Foto kombo penerima K. Nadha Nugraha dari kiri ke kanan; AA Gde Wedhatama, Ni Wayan Purnami Rusadi, Putu Marmar Herayukti. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kelompok Media Bali Post kembali memberikan penghargaan K. Nadha Nugraha pada tokoh yang telah berjasa serta memiliki komitmen dalam menjaga Bali dan NKRI. Kali ini penghargaan diberikan pada tiga anak muda Bali yang telah menjadi ujung tombak perubahan Bali melalui pembangunan berkelanjutan baik secara lingkungan, ekonomi, dan budaya.

Ketiga anak muda tersebut adalah A.A. Gede Wedhatama (37), Ketua Komunitas Petani Muda Keren (PMK), Ni Wayan Purnami Rusadi (30), petani jamur tiram, Putu Marmar Herayukti (39), seniman sekaligus undagi ogoh- ogoh dari bahan ramah lingkungan. Pnghargaan diserahkan secara langsung oleh Pemimpin Kelompok Media Bali Post, Satria Naradha, Rabu (5/1). Penghargaan diberikan secara door to door ke tempat mereka berproduksi dan berkreativitas.

Baca juga:  Argentina Tertarik Kerajinan Bambu Tabanan

A.A. Gede Wedhatama mengatakan, di tengah pandemi saat banyak orang di-PHK dan ekonomi Bali terpuruk, pertanian memberi optimisme baru bagi ekonomi Bali. “Kita menjadi eling, kita menjadi sadar. Sebenarnya pandemi menjadi momen baik untuk kita kembali ke sektor pertanian yang menjadi budaya dan adat kita. Oleh sebab itu, pandemi ini menjadi
momentum baik untuk kita kembali ke pertanian,” ujarnya.

Ke depan, ia optimis pertanian menjadi hal yang fundamental untuk Bali. Pertanian dibangun dengan kuat dan pariwisata nanti akan menjadi bonusnya. Dengan diberikannya penghargaan K. Nadha Nugraha diakui ia semakin semangat untuk membangun Bali, karena sesuatu yang ia kerjakan selama ini mendapat penghargaan dari Bali Post.

Baca juga:  Mulai September, E-ticketing akan Diberlakukan di DTW Tanah Lot

Penerima K. Nadha Nugraha Ni Wayan Purnami Rusadi mengatakan, penghargaan tersebut menjadi motivasinya untuk terus menjalankan pertanian. Komitmen di bidang pertanian ini merupakan passion yang tumbuh dari kecintaannya akan pertanian. Penghargaan ini diakui juga menjadi motivasinya karena di tengah pandemi, saat terjadi penurunan permintaan akan jamur tiram, namun semangat bertani terus tertanam.

Ia membuktikan walaupun berada di Kota Denpasar, bertani bukan mustahil dilakukan. Emik, panggilan
akrabnya justru memanfaatkan lahan teba sebagai tempat berbudi daya jamur dan lele, sehingga teba bisa menjadi lahan produktif di perkotaan.

Sekretaris Desa Peguyangan Kaja, I Wayan Sudarma
mengatakan, pihak desa mewadahi segala bentuk ide gagasan yang muncul dari warga. Maka dari itu ia menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam membangun desa.

Baca juga:  Tambahan Kasus COVID-19 Tetap 2 Digit, Bukan Alasan Jadi Lengah

Putu Marmar Herayukti mengatakan lewat penggunaan bahan dari bambu untuk ogoh-ogoh tanpa sadar kita telah turut memperbaiki lingkungan,
karena seberapa banyak pun bambu diambil akan tetap tumbuh dan menjaga ekosistem air. “Di musim hujan, bambu menyimpan air, di musim kemarau, bambu mengeluarkan air. Jadi dipakai terus-menerus
tidak akan berdampak pada lingkungan,” ujarnya.

Pada awalnya sulit mengubah kebiasaan anak muda menggunakan styrofoam (gabus sintetik). Namun pada akhirnya berhasil karena kesadaran tidak ada yang lebih penting daripada kesehatan. Kini, ia
mengklaim kesadaran anak muda Bali menggunakan bahan alam telah 100%. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN