Petugas sedang bersiap mengambil sampel spesimen tenaga kesehatan di Puskesmas Tabanan III, Senin (6/7). (BP/Istimewa)

SAAT pandemi, tenaga kesehatan (nakes) merupakan salah satu profesi yang paling banyak dibutuhkan. Tidak sedikit Nakes yang berpulang di masa pandemi, demi menyelamatkan banyak nyawa lainnya. Oleh karena itu, sangat layak jika dikatakan tenaga kesehatan sebagai pahlawan pandemi COVID-19. Perjuangan dan dedikasinya perlu diapresiasi.

Kepala Pusat Peningkatan Mutu Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM (PPSDM) Kesehatan, Diono Susilo, dalam Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) – KPCPEN, Rabu (10/11), menyatakan, pahlawan selama ini identik dengan militer, tapi ternyata Nakes juga menjadi pahlawan di masa pandemi. “Pemerintah juga melihat para Nakes memberikan yang terbaik meski nyawa sendiri dalam ancaman,” tuturnya.

Para pahlawan ini, patut mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Diantaranya, berupa tanda kehormatan, peluang beasiswa maupun dukungan finansial seperti dalam bentuk santunan kematian bagi mereka yang gugur dalam bertugas pelayanan COVID-19, serta insentif.

Pada awal masa pandemi, banyak Nakes yang gugur disebabkan faktor ketidaktahuan, di mana masyarakat sering kurang jujur terkait gejala yang dialami atau kontak eratnya. Akibatnya Nakes ikut terpapar. Selain itu juga faktor lokasi pekerjaan dan kelelahan. Seiring waktu, situasi lebih terjaga sehingga Diono berharap dengan pembelajaran tersebut, risiko gugurnya Nakes karena bertugas dapat ditekan sekecil mungkin. Saat ini, meski pandemi telah melandai berkat kerja sama semua elemen, masyarakat untuk tetap waspada. “Prokes adalah kunci keselamatan kita semua. Kalau kita sehat, ekonomi juga sehat,” tandasnya.

Baca juga:  Wow, 422 Pesawat Rute Internasional Landing di Manado

Upaya pemantauan juga masih tetap dilakukan di seluruh wilayah, sehingga dapat dilakukan tindakan apabila terjadi pergerakan kasus. Penegakan hukum, menurutnya, juga dapat dilakukan untuk menindak pelanggaran, agar masyarakat lebih berhati-hati.
Pandemi COVID-19, seharusnya membuat masyarakat lebih sadar bahwa kesehatan itu mutlak diperlukan. Dalam momentum ini, peran Posyandu dalam sosialisasi hidup sehat di nilai sangat bermanfaat, begitu pula peran Nakes di sektor layanan primer, sekunder, dan tersier untuk menyampaikan gerakan hidup sehat dan pola hidup sehat.

Ketua Persatuan Perawat Nasional, Harif Fadhillah menyatakan bahwa seharusnya dalam masa pandemi ini, semua pihak dapat saling merawat. Perawat memberikan perawatan kesehatan kepada masyarakat sesuai kompetensinya, sedangkan masyarakat juga merawat motivasi sehingga semua dapat bertahan melawan pandemi.

Ia menuturkan, pengalaman paling mendalam dalam tugas pelayanan COVID-19 adalah ketika harus merawat teman sejawat yang kritis hingga berhasil sembuh. Dalam bertugas, kekuatan team work sangat membantu guna saling membangkitkan semangat. “Kebersamaan itu digunakan sebagai motivasi, bahwa meski tugas sangat berat, tapi harus dilalui dengan keceriaan dan potensi masing-masing dalam upaya mempertahankan semangat,” ungkap Harif.

Terkait bagaimana Nakes mambangun motivasi dan dedikasi merawat pasien, Harif menuturkan, tenaga kesehatan dididik dengan nilai yang sama, yaitu nilai altruistik yang ditanamkan sejak dini. Mementingkan orang lain daripada kepentingan kelompok/individu, bahkan keluarga sendiri.

Baca juga:  Tambahan Kasus COVID-19 Nasional Naik Lagi! Di Atas 14.500 Orang

Dengan nilai tersebut, walaupun tidak mengenal pasien, Nakes punya kewajiban kemanusiaan merawat pasien dengan sungguh-sungguh, terutama pada saat pandemi yang sangat membutuhkan tenaga kesehatan. Mengingat perjuangan dan ketulusan Nakes dalam melayani pasien, Harif berpesan kepada masyarakat, harus bisa beradaptasi dengan kondisi pandemi yang belum diketahui kapan usai.

Perilaku harus diubah supaya tetap punya kesadaran untuk hidup sehat, dimulai dari penerapan 3M, yang bila betul-betul diimplementasikan, dapat melindungi kita dari COVID-19. Situasi pandemi di tanah air memang telah membaik, ditandai dengan berkurangnya angka kasus di tanah air.

Hal tersebut juga terlihat di RSDC Wisma Atlet, Jakarta. Relawan RSDC Wisma Atlet/ Ketua DPK PPNI Wisma Atlet, Yogaditya Riza Aswar menyebutkan, saat ini Wisma Atlet sudah tidak lagi padat, namun petugas tetap diminta selalu bersiap menghadapi setiap kemungkinan.

Selain itu, kegiatan di Wisma Atlet juga masih aktif, di mana Nakes didukung untuk mendapatkan pelatihan-pelatihan guna meningkatkan kompetensi. Terkait pengalamannya bertugas di masa lonjakan kasus, Yoga menuturkan bahwa karena pasien tinggal dalam waktu lama, kadang perawat tidak hanya bertindak sebagai perawat kesehatan, melainkan juga harus dapat menjalankan layanan lain seperti mencukur rambut.

Pengalaman dengan Nakes yang jatuh saat bertugas lantaran dehidrasi, kelelahan, menghadapi banyak kematian, serta situasi saat seorang perawat harus mengurus 3-4 pasien di ICU, membuat Yoga mengakui bahwa apresiasi memang harus diberikan kepada para Nakes tersebut.

Baca juga:  BMKG Sebut Dua Kabupaten di Bali Ini Harus Siaga Banjir

Relawan juga dapat berperan menyampaikan pesan pentingnya prokes. “Dan relawan dapat berperan sebagai agen untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat bahwa COVID-19 memang betul ada,” tuturnya.

Dokter sekaligus influencer, Clarin Hayes yang juga bertugas di Wisma Atlet pada masa awal pandemi 2020 mengaku bersyukur belum pernah dinyatakan terpapar virus tersebut. Hal ini, menurutnya, juga karena didukung upaya proteksi kesehatan yang optimal. “Prokes sudah pasti. Pulang ke rumah langsung mandi, baju segera dicuci, jaga nutrisi seimbang, selalu menyempatkan olahraga, minum vitamin, memperbanyak asupan buah,” ujarnya.

Kekhawatiran tertular sudah pasti ada, namun ia memilih untuk berpikir positif dan meyakini bahwa setiap perbuatan dan niat baik pasti akan mendapatkan perlindungan dari Tuhan. Ia menekankan bahwa Nakes betul-betul berjuang ekstra di antara merawat pasien dan menjaga kesehatannya sendiri.

Karena itu, ia sangat menyayangkan bila ada warga yang kurang patuh aturan serta protokol kesehatan. “Masyarakat jangan lalai, walaupun sudah vaksin dosis kedua. Hari ini adalah Hari Pahlawan dan semua orang adalah pahlawan untuk kehidupannya, untuk keluarga dan orang-orang terkasih. Be an example (jadilah teladan), jaga kesehatan, lakukan prokes,” tegas Clarin. (Agung Dharmada/Balipost)

BAGIKAN