I Gusti Ketut Widana. (BP/Istimewa)

Oleh : I Gusti Ketut Widana

Bagi umat Hindu, aktivitas upacara yadnya dalam bentuk ritual tidak diragukan lagi keyakinan dan praktiknya. Selalu menjadi hal pertama dan utama untuk dilaksanakan. Bahkan seringkali didorong hasrat berlebihan. Sehingga dalam urusan ritual, yang ditunjukkan bagaimana mampu menampilkan kemasan luar dari pada pemaknaan mendalam.

Mengacu Koentjaraningrat (1985) hal itu disebabkan dorongan kuat emosi keyakinan kepada Tuhan. Sehingga ide-ide ketuhanan yang bersifat supra empiris diturun-derajatkan ke dalam tatanan realita empiris berupa simbolisasi secara material. Titik temunya terjadi sinergi antara orientasi niskala (transendental) dengan dimensi sakala (habitual) dalam bentuk praktik berupacara.

Begitupun halnya dengan upacara Tumpek landep yang akan diperingati Saniscara Kliwon wuku Landep (11/8) ini, secara teologis-filosofis adalah sebagai bentuk pemujaan kepada Dewa Pasupati (manifestasi Hyang Widhi) yang telah menganugrahkan ketajaman pikirin (landeping idep) dengan berbagai produk teknologi yang dihasilkan. Dimulai dari produk teknologi kuno berupa keris, tombak atau peralatan senjata lainnya yang berujung tajam (lanying), hingga produk canggih kekinian, seperti motor, mobil, peralatan kerja bermesin lainnya, hingga pesawat terbang yang kemudian “diotonin” secara ritual.

Baca juga:  "The Millenials" dalam Pengelolaan ASN

Sejatinya ritual Tumpek Landep adalah moment kesadaran umat akan adanya kuasa Hyang Widhi, selaku Sanghyang Pasupati, sebagai pemberi kekuatan/taksu (energi magi) dari beraneka rupa peralatan teknologi, yang berfungsi memudahkan segala aktivitas karma (kerja) manusia guna memenuhi kebutuhan hidup dan melangsungkan kehidupan. Lebih jauh lagi, setidaknya ada empat makna ritual Tumpek Landep : 1) mengasah ketajaman berpikir ; 2) mengolah unsur materi (logam) menjadi lebih berdaya (-guna) ; 3) menjadikan setiap produk teknologi sebagai alat (peralatan) yang bermanfaat, bukan sebaliknya ‘diperalat’; dan 4) setiap produk teknologi, dari yang sederhana (tradisional) hingga supercanggih (modern) agar diarahkan untuk mencapai kesejahteraan hajat hidup orang banyak, sekaligus mengangkat keluhuran harkat, derajat dan martabat umat, bukan berkhianat menghancurkan satu sama lain hingga berubah menjadi “senjata makan tuan”.

Intinya, ritual Tumpek Landep adalah tonggak penajaman pikiran (landeping idep), yang kemudian dalam ajaran Yogasutra Patanjali, I.2 diminta untuk dikendalikan : ‘citta vrtti nirodha’ : pengendalian pikiran dari pengaruh gelombang perubahan. Sloka Sarasamuscaya, 421 turut menegaskan : “pengekangan pikiran harus benar-benar diusahakan, sebab jika tak terkuasai pikiran itu, hawa nafsu sangat berani dengan kebebasan bergerak; sesungguhnya bukan alang kepalang jahatnya yang disebut hawa nafsu itu; pasti akan menimbulkan bencana, dan mengalami duka nestapa”.

Baca juga:  Desa sebagai Basis Ketahanan Hadapi Pandemi

Tumpek Landep kekinian tidak boleh hanya sebatas mengupacarai (mantenin/ngotonin) beragam bentuk produk teknologi. Jadikan ritual Tumpek Landep sebagai moment penting membangun semangat baru (spirit), bahwa apapun produk teknologi yang dihasilkan lalu didaya-gunakan jangan sampai menjelma menjadi “senjata makan tuan”. Contoh sederhana namun berakibat fatal, semisal dalam penggunaan perangkat gadget seperti HP dengan berbagai aplikasi layanan yang tersedia, jika tidak dimanfaatkan dengan bijak, hanya dengan sekali sentuhan jari manis bisa berakibat pahit, menimbulkan masalah besar bahkan berakibat dahsyat.

Apalagi di tengah situasi pandemi seperti sekarang ini, tidak jarang pengguna gadget menjadikan media sosial sebagai arena menyebarkan berbagai informasi hoax tentang penyebaran virus corona, termasuk upaya vaksinasi yang dikatakan sebagai sebuah rekayasa politik ekonomi bernuansa bisnis. Dampaknya, membuat sebagian masyarakat masih ada yang belum percaya dengan adanya covid- 19, hingga membuatnya abai pada protokol kesehatan.

Baca juga:  Sekolah Dalam Zonasi Tata Ruang Kota

Efek dominonya, hingga satu setengah tahun lebih, sejak merebaknya virus corona, sampai detik ini, khususnya di Indonesia masih belum mampu mengatasi, apalagi menghentikan laju penularannya. Melalui ritual Tumpek Landep, umat diharapkan menjadi lebih tajam pemikirannya, sehingga bisa membedah dan menelaah dengan arif dan bijaksana, lalu memilah dan memilih mana informasi baik dan benar dan mana yang salah atau menyesatkan. Inilah makna terdalam ritual Tumpek Landep, tiada lain memotivasi umat untuk selalu mengendalikan pikiran, sebelum mengungkapkan dan melakukan sesuatu, sejalan ajaran Tri Kaya Parisudha. Niscaya dengan begitu, tidak akan menjadikan “senjata makan tuan” sendiri.

Penulis, Dosen UNHI, Alumni Pascasarjana UHN IGB Sugriwa Denpasar.

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *