Prof. Dr. Engkus Kuswarno, MS saat memaparkan materi dalam webinar. (BP/gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Hindu (IKH) Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar kembali menggelar Webinar Series #3, Kamis (31/3). Webinar ini menghadirkan Prof. Dr. H. Engkus Kuswarno, MS, Guru Besar Ilmu Komunikasi FIKOM Universitas Padjadjaran Bandung.

Prof. Engkus menyampaikan hasil kajian fenomenologi yang cukup menarik, dengan membagi pemaknaannya ke dalam tiga tipologi. Menurut Prof. Engkus, tradisi fenomenologi ini berperan penting dalam riset yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dia memaparkan renomenologi merefleksikan pengalaman langsung manusia, sejauh pengalaman itu secara intensif berhubungan dengan suatu objek. Fenomenologi juga sebuah studi tentang pengungkapan suatu fenomena yang tersembunyi agar menjadi fakta yang nampak, dan pendalaman fenomena yang nampak dengan mengungkapkan fakta yang tersembunyi.

“Tujuan utama Fenomenologi, adalah mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, fikiran, dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau tidak diterima secara estetis,” kata Prof. Engkus.

Baca juga:  Masuk Zona Merah, Vaksin Rabies Fokus di Kuta Selatan

Sebagai contoh, Prof. Engkus menyampaikan Hasil Kajian Fenomenologi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya seputar Pandemi Covid-19, pada Grup WhatsApp yang beranggotakan 251 orang. Mengamati wacana yang ditulis warga, dari April-Juli 2020, khusus wacana Covid-19.

Dilanjutkan pada Februari 2022 tentang Perkembangan Pengalaman 2 Tahun COVID-19. Kemudian, Prof. Engkus melakukan tipikasi, sehingga ditemukan tiga tipikasi yang konsisten.

Ini ditindaklanjuti dengan melakukan elaborasi obrolan privat (wawancara) melalui media sosial (WA dan Telpon). Kemudian melakukan tipikasi lanjutan berdasarkan hasil elaborasi.

Hasilnya, tipikasi tentang Makna Pandemi Covid-19, yakni “Perilaku” Virus yang Dikonstruksi Manusia, Pengalaman Komunikasi Masyarakat dalam Masa Pandemi, dan Makna Terhadap Perilaku Komunikasi Pemerintah. Selanjutnya, dari elaborasi makna perilaku virus yang dikonstruksi manusia, pertama didapatkan bahwa virus ini merupakan makhluk yang menyebar dan tingkat bahaya yang sangat tinggi bagi kesehatan manusia. Keyakinan “nempel-wafat” menjadi nilai filosofis yang menetap.

Baca juga:  Pertemuan SBY-Prabowo Langkah Awal Koalisi Gerindra Hadapi Pemilu 2019

Kedua, sebagai makhluk yang penyebaran dan tingkat bahayanya moderat. Sama seperti virus flu, komparasinya malah lebih bahaya SARS, MERS atau komparasi dengan wabah penyakit lain, seperti demam berdarah.

Ketiga, sebagai mahluk yang tingkat penyebaran dan bahayanya rendah, karena kehendak dan pertolongan tuhan. Jadi ada pendekatan religi, peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah di tempat ibadah.

Maka, dari tipikasi dan pemaknaan pada virus tersebut, Prof. Engkus menetapkan Karakteristik Tiga Tipologi Dalam Masa Dua Tahun Pandemi ini.

Pertama adalah Tipologi Persona Paranoid, dalam masa dua tahun lebih banyak terdampak Covid-19 (mulai dari delta sampai omicron), menjadi tipologi yang lebih rentan. Relatif tidak berubah dan lebih dominan menarik diri dari lingkungan. Resiliensinya juga rendah.

Baca juga:  Galang Dana Perayaan Nyepi dan Bangun Komunikasi, Saka Open 2019 Digelar

Kedua, adalah Tipologi Persona Optimistik, yakni dalam masa dua tahun hanya beberapa orang yang sakit (teridentifikasi covid). Tetapi recoverynya cepat. Gaya Komunikasinya lebih terbuka, humoris, resiliensi tinggi.

Ketiga, Tipologi Persona Fatalistik, dalam masa dua tahun paling sedikit yang teridentifikasi covid. Tetapi paling sedikit menjadi pengguna vaksin. Cenderung apatis terhadap informasi yang datang dari pemerintah, termasuk diluar masalah pandemi. Ini termasuk resiliensinya moderat.

Fenomenologi, ini berkatan dengan kesadaran, intensionalitas dan konstitusi. Ini penting untuk diperdalam, sehingga dalam Fenomenologi Komunikasi, bisa memberikan rumusan penting kepada masyarakat. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN