Anggota Polres Bangli mengibarkan bendera merah putih di puncak Bukit Abang, Kintamani. (BP/Dokumen)

BANGLI, BALIPOST.com – Selain Gunung Batur, Bukit Abang di Kintamani menjadi tempat favorit wisatawan untuk melakukan aktivitas pendakian. Sebelum pandemi COVID-19 melanda, rata-rata aktivitas pendakian di bukit itu mencapai puluhan hingga ratusan orang per hari.

Pihak pengelola wisata pendakian di sana selama ini selalu memberikan pengarahan sejumlah hal yang dilarang atau tidak boleh dilakukan wisatawan di areal Bukit Abang. Hal itu biasanya disampaikan sebelum wisatawan memulai pendakian.

Sebagaimana yang disampaikan Ketua Pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Abang Erawang Nengah Suratnata, Bukit Abang yang banyak didaki wisatawan, merupakan kawasan yang disucikan. Karenanya, pihak pengelola selama ini selalu memberikan pengarahan kepada pengunjung sebelum melakukan aktifitas pendakian di bukit tersebut.

Baca juga:  GWK Bisa Jadi Ikon Baru Pariwisata Bali

Diantaranya tidak membolehkan pendaki membawa minuman beralkohol. Selain itu, pendaki bukan suami istri yang ingin berkemah di bukit Abang, tidak dibolehkan dalam satu tenda. “Hal-hal seperti itu tetap disampaikan pengelola tatkala mereka start untuk melakukan pendakian,” ungkapnya belum lama ini.

Selama ini, pengelola juga akan melarang wisatawan naik ke Bukit Abang tanpa didampingi pemandu. Terutama wisatawan asing.

Sedangkan wisatawan lokal jika sudah pernah teregistrasi mendaki di Bukit Abang dan tahu medan, diperbolehkan naik tanpa pemandu. “Kalau bule harus didampingi pemandu. Tidak boleh tidak,” ungkapnya.

Baca juga:  Membahayakan, Polisi Razia Permen Dot

Disebutkan Suratnata, ada beberapa jalur pendakian ke Bukit Abang. Selain dari jalur yang ada di kawasan Suter, Bukit Abang juga bisa didaki dari Pemuteran Karangasem. Selama ini pihaknya selalu melakukan koordinasi dengan pihak Pemuteran jika ada wisatawan yang mendaki dari sana. “Cuma jarang ada yang naik dari sana,” katanya.

Sejak pandemi COVID-19, wisatawan yang mendaki ke Bukit Abang jumlahnya menurun. Terutama wisatawan asing.

Baca juga:  Anggaran Penanganan COVID-19 Bangli Sisa Rp 10 Miliar, Ini 3 Komponen Penyalurannya

Dalam sebulan, hanya ada 1-2 orang/grup wisatawan asing yang mendaki. Sedangkan wisatawan domestik pada akhir pekan yang mendaki sekitar 5-10 orang. “Tidak banyak. Kalau dulu, bisa ratusan kalau Sabtu-Minggu,” imbuh Suratnata. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *