Ilustrasi uang. (BP/Istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Arisan online belakangan tren di kalangan perempuan muda di Kabupaten Jembrana. Arisan dengan sistem daring ini memanfaatkan kecanggihan ponsel dan menjanjikan keuntungan yang menggiurkan.

Namun, di balik itu, sejumlah warga menjadi korban pinjaman dari komunitas arisan di grup WA itu dengan bunga mencekik leher. Seperti yang dialami An (20) asal Jembrana.

Gadis malang ini ditemui akhir pekan lalu, awalnya diajak temannya yang baru lulus SMA, untuk ikut arisan online. Sistemnya cukup menggiurkan dibanding arisan biasa. Yakni dengan sistem arisan tembak dan arisan menurun.

Baca juga:  Antisipasi Tahanan Kabur, Polres Tingkatkan Pengecekkan

Arisan sistem menurun dipilih, karena nominal setoran tidak sama antara satu dengan anggota yang lain. Merujuk dengan urutan, yang paling atas nominal lebih besar dibandingkan urutan di bawah.

Arisan inilah yang diikutinya dengan waktu pencarian mingguan. Dalam perjalanan, ketika tak bisa membayar setoran, munculah tawaran dana pinjaman dari komunitas grup tersebut. “Awalnya saya pinjam 500 ribu dan mengembalikan 850 ribu dengan jangka waktu seminggu. Lalu semakin hari, karena tak bisa membayar, diarahkan meminjam ke orang lain dengan bunga kurang lebih sama, tapi jangka waktunya lebih cepat. akhirnya terjerat hanya untuk menutupi bunga saja,” ujar An.

Baca juga:  Diduga Terkait Investasi Ilegal, PPATK Bekukan 17 Rekening Senilai Puluhan Miliar

An tak dapat berkutik, ketika mendapat ancaman melalui telepon ke nomornya maupun kerabat terdekatnya untuk mengembalikan uang tepat waktu. Bahkan diancam akan diviralkan jika tidak membayar.

Selain besaran bunga yang mencekik dan waktu pendek, ternyata juga dikenai denda bila telat membayar satu jam. “Sehari kalau terlambat bayar dari jam yang ditentukan, denda Rp 100 ribu. Berapapun pinjamannya,” terang dia.

An terjerat dengan jaringan pinjam uang lebih kejam dari “rentenir” itu. Bahkan dalam waktu kurang dari enam bulan sejak Febuari, hutang dari pinjaman jaringan itu mencapai puluhan juta. Itupun terus bertambah karena bunga berbunga.

Baca juga:  Kejari Amlapura Punya Kantor Baru

Komunitas arisan online ini cukup meresahkan dan menyasar kalangan ibu rumah tangga hingga remaja perempuan. Beberapa kali teror dilayangkan melalui telepon bahkan mendatangi korban.

Namun, saat digeruduk, korban tidak kenal dengan orang-orang tersebut. Ternyata, mereka mengaku pemodal. “Terus terang kami resah, jangan sampai hal ini juga terjadi ke lainnya. Sebab banyak tawaran dari online dan jaringannya di sini (Jembrana),” terang ayah korban. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN

1 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *