Putu Gede Hendrawan. (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bali era baru melakukan langkah penyelamatan Bali dilakukan dengan berbagai strategi dan terobosan. Strategi komunikasi Gubernur Bali, Wayan Koster, dan totalitasnya menjaga Bali diapresiasi banyak kalangan.

Kini, perjuangan Gubernur Koster mengusulkan Bali berstatus endemi mendapat dukungan penuh dari komponen pariwisata. Langkah ini dinilai merupakan promosi cerdas bagi kebangkitan Bali dan pemulihan ekonomi.

Pandangan tersebuit dilontarkan Ketua BVA Bali Putu Gede Hendrawan dan Ketua Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali (AMPB) Gusti Kade Sutawa, Kamis (18/5). Dijelaskan dengan status endemi ini, ada jaminan Bali aman dikunjungi. ‘’Status endemi merupakan salah satu modal kebangkitan pariwisata Bali. Perjuangan Gubernur Koster ini layak dan pantas diapresiasi sebagai bentuk keberpihakan Bali. Mudah-mudahan Bali bangkit makin nyata,’’ tegas Hendrawan.

Ia mengakui dominan komponen parwisata menaruh harapan baru terhadap status ini. Mudah-mudahan usulan ini segera direspons pemerintah pusat dengan penetapan. ‘’Semua harus bersinergi untuk menjaga Bali. Dengan bersinergi harapan Bali bangkit dan ajeg dalam peradabannya akan menjadi modal
besar dalam merawat Bali,’’ ujarnya.

Baca juga:  APBD Bali 2022 Ditetapkan, Belanja Daerah Capai 6 T

Ia mengatakan selama ini Gubernur Bali, Wayan Koster, sudah melakukan perjuangan dan berhasil baik itu bebas karantina, pelayanan Visa on Arrival, bebas visa bagi sejumlah negara.

Sutawa jugamenyambut baik upaya Gubernur Bali tersebut karena memang itu yang ditunggu-tunggu stakeholder pariwisata. Ini akan menjadi bukti baru bahwa Gubernur Bali, Wayan Koster, menjaga Bali secara totalitas dan komprhensif.

DIa mengatakan, saat ini Bali memang sudah memasuki fase aman dari penularan Covid-19. Kasusnya terus melandai. ‘’Status endemi akan menjadi kekuatan promosi dalam menarik minat wisatawan ke Bali. Terlebih kini telah ditegaskan bahwa Bali konsisten menjadikan budaya sebagai hulu pariwisata,’’ tegasnya.

Terkait dengan status endeemi, ia sangat optimis akan dipenuhi pusat. Apalagi Presiden juga telah mengeluarkan pernyataan bahwa diperbolehkan tidak memakai masker di ruang terbuka. Dengan demikian wisatawan akan lebih nyaman untuk berlibur. “Kami komponen pariwisata senang setelah dua tahun berjibaku menghadapi Covid-19, segala tekanan ekonomi. Dengan adanya status endemi kita lebih leluasa bergerak, lebih banyak kemudahan-kemudahan apalagi Pak Gubernur sudah mengajukan persyaratan tanpa PCR untuk wisatawan
yang ingin ke Bali,” ujarnya.

Baca juga:  Penyebar Hoax Tentang COVID-19 Ditangkap

Dengan cakupan vaksinasi yang tinggi, kelongggaran penggunaan masker, penetapan status endemi, negara yang mendapat fasilitas VoA bertambah, maka ia optimis pariwisata Bali akan cepat pulih.

Hal ini dikatakan sangat baik bagi pariwisata Bali karena pariwisata Bali masih menunggu turis dari China. Mengingat arus keluar masuk dari dan ke China masih ketat sehingga Bali masih berharap kedatangan China, meskipun Australia, wisatawan terbanyak ke Bali sudah mulai membanjiri Bali.

Baca juga:  Benny Susianto Pamitan dengan Gubernur Koster

Ditambah banyaknya penerbangn Denpasar-Australia akan semakin mempermudah akses turis. “Jika China sudah bisa traveling, saya rasa Bali akan
lebih cepat pulihnya,” ujarnya.

Ia mengungkap bahwa pasar China memberi dampak besar untuk pariwisata Bali. Saat ini wisatawan asing yang ke Bali antara 2.000 – 5.000 per hari, baru 10% kunjungan wisman sebelum pandemi yang mencapai 20.000 per hari.

Dampaknya, okupansi beberapa hotel yang bagus seperti di daerah Kuta telah mencapai 85%. Isinya telah mulai mayoritas turis asing. Kuta dan Legian memang kerap diisi oleh turis Australia.

Namun secara rata-rata okupansi akomodasi di Badung dikatakan masih kecil, sekitar 30% dan terus merangkak naik. “Tapi kalau hotel di pinggir pantai rata-rata penuh seperti di Mercure, Legian Beach, Hardrock, Inna, itu kan penuh. Tapi kalau lihat secara keseluruhan, masih belum,” ungkapnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN