Mario Blanco. (BP/Istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Museum adalah salah satu objek wisata populer di Bali. Namun sejak pandemi, banyak museum yang tutup karena tidak ada pengunjung.

Pemilik Museum Blanco Renaissance Ubud, Mario Blanco, mengatakan sudah mulai tutup sejak pandemi. Namun, perawatan gedung serta kebun yang mengelilingi museum tetap dirawat setiap harinya.

Hal tersebut adalah bentuk antisipasi untuk membuka museum di saat-saat tertentu, sehingga selalu siap. “Jauh sebelum pandemi COVID-19, Indonesia sedang gencar menggalakkan desa wisata di sektor pariwisata. Saat itu museum sudah mengalami penurunan pengunjung. Sampai akhirnya pandemi, pengunjung menjadi nol. Untuk itu, kita tutup museum tetapi sewaktu-waktu kita selalu siap buka,’’ ujar Mario saat wawancara khusus Bali Post Talk serangkaian HUT ke-72 Bali Post, Gerakan Satu Juta Krama Bali Mewujudkan Bali Era Baru, belum lama ini.

Baca juga:  Kasus Pidana Perbankan, Teller Mohon Dibebaskan dari Segala Tuntutan Hukum

Terdapat beberapa pegawai yang tetap standby di museum untuk merawat kebun, burung, dan gedung-gedung yang berisi lukisan. Karena udara di Ubud tergolong lembab, harus terkontrol perawatan gedungnya.

Dengan luas kurang lebih dua hektare, biaya operasional tetap berjalan selama pandemi. Hasil karya yang dipajang adalah kombinasi antara lukisan karya ayahnya, Antonio Blanco, yang memiliki gaya Impresionis Romantic dan hasil karya Mario Blanco berupa alat-alat yang digunakan oleh orang Bali dalam menjalankan proses persembahyangan.

Baca juga:  Sepanjang Pantai Gianyar Dipadati Pengunjung, BPBD Siapkan Pos Penjagaan

Didukung pula dengan filosofinya tersendiri saat manusia berkoneksi dengan Tuhan. Tempat untuk memajang masing-masing lukisan juga berbeda, sehingga pengunjung dapat merasakan ciri khas dari setiap karya. “Hal lain yang mendukung keindahan museum ini adalah kebunnya yang luas. Untuk menambah warna, saya memelihara burung. Diawali dengan 3 burung jalak Bali, sampai sekarang terdapat kurang lebih dikembangbiakkan 350 ekor. Jenisnya pun mulai beragam, seperti Bayan, Langkok, Kakaktua Raja Hitam, Nuri dan lain-lain,’’ ujarnya.

Baca juga:  DKPKP Gianyar Bantu Petani Pasarkan Ikan di CFD

Museum yang sudah dikenal sejak lama dan memperoleh banyak penghargaan ini, juga mengikuti ketat penerapan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Mulai dari fasilitas untuk mencuci tangan, penyediaan hand sanitizer, wajib menggunakan masker dan selalu jaga jarak. (Gita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.