Tangkapan layar Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam Webinar Lanjut Usia Mandiri, Sejahtera, dan Bermartabat dalam Rangka HLUN ke-26 Tahun 2022 yang diikuti di Jakarta, Jumat (17/6/2022). (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Sebanyak delapan provinsi di Indonesia sedang mengalami penuaan penduduk dengan prediksi jumlah lansia yang akan terus bertambah setiap tahunnya. Demikian disebutkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

“Tentu jumlah lansia akan meningkat terus dan kalau kita lihat di negara kita, itu nantinya pada tahun 2045 jumlah lansia kita juga sudah akan bertambah,” kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam Webinar Lanjut Usia Mandiri, Sejahtera, dan Bermartabat dalam Rangka HLUN ke-26 Tahun 2022 dikutip dari Kantor Berita Antara, Jumat (17/6).

Berdasarkan data milik BKKBN, jumlah penduduk lansia yang ada di delapan provinsi itu, yakni DI Yogyakarta (15,52 persen), Jawa Timur (14,53 persen), Jawa Tengah (14,17 persen), Sulawesi Utara (12,74 persen), Bali (12,7 persen), Sulawesi Selatan (11,2 persen), Lampung (10,22 persen), dan Jawa Barat (10,18 persen). Hasto mengatakan, tingginya jumlah lansia tersebut membuktikan bahwa telah terjadi peningkatan pada angka harapan hidup dan indeks pembangunan manusia di delapan provinsi.

Baca juga:  Buleleng Ditetapkan Siaga Satu COVID-19

“Walaupun demikian, dibutuhkan upaya-upaya yang mampu mengawal terciptanya lansia tangguh dan berkualitas. Produktivitas lansia harus terus dijaga guna mencegah terjadinya ledakan penduduk non-produktif yang menambah beban negara,” katanya.

Melalui profil lansia di Indonesia, Hasto menyatakan setidaknya hanya 20 persen lansia yang hidup dengan produktif pada usia lanjut. Mayoritas memiliki kondisi ekonomi yang miskin.

Tingkat pendidikan lansia dari kelompok terbawah tercatat sebesar 22,22 persen tidak pernah bersekolah. Sedangkan 39,79 persen tidak menamatkan pendidikan di tingkat SD/sederajat berdasarkan data BPS dan Susenas pada bulan Maret 2019.

Baca juga:  Sejumlah Pohon Perindang di Jalur Denpasar-Gilimanuk Tumbang

Data menyebutkan, sebesar 12,98 persen lansia di kelas menengah tidak pernah bersekolah dan 30,39 persen berhasil menamatkan pendidikan SD. Sementara pada lansia kalangan atas hanya 5,06 persen yang tidak bersekolah dengan tamatan SD mencapai 25,37 persen.

Menurut dia, permasalahan lansia kemudian perlu dikritisi, karena memasuki 2035 diperkirakan dari 100 penduduk produktif setidaknya akan menanggung mendekati 50 penduduk tidak produktif. Tentunya, hal itu akan menyulitkan terbentuknya keluarga yang sejahtera.

“Pada tahun 2035 sampai Indonesia Emas 2045 itu kita akan kebanjiran lansia yang belum tangguh sekali. Mereka adalah lansia yang tabungannya sedikit dan berpendidikan rendah. Jadi kita akan jelas terbebani, oleh karena itu mulai sekarang kita harus memikirkan apa yang harus dipersiapkan,” kata dia.

Baca juga:  Tiga Wilayah di Bali Laporkan Tambahan Kasus COVID-19

Untuk menjaga tercapainya Indonesia Emas 2045 dengan penduduk yang berkualitas sesuai permintaan Presiden RI Joko Widodo, Hasto meminta agar setiap perwakilan daerah meningkatkan program-program kerja yang bisa menjaga kondisi kesehatan lansia supaya dapat menjadi produktif, tangguh, mandiri, bermartabat sekaligus meningkatkan angka harapan hidup Indonesia. “Provinsi yang saya sebutkan tadi tentu yang sudah cukup populasi lansianya. Kami mohon perhatian dari bapak ibu di provinsi agar Program Bina Keluarga Lansia (BKL)-nya coba ditingkatkan,” ujar Hasto. (kmb/balipost)

BAGIKAN