Petani di Subak Dawan Klungkung saat memanen padinya. (BP/gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com -Di tengah isu impor beras, para petani di Kabupaten Klungkung memasuki jadwal panen raya pada Maret-April ini. Namun, bukannya sumringah menikmati hasilnya, para petani malah mengeluh.

Sebab, harga gabah malah anjlok. Isu impor beras satu juta ton menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, juga karena stok gabah dari para pembeli masih cukup banyak.

Hasil panen padi pada periode ini tergolong cukup berkualitas baik. Hasilnya cukup melimpah. Tetapi, harapan untuk mendapat harga yang lebih wajar malah sebaliknya. Seperti dikatakan salah satu petani di Subak Dawan, Kungkung, Nengah cakra, Jumat (26/3), jika menjual tebasan atau pembeli langsung membeli di lahannya, satu are lahan hanya laku Rp 200 ribu. Jika dibandingkan sebelumnya, bisa mencapai Rp 250 sampai Rp 300 per are.

Cakra mengaku hasil penjualan tebasan itu hanya cukup untuk membiayai pupuk, kemudian biaya produksi atau perawatan selama tiga bulan. Karena semua pembeli mengatakan harga gabah murah dan pemerintah akan membeli beras dari luar negeri yang mengakibatkan petani tidak bisa berbuat banyak dan terpaksa menerima harga murah tersebut. “Sudah murah sekarang, karena semua panen. Murahnya sampai Rp 200 ribu per are. Biasanya Rp 300 ribuan. Paling murah dulu Rp 250 ribu. Kata pembeli karena banyak panen saat ini,” ujar Cakra.

Baca juga:  Masuk Musim Panen Raya, Beras Medium Masih di Atas HET

KUD di Klungkung yang dimanfaatkan pemerintah daerah untuk mengawal inovasi Bima Juara (Beli Mahal Jual Murah), juga tidak bisa berbuat banyak ditengah panen raya. Namun, salah satu koperasi unit desa di wilayah Dawan berupaya membantu petani agar gabah mereka terjual dengan harga stabil. Koperasi ini membeli setidaknya 10 ton per hari gabah petani. Ini kemudian diedarkan kembali ke pasaran dan disebar ke seluruh Bali, bekerjasama dengan perusahaan beras besar.

Baca juga:  Sempat Terjadi Ledakan, Kebakaran 5 Kios Diduga Karena Ini

Pengelola KUD Panca Satya Dawan Nengah Sujana, mengatakan 10 ton gabah petani itu dibeli Rp 3.500 per kg ditingkat petani. Sampai di koperasi menjadi Rp 4.300 karena adanya biaya produksi. Harga itu lebih mahal dari harga eceran gabah tertinggi yakni Rp 4.200. Ini dilakukan agar petani tidak mengalami kerugian besar, jika dijual dengan sistem tebasan atau jual lahan ditempat. Selain itu koperasi juga mengedarkan sebanyak 59 ton beras petani lokal setiap bulannya di Kabupaten Klungkung

“Disamping kita proses sendiri, kami juga punya partner, kirim ke beberapa tempat penggilingan besar yang ada di luar daerah Klungkung. Sehingga hasil petani betul-betul bisa diserap saat ini,” tegasnya.

Baca juga:  Puluhan Pelamar Tenaga Pendamping Desa Tak Lolos Seleksi Administrasi

Kepala Dinas Pertanian Klungkung Ida Bagus Juanida, mengatakan sampai Maret ini, dari sisi ketersediaan tidak ada masalah. Sangat mencukupi. Karena cuaca juga mendukung untuk padi, sehingga produksinya tinggi. Namun, dari harga jual, ia mengakui kalangan petani waswas, karena ketersetiaan banyak, tetapi kebutuhan tetap saja. Ini sudah pasti berpengaruh pada harga. Apalagi sekarang ada isu impor beras yang sangat melukai petani, itu memperparah kondisi petani dimata pembeli gabah, yang menawar dengan harga murah.

Pemerintah pusat diharapkan untuk lebih selektif dalam mengambil kebijakan di tengah panen raya. Padahal, saat panen rayalah petani yang didomonasi masyarakat kecil, bisa memperoleh hasil maksimal. Ia bersyukur masih ada inovasi Bima Juara dalam mencegah harga gabah turun lebih tajam lagi. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *