

Sesuatu yang damai di hati dan pikiran inilah sebagai bentuk inspirasi baru untuk dapat menemukan formulasi tepat dalam menentukan masa depan di dunia ini sehingga G20 yang dilaksanakan di Bali dapat segera memberikan tidak hanya dampak bagi dunia namun tidak melupakan pula dampak bagi keberadaan Indonesia dan Bali khususnya pada konteks ini untuk dapat menciptakan peluang baru yang memberikan kesejahteraan terhadap masyarakatnya. Kesejahteraan yang paling mungkin dapat diusahakan sehubungan dengan G20 adalah peluang kerja sama dalam bidang kepariwisataan misalnya tidak ditutup melainkan dibuka secara konstruktif berdasarkan program Kesehatan yang terpadu sehingga menjalin kerja sama dengan berbagai bidang.

Baca juga:  Pembiayaan Sektor Renewable Energy BRI Tumbuh 19,1 Persen

Ini tentu tidak mudah melainkan sebagai tantangan tersendiri agar pariwisata di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya bahkan dunia tidak terpaku dengan keadaan yang pernah dijalani bersama (pandemi) melainkan selalu menemukan terobosan penting untuk dapat secara stabil meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tercerahkan dari penindasan terselubung atas nama kesejahteraan seperti tingkat upah dan kesempatan kerja bagi penduduk lokal. Karena penduduk lokal sebagai salah satu palang pintu kesejahteraan yang penting bagi keberlanjutan kebudayaan sebagai salah satu daya penarik kedatangan para wisatawan yang datang ke berbagai daerah di Indonesia khususnya Bali. Semoga dengan G20 ini Bali dan Indonesia terselamatkan dari jurang “kehancuran” ekonomi akibat pandemi Covid-19 maupun ikutannya.

Penulis, Dosen Fakultas Filsafat UGM

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *