Suasana seminar, Voice for Change Indonesia Suara untuk Perubahan, yang digelar Yayasan Lentera Anak Bali bersama Kelompok Rare Cegah Eska Bali (Kecak Bali), Sabtu (6/3) dan Minggu (7/3), di Duta Orchid Garden Bali. (BP/edi)

DENPASAR, BALIPOST.com – Yayasan Lentera Anak Bali (LAB) bersama Kelompok Rare Cegah Eska Bali ( Kecak Bali), Sabtu (6/3) dan Minggu (7/3) menggelar kegiatan seminar Eska (eksploitasi seksual komersial anak). Bertempat di Duta Orchid Garden Bali, seminar Voice for Change Indonesia Suara untuk Perubahan, dari anak untuk anak, dari anak untuk masyarakat, dari anak untuk pemerintah ini selain diikuti peserta terbatas, juga digelar dengan menerapkan protokol kesehatan.

Ketua Yayasan Lentera Anak Bali, Dr. dr. A.A. Sri Wahyuni, SpKJ., mengatakan, seminar kali ini menggandeng sekaa teruna teruni (STT) di Desa Adat Panjer. Pihaknya mengajak generasi muda Panjer agar tahu bagaimana menolong teman ketika berhadapan dengan kasus korban eksploitasi seksual anak ataupun korban kekerasan anak.

Oleh karenanya, penting bagi generasi muda untuk belajar dan memahami apa itu Eska. “Nantinya STT ini bisa ikut menyuarakan terkait permasalahan anak terutama terkait Eska. Kegiatan ini digelar selama 2 hari untuk menyamakan persepsi apa yang harus dilakukan kedepan untuk melakukan perubahan terkait hak anak. Melalui kegiatan ini, kami berharap ini bisa bermanfaat untuk rekan-rekan dari STT terutama untuk menyuarakan permasalahan Eska,” ucapnya.

Baca juga:  Kebutuhan Minyak Curah Bali Capai 3000 Ton Per Bulan

Sementara, Pengurus Lentera Anak Bali, Luh Putu Anggreni SH., menyampaikan, melalui pelatihan mengenai isu hak anak ini, pihaknya ingin mengenalkan apa itu Eska dan apa dampaknya serta apa yang harus diperjuangkan dan dikampanyekan. Sehingga kedepan mereka ikut mencegah, jangan sampai anak-anak menjadi korban Eska ini.

Seperti pelacuran anak, pornografi anak prostitusi anak perdagangan anak. “Eska ini harus kita sosialisasikan, agar jangan anak-anak yang seharusnya bermain, mempunyai hak pendidikan, kesehatan, tetapi malah dimanfaatkan untuk dijual bahkan prostitusi anak. Apalagi saat ini prostitusi anak juga marak. Dengan semakin banyak gerakan seperti ini, diharapkan semakin banyak juga yang peduli terhadap Eska ini,” harapnya.

Baca juga:  Resmikan GWK, Presiden Tiba di Bali

Untuk itu lanjut dia, suara dari Kecak Bali ini kedepannya diharapkan bisa masuk langsung ke desa, terutama desa Adat. Seperti Desa adat yang saat ini dipilih, yakni Desa Adat Panjer, yang saat ini sudah memiliki perarem perlindungan anak.

Meski demikian, melalui gerakan ini, pihaknya ingin memperkuat perarem ini. Tidak hanya untuk anak yang sedang berkonflik, namun anak yang rentan terhadap Eska. “Untuk itu kamu mengajak STT di Desa adat Panjer untuk ikut menyuarakan Eska,” ajaknya.

Sementara, Bandesa Adat Panjer, AA. Ketut Oka Adnyana, menyampaikan terima kasih atas sosialisasi terkait hak anak, khususnya di Desa Adat Panjer dan Kelurahan Panjer. Dalam konteks perubahan diakuinya saat ini yang paling penting adalah memberikan pemahaman kepada anak-anak agar tidak hanya bergelut pada teknologi saja. “Pada prinsipnya, kami sangat berterima kasih atas kerjasama yang dilakukan dengan desa Adat Panjer ini. Sehingga, terkait hak dan kewajiban anak, bisa diberikan penguatan-penguatan supaya anak-anak merasa terlindungi,” katanya.

Baca juga:  Turun dari Sehari Sebelumnya, Tambahan Harian COVID-19 Bali di Bawah 170 Orang

Hal senada disampaikan Manggala Paiketan Krama Istri (Pakis) Desa Adat Panjer, Ida Ayu Sinaryati. Berkaitan dengan Eska ini, pihaknya merasa sangat antusias dan bahagia karena masalah perempuan dan anak ini betul betul diperhatikan. “Gerakan ini sangat penting. Kami sangat berterimakasih karena bisa menggerakkan generasi muda untuk semakin peduli terhadap kasus yang terjadi di usia dini,” ucapnya. (Yudi Karnaedi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.