Tanaman cabai petani milik Ketut Jaksa di Desa Terunyan, Kintamani. (BP/Ist)

BANGLI, BALIPOST.com – Hujan deras yang belakangan terus mengguyur dampaknya sangat dirasakan petani cabai di Bangli. Guyuran hujan menyebabkan buah cabai banyak rontok dan busuk.

Seperti yang dialami Ketut Jaksa, petani cabai di Desa Terunyan, Kintamani. Dia mengatakan tingginya curah hujan menyebabkan kelembaban tanah meningkat. Pohon cabai banyak mengalami kerusakan/busuk pada batang dan pangkal buah. Dampaknya buah cabai menjadi banyak rontok dan busuk. “Buah cabai juga banyak mengalami pecah pada bagian ujungnya,” ungkapnya, Selasa (7/12).

Baca juga:  Kembangkan Sektor Pertanian, Petani Diberi Kemudahan Akses Perbankan

Dikatakan Jaksa, jika dikumpulkan buah cabai di kebunnya yang rontok dan busuk mencapai satu pikul atau sekitar 100 kilogram. Cabainya yang rontok ada yang masih hijau dan ada juga yang sudah merah siap panen. “Tidak semua rontok. Masih ada yang bisa dipanen,” ujarnya.

Kondisi itu diakui membuatnya merugi. Terlebih saat ini harga cabai merah besar lumayan bagus bagi petani. Per kilogramya cabai merah besar laku dijual Rp 24 ribu. “Itu harga kemarin. Kalau tiga hari lalu Rp 20 ribu, kemudian dua hari lalu naik jadi Rp 23 ribu,” ungkapnya.

Baca juga:  Produksi Kopi Robusta Pupuan Turun 50 Persen

Atas kondisi itu, Mantan Sekdes itu mengaku hanya bisa pasrah. Selama ini upaya antisipasi sebenarnya sudah dilakukan.

Seperti dengan melakukan penyemprotan. Namun hal itu menurutnya tak bisa menangkal dampak cuaca seperti sekarang. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN