Banjir rob merusak padi milik petani di Klungkung. (BP/gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Cuaca buruk gelombang pasang menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat. Khususnya para petani yang memiliki tanaman padi di pinggir pantai di Klungkung.

Hektaran tanaman pagi di sepanjang pantai di Klungkung terendam air laut atau banjir rob, setelah gelombang setinggi sekitar 6 meter terus terjadi dalam beberapa hari terakhir. Banjir rob yang melanda pesisir pantai di tiga kecamatan, antara lain di Kecamatan Dawan, Klungkung dan Banjarangkan, sejak Rabu (26/5) hingga Jumat (28/5) ini, menghancurkan hektaran tanaman padi dengan berbagai umur tanaman milik petani penggarap setempat.

Usia tanam dari umur baru lima hari hingga dua bulan. Bahkan, ada yang mau menjelang panen. Dampak cuaca buruk ini pun membuat petani rugi total.

Baca juga:  Pusat Kebudayaan, Mahakarya Monumental Bali Era Baru

Pantauan di lokasi, kondisi terparah terjadi di lahan sawah dekat Pesisir Pantai Sidayu dan Pantai Karangdadi. Pada areal ini, hampir semua lahan pertanian petani setempat sudah tidak bisa diharapkan lagi. Tanaman padi mereka hancur terendam banjir rob.

Sejumlah petani ditemui di lokasi terlihat hanya bisa meratapi peristiwa ini. Mereka nampak bengong dan pasrah, melihat banjir rob tak kunjung mereda dari lahan pertanian mereka.

“Tanaman padi saya ini padahal baru 15 hari. Sekarang semuanya sudah mati total. Pasir pantainya malah masuk ke dalam. Luar areal pertaniannya, ada 30 are ada juga 27 are. Ini sudah rugi total. Ongkos traktor, tanam, memelihara tidak bisa balik. Rugi total,” keluh salah satu petani setempat, Wayan Yasa.

Baca juga:  "Pasang Maling" Landa Pantai Kuta, Luapan Air Hingga ke Jalan

Sebagai petani penggarap, ia sudah tidak bisa mendapatkan hasil. Sementara biaya yang dihabiskannya untuk menanam padi ini sudah cukup banyak, sekitar Rp 4,5 juta. Ditambah lagi lahannya sudah dipenuhi pasir, sangat sulit bagi petani untuk mengolahnya lagi.

Hal serupa juga dialami petani lainnya Nyoman Seri. Saat terjadi banjir rob, dia mengaku mencoba berupaya menutup saluran air, agar sebagian lahannya bisa selamat dari banjir rob. Namun upaya itu juga sia-sia. “Padi saya baru berumur lima hari, sudah terendam banjir rob,” katanya.

Baca juga:  Awal 2019, 6 Bencana Landa Karangasem

Tidak hanya areal tanaman padi, tegalan warga yang berisi tanaman pisang juga banyak rusak diterjang gelombang pasang. Bahkan, gubuk-gubuk warga juga hancur setelah diterjang gelombang pasang setinggi enam meter itu.

Belum dapat diperkirakan kapan situasi demikian akan berakhir. Kondisi cuaca buruk ini nampak terus terjadi selama beberapa hari ke depan, karena belum memperlihatkan tanda-tanda akan mereda. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *