Beberapa warga menikmati panorama sunset di Pantai Pererenan, Badung. Liburan di masa pandemi Covid-19, kunjungan di pantai ini didominasi dari wisatawan lokal. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ketua Indonesia Hotel GM Association (IHGMA) Bali, Dr. Yoga Iswara, BBA., BBM., MM., CHA., Sabtu (15/5), mengatakan open border (pembukaan perbatasan) bisa menjadi solusi dengan pendekatan yang sangat selektif. “Bisa dibayangkan bagaimana pelaku pariwisata diharuskan seketika menganggur tanpa gaji dikarenakan hotel atau tempat mereka tutup karena beban operasional yang cukup besar tanpa adanya wisatawan,” katanya.

Ia mengatakan open border adalah real solusi untuk Bali. ‘Adanya tsunami COVID-19 di India, penutupan atau lockdown beberapa negara, seperti Singapura tentunya menjadi pertimbangan semua pihak untuk mengantisipasi terjadinya gelombang tsunami COVID-19 di tanah air, dan ini menyisakan komplikasi krisis yang berkepanjangan dan tidak pasti khususnya bagi Bali,” sebutnya.

Baca juga:  Di Pegubungan, Ratusan Ternak Ayam Mati Diterjang Banjir

Ia menilai dibutuhkan strategi yang tepat dan terukur terkait dengan tahapan open border untuk Bali. Salah satu filter yang perlu disiapkan adalah menciptakan ekosistem open border yang targeted, selected, and safe (sesuai target, terpilih, dan aman).

Seperti memilih yang datang ke Bali adalah traveler yang sudah lengkap divaksinasi, yang sehat dengan PCR negatif, baik di negaranya dan juga saat kedatangan, tidak memiliki riwayat perjalanan di negara zona merah atau berbahaya, memiliki asuransi perjalanan COVID-19, melaksanakan karantina (observation stay) minimal 2 hari, dan yang terpenting adalah tinggal di green zone atau green point serta berwisata sepanjang green belt yang telah menerapkan Verified, Certified dan Vaccinated.

Baca juga:  Pelaku Pariwisata Siapkan Strategi Evakuasi Wisatawan Jika Gunung Agung Erupsi

Dengan adanya filter itu, menurutnya, Bali telah melaksanakan manajemen risiko seminimal mungkin, yaitu menjalankan open border yang terukur dan aman, tidak mengabaikan aspek kesehatan serta tidak juga menargetkan kuantitas wisatawan. Juga, bisa memberikan ruang bernafas untuk ekonomi Bali serta yang terpenting adalah memberikan harapan positif dan menjaga psikologis masyarakat Bali yang telah terdampak pandemi.

“Hal ini perlu kita pikirkan dan lakukan mengingat tekanan eksternal tidak saja berasal dari pandemi namun kondisi dunia lainnya, seperti perang Israel yang sedang memuncak. Tentunya akan memberikan hantaman dalam bentuk lain pada perekonomian dunia yang tentu akan mempengaruhi kita semua yang sedang terpuruk,” bebernya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *