Dua warga negara asing berjalan-jalan di Sanur, Denpasar di tengah pandemi COVID-19. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Peniadaan mudik Lebaran pada 6-17 Mei  dipastikan akan memperparah sektor pariwisata. Namun, Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, M. Setyawan Santoso, Kamis (6/5), mengingatkan agar pelaku usaha jangan patah semangat.

Ia mengatakan dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. 13 tahun 2021 disebutkan bahwa pemerintah melarang seluruh perjalanan lintas provinsi mulai 6 hingga 17 Mei. “Ini artinya, bukan hanya wisatawan mancanegara, wisatawan nusantara pun tak bisa datang ke Bali pada periode ini,” ujarnya.

Maka dari itu, insan pariwisata Bali harus berinovasi dan kreatif. Pria yang akrab disapa Emsan ini pun memberikan strategi usaha wisata yang dapat dilakukan di masa libur Lebaran 2021.

Baca juga:  8 WNI Positif COVID-19 Seluruhnya Warga Lokal Bali

Yaitu, mengundang orang lokal menginap di Bali. Seperti layaknya orang di kota-kota besar, orang Bali juga membutuhkan liburan. Bagi orang Bali, kebutuhan ini dapat diatasi dengan cara staycation yaitu menikmati penginapan atau villa di gunung yang sejuk atau pantai.

Maka, strategi pemasaran penginapan harus diarahkan kepada orang lokal yang dapat dilakukan melalui media online, medsos atau dengan memasang baliho di pusat-pusat keramaian kota.

Penerapan peraturan Menhub 13 tahun 2021 telah mengakibatkan sebagian besar reservasi masa libur Lebaran dibatalkan. Pemilik penginapan dapat mencegah pembatalan menjadi penundaan dengan memberikan special rate atau insentif lainnya, misalnya mengirimkan souvenir khas yang membuat calon wisatawan rindu untuk datang. “Perusahaan pasti suatu saat akan memberikan cuti kepada karyawannya mengingat saat ini cuti lebaran dihapus pemerintah,” ujarnya.

Baca juga:  Demi Bersekolah, Siswa di Siakin Rela Tempuh Jarak 6 Kilo

Insan pariwisata juga diminta menyajikan paket makan di restaurant hotel untuk keluarga atau kelompok terbatas dengan harga diskon. Menurutnya, paket ini dipopulerkan kepada masyarakat sekitar dan dikemas dalam bentuk paket buka puasa, lebaran atau event lainnya.

Hotel dapat mengubah komposisi pendapatan untuk sementara waktu dari semula berorientasi pada pendapatan kamar, kini menjadi orientasi pada restoran. “Masyarakat pasti tertarik karena mereka akan merasa meskipun tidak bisa menginap di hotel, setidaknya mereka bisa makan di restoran hotelnya,” ujarnya.

Baca juga:  Lebih Tinggi dari Liberty di AS, Jokowi Sebut GWK Mahakarya Anak Bangsa

Selain itu, insan pariwisata dapat menyediakan paket hampers yaitu paket bingkisan yang disajikan secara unik dan cantik. Hotel khususnya chain atau international hotel memiliki peluang bagus karena memiliki brand yang menjadi nilai tambah paket tersebut. Paket hampers memiliki prospek cukup bagus karena dapat dikirimkan lintas provinsi.

“Sekarang target tamunya diubah, yang sebelumnya penduduk luar Bali berwisata ke Bali, sekarang berwisata ke daerah masing-masing. Sebaliknya, penduduk Bali yang biasa berwisata ke luar Bali, sekarang berwisata di Bali saja. Masih banyak daerah wisata di Bali yang belum dikunjungi oleh orang Bali sendiri,” bebernya. (Citta Maya/balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *