Tangkapan layar konferensi pers terkait kelanjutan PPKM Level 4, 3, dan 2, Senin (2/8). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Presiden Joko Widodo dalam keterangan pers virtualnya disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (2/8) malam menyatakan bahwa kebijakan pemerintah dalam penanganan pandemi COVID-19 bertumpu pada tiga pilar utama. Yaitu vaksinasi, penerapan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak), dan pelaksanaan 3 T (tracing, testing, dan treatment) secara massif.

Disebutkan Jokowi, untuk langkah pertama, kecepatan vaksinasi, terutama pada wilayah-wilayah yang menjadi pusat mobilitas dan kegiatan ekonomi. Kedua, penerapan 3M yang masif di seluruh komponen masyarakat. Ketiga, kegiatan pengetesan, pelacakan, isolasi, dan perawatan atau 3T secara masif, termasuk menjaga BOR, penambahan fasilitas isolasi terpusat, serta menjamin ketersediaan obat-obatan dan pasokan oksigen.

Dijabarkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Luhut B. Pandjaitan, 3 pilar ini menjadi tumpuan pengendalian COVID-19 nasional setelah mendengar pendapat dan masukan dari para ahli. Juga, berdasarkan analisis gabungan para epidemolog dari berbagai universitas.

Dalam menangani pandemi ini, menurut Menko Luhut perlu bantuan semua pihak terutama keikutsertaan publik. “Hari ini kami masih memiliki masalah di sektor hulu di mana soal kedisiplinan masyarakat yang masih sangat kurang walaupun kedisiplinan ini adalah kunci dari penanganan pandemi COVID-19 varian delta ini,” ujarnya.

Baca juga:  Jangka Panjang, Pemerintah Harus Pikirkan Sumber Pendapatan Pengungsi

Oleh karena itu, masyarakat diharapkan memiliki kesadaran untuk berperan penuh dalam terus menjaga protokol kesehatan.

Sementara itu, terkait 3 pilar dalam penanganan COVID-19, Luhut mengatakan peningkatan cakupan vaksinasi secara cepat akan dilakukan. “Terutama pada wilayah-wilayah yang menjadi pusat mobilitas dan kegiatan ekonomi,” ujarnya dalam keterangan pers virtual disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden dipantau dari Denpasar.

Ia mengatakan saat ini pemerintah sedang meningkatkan jumlah vaksinasi harian mencapai 1.250.000 suntikan di Agustus ini. “Pemerintah sudah menyiapkan 258 juta vaksin siap suntik pada periode Agustus hingga Desember ini.”

Kedua, lanjut Menko Luhut, penerapan protokol kesehatan 3M yang masif di seluruh komponen masyarakat, dan ketiga adalah kegiatan testing, tracing, dan treatment (3T) yang sistematis dan masif. “Pemerintah saat ini menargetkan untuk melakukan tracing kepada 10 kontak erat per kejadian kasus positif yang sudah mulai dijalankan oleh TNI dan Polri dilapangan. Jika ketiganya dapat dilakukan, maka penyebaran virus dapat dikontrol sehingga strategi reopening secara bertahap optimis dapat dilakukan,” tambahnya.

Baca juga:  Pakar Hukum Sebut Pemanggilan Novanto Tak Perlu Izin Presiden

Vaksin Sangat Penting

Selain mematuhi 3M dan 3T, Menko Luhut kembali mengingatkan bahwa vaksin menjadi salah satu yang sangat penting dalam menghadapi dan  mengendalikan pandemi ini. Karena pembukaan aktivitas ekonomi akan tergantung pada ke-3 faktor tersebut.

“Bulan Agustus harus dimanfaatkan untuk meningkatkan cakupan vaksinasi, dan penerapan 3M serta 3T, agar September bisa mulai dilakukan pembukaan secara bertahap,” ujarnya.

Selain Menko Luhut, konferensi pers ini dihadiri juga oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang juga menekankan bahwa 3T, 3M, dan vaksinasi harus dilaksanakan dan diprioritaskan. Keduanya berharap selain kerja sama yang baik dengan TNI/ Polri, Gubernur, Bupati, Walikota, beserta jajarannya, harus ada juga kerja sama yang baik dengan seluruh masyarakat Indonesia untuk membantu pemerintah mendorong bersama -sama menangani COVID-19 ini.

Menkes menuturkan, peningkatan jumlah pengecekan orang dan spesimen ini penting agar kondisi setiap individu segera diketahui. Dengan demikian, penanganan yang tepat dapat segera dilakukan apabila individu tersebut terkonfirmasi positif korona.

Baca juga:  Potensi Likuifaksi Perlu Disikapi dengan Ilmiah dan THK

“Kita bisa evaluasi supaya tidak menular di tempat isolasi yang sudah dibangun dan yang sakit akan cepat kita rawat ke rumah sakit supaya tidak terlambat, supaya tidak fatal, karena penyakit ini kalau kita rawat dengan cepat dan tepat harusnya bisa tertangani,” tuturnya.

Selain pelandaian kasus harian, Menkes juga mencatat penurunan tingkat keterisian rumah sakit atau BOR, baik untuk ruang isolasi maupun ICU. Penurunan BOR terjadi di sejumlah daerah seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Terkait stok vaksin, pemerintah akan menerima lebih dari 300 juta dosis vaksin mulai Agustus sampai Desember. Oleh karena itu, Menkes mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan vaksinasi yang telah disediakan demi kepentingan bersama.

“Saya percaya bangsa Indonesia itu sudah banyak sekali mengalami tekanan, mengalami kesulitan, mengalami kegagalan, tapi kita selalu bisa bangkit. Kita kembali melawan selama kita melakukan bersama-sama,” tandasnya. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *