Regional CEO Bank Mandiri Bali Nusa Tenggara, Herinaldi. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Memasuki bulan ke-8 pandemi Covid-19, perbankan di Bali telah berupaya turut memulihkan perekonomian, salah satu caranya dengan menyalurkan kredit. Bank Mandiri Regional Bali Nusra telah menyalurkan kredit dari penempatan dana pemerintah yang merupakan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp 913 miliar.

Regional CEO Bank Mandiri Bali Nusra Herinaldi, Senin (12/10) saat wawancara dalam program Bali Post Talk menyampaikan, Bank Mandiri secara nasional diberikan porsi penempatan dana tahap I sebesar Rp 10 triliun. Namun leverage penyaluran kreditnya tiga kali lipat sehingga totalnya Rp 30 triliun.

Baca juga:  Tagline Prokes, ‘’Mandiri Cuma Satu"

Sementara untuk regional Bali Nusra diberikan target Rp 782 miliar sampai September 2020. Namun, kredit yang telah disalurkan telah mencapai Rp 913 miliar. Dengan demikian telah melebihi target 117 persen dari target. ‘’Menjalankan program PEN sedang menjadi fokus kita. Kredit tumbuh dan selektif. Kita juga harus berpikir efisien, dan digitalisasi,’’ ungkapnya.

Keseluruhan kredit tersebut disalurkan ke segmen UMKM, baik KUR maupun non-KUR. Respons UMKM pun antusias menyambut kredit, terbukti dari tercapainya penyaluran kredit melebihi target. ‘’Dari target Rp 700-an miliar, kita bisa mencapai Rp 900-an miliar dan itu pun permintaannya masih ada,’’ tandasnya.

Baca juga:  Gempa, Siswa SDN 6 Karangasem Dipulangkan Lebih Awal

Sampai Juni 2020, kredit Bank Mandiri mampu tumbuh 5,6 persen (yoy) dan diyakini sampai September 2020 tumbuh. Pertumbuhan kredit memang menjadi tujuan dari program PEN agar sektor riil tetap bisa berjalan. Pengajuan kredit pun harus memenuhi persyaratan kredit seperti biasanya. Dengan adanya SLIK dari OJK, akan mengetahui histori kredit dari calon debitur, sehingga kredit macet dapat diantisipasi.

Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 4 persen (yoy) dan secara nasional DPK tumbuh di atas 15 persen. Diakui, dengan adanya pandemi Covid-19, yang paling dirasakan berat oleh perbankan adalah penghimpunan DPK. “Karena biasanya pada saat kondisi normal, hotel dan restoran serta pekerja pariwisata beraktivitas seperti biasa, sehingga ada dana masuknya banyak karena aktivitas pariwisata berjalan normal. Gaji masuk, devisa yang dibawa wisatawan mancanegara juga banyak,” imbuhnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.