Pesilat Bali (kiri) saat bertarung meladeni atlet pelatnas. (BP/Nel)

DENPASAR, BALIPOST.com – Fisik dan stamina pesilat PON Bali anjlok drastis, saat meladeni atlet pelatnas, dalam uji coba, di GOR Purna Krida, Kerobokan, Minggu (30/5). Maklum, sehari sebelumnya, atlet PON menjalani tes fisik, di GOR Lila Bhuana, Sabtu (29/5).

Pelatih PON Bali Gusti Made Semarajaya di Denpasar, Selasa (1/6), menilai, pesilat asuhannya mengalami kelelahan, ketika menjamu atlet pelatnas. “Kami terpaksa harus meladeni tim pelatnas, sebab mereka yang menentukan jadwalnya,” tutur Gusti Semarajaya.

Baca juga:  Menparekraf Sebut Bali Dicanangkan Jadi Sentra Wisata Berbasis Ini

Ia mengatakan usai menjalani tes fisik yang cukup berat dan menguras tenaga, atlet asuhannya harus bertarung melawan atlet pelatnas. Akibatnya kata dia, berbekal sisa-sisa tenaga dan fisik pas-pasan, mereka harus bertarung melawan tim pelatnas. “Dampaknya, anak-anak bertarung kurang maksimal, dan mengandalkan sisa-sisa fisik yang ada,” keluhnya.

Ia memaklumi kondisi demikian, mengingat materi tes fisik lumayan berat, seperti menarik beban yang harus diforsir. “Anak-anak saat bertanding di atas matras, praktis mengalami keletihan fisik,” jelasnya.

Baca juga:  Soal Otoritas Pariwisata Khusus untuk Bali, Ini Komentar Wagub Cok Ace

Diakuinya, penampilan atlet asuhannya selama bertanding, direkam tim pelatnas. Padahal, skuad timnas bermaterikan pesilat dari berbagai provinsi. “Saya juga khawatir, gaya bertanding dan teknik pesilat Bali, dibaca atlet provinsi lain, sebelum PON Papua digelar,” ungkapnya.

Karena itu, berdasarkan pengalaman ini, pihaknya juga tidak gegabah menerima tawaran latih tanding melawan atlet provinsi lain. “Saya kira lebih baik dikumpulkan beberapa provinsi, untuk sepakat mengadakan Mini PON sebab kami tak mau atlet kami kelelahan, apalagi sampai cidera,” kata dia.

Baca juga:  Kecelakaan, Pesilat Dwi Surya Diganti Nyeneng

Dia mencontohkan pesilat Bali Komang Widia Mahardika (kelas D), sempat unggul sampai ronde kedua. “Akan tetapi, memasuki ronde ketiga mendadak kakinya kram. Untuk itu, kami memutuskan tidak melanjutkan laga, karena khawatir cederanya makin parah,” sebut dia.

Pasca uji coba melawan pelatnas, pihaknya tetap memprogramkan latihan lima kali dalam sepekan, ditambah penggenjotan fisik. “Selain itu, anak-anak juga kami bekali teknik, berikut mengasah mental bertandingnya,” terangnya. (Daniel Fajry/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *