I Gusti Ayu Ngurah Lita Rumiati. (BP/Istimewa)

Oleh I Gusti Ayu Ngurah Lita Rumiati

Masa depan Indonesia di era digital ditentukan oleh generasi milenial. Betapa tidak, populasi generasi millennial Indonesia berdasarkan sensus penduduk oleh BPS tahun 2020 mencapai 69,38 juta jiwa atau 25,87 persen dari total penduduk. Generasi milenial menurut Kamus Merriam-Webster adalah generasi yang lahir pada rentang akhir tahun 1980 hingga 1990, dan ada juga yang menggolongkan hingga awal tahun 2000.

Saat ini generasi milenial merupakan penduduk pada rentang usia 20-40 tahun sehingga tergolong kelompok usia produktif. Mereka punya andil besar dalam upaya mencapai target Indonesia sebagai negara berpendapatan tinggi pada tahun 2045.

Berbeda dengan generasi era sebelumnya, generasi milenial tumbuh di era internet booming. Oleh sebab itu tidak mengherankan bila generasi milenial demikian akrab dengan internet dan teknologi digital. Kemajuan teknologi digital memberikan berbagai informasi dan peluang baru yang tidak pernah dinikmati generasi sebelumnya. Karena itu generasi ini merasakan dampak positif kemajuan teknologi sehingga dipandang sebagai generasi yang memiliki rasa percaya diri tinggi, kreatif, inovatif dan selalu mengikuti perkembangan terkini.

Baca juga:  Membudayakan Milenial Membaca

Media sosial menjadi salah satu platform digital yang paling sering diakses oleh generasi milenial. Carr dan Hayes (2015) menjelaskan bahwa media sosial (medsos) adalah media berbasis internet yang memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi dan mengekspresikan dirinya secara seketika atau tertunda dengan pihak tertentu maupun khalayak luas. Berdasarkan riset Alvara dalam Indonesia Gen Z and Millenial Report 2020, medsos yang aktif digunakan oleh kalangan milennial muda di Indonesia adalah facebook yang mencapai 74,2 persen dan Instagram 22,1 persen, sedangkan twitter nampaknya mulai ditinggalkan sehingga hanya digunakan sebanyak 0,9 persen.

Pada aplikasi pengiriman pesan, generasi milenial banyak berinteraksi melalui whatsapp. Selanjutnya dari tingkat konsumsi internet, berdasarkan riset IDN Times Indonesia Millenial Report 2019 generasi milenial tergolong heavy user, yaitu mengakses internet selama 4-6 jam per hari dan addicted user (mengakses internet lebih dari 7 jam per hari). Terdapat beberapa manfaat yang didapat dari penggunaan medsos, seperti meluasnya jejaring pertemanan, membangun citra diri, bahkan juga sebagai media untuk berbisnis. Karena itulah generasi milenial menggunakannya untuk berinteraksi, berekspresi, mencari informasi, berbelanja hingga mengakses layanan publik. Medsos dirasakan amat memberikan kemudahan dalam berbagai aktivitas.

Baca juga:  Tantangan Perempuan Era Digital

Di samping pengaruh positif, penggunaan medsos yang tidak tepat juga dapat berdampak negatif. Salah satunya adalah budaya malas gerak “mager” yang dapat berdampak pada gangguan kesehatan fisik maupun mental. Penggunaan medsos yang berlebihan dapat membuat mereka terlepas dari aktivitas sosial di kehidupan nyata, bahkan di lingkungan terdekatnya. Medsos juga membuatnya rentan terhadap beragam informasi yang tidak benar/hoax maupun disinformasi.

Dengan memperhatikan dampak positif dan negatif dari tingginya keterhubungan generasi milenial dengan medsos maupun berbagai produk teknologi digital lainnya, maka pemanfaatan medsos dan teknologi digital oleh generasi milenial perlu diarahkan pada aktivitas yang mendorong inovasi dan kreativitas. Diperlukan kepedulian dan komitmen bersama dari generasi milenial, orang tua maupun masyarakat selaku pengguna teknologi digital agar peluang yang muncul dari teknologi digital ini menghasilkan sesuatu yang positif. Penguatan literasi digital dan skill digital telah menjadi kebutuhan.

Baca juga:  Melek Budaya di Era Digital

Indonesia dengan generasi milenialnya berpotensi besar melahirkan pengusaha-pengusaha milenial di bidang industri kreatif berbasis digital. Pada era digital, harapan Indonesia berada di generasi milenial, semua pihak berperan penting agar generasi milenial menjadi generasi medsos yang kreatif dan berdaya saing sehingga dapat berkontribusi untuk kemajuan Indonesia di era digital serta mendukung terwujudnya Indonesia Maju di tahun 2045.

Penulis adalah Analis Kebijakan pada Badan Litbang Kabupaten Badung

BAGIKAN