Ilustrasi. (BP/tomik)

DENPASAR, BALIPOST.com – Peningkatan transmisi lokal COVID–19 sejak awal September sampai saat ini sangat mengkhawatirkan. Bahkan angka kematiannya dari awal hingga pertengahan September ini mengalami peningkatan signifikan.

Menurut Ahli Virologi Universitas Udayana Bali Prof. I Gusti Ngurah Kade Mahardika dari pertambahan jumlah kasus yang terjadi sejak awal September dan tingkat kematiannya sudah melebihi jumlah kematian pada tiga bulan terakhir. Dari data yang dirilis Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, jumlah positif COVID-19 yang meninggal pada Maret sebanyak 2 orang, sedangkan April 2 orang, dan Mei nihil.

Kemudian di Juni terdapat penambahan 10 orang, Juli sebanyak 34 orang, Agustus mencapai 20 orang dan minggu pertama September sebanyak 30 orang. Kemudian di minggu kedua September, jumlahnya mencapai 76 orang.

Baca juga:  Jelang Pertemuan IMF-WB, Ketapang dan Bandara Diperketat

Ia mengatakan hal ini merupakan suatu pertanda. “Itu pertanda aktivitas virus Corona sangat tinggi. Dari sekian faktor yang memengaruhi, satu hal yang perlu sangat diperhatikan untuk menyambut hari raya Galungan adalah dengan menghindari kerumunan,’’ ujar Prof. Mahardika saat wawancara khusus Bali Post Talk serangkaian HUT ke-72 Bali Post, Gerakan Satu Juta Umat Krama Bali Mewujudkan Bali Era Baru, belum lama ini.

Masyarakat Bali yang sebentar lagi merayakan hari raya Galungan diimbau Mahardika untuk menerapkan protokol kesehatan, terutama hindari kerumunan. Ia juga menegaskan tindakan aman COVID-19 untuk mencegah klaster hari raya Galungan harus diperketat.

Pemerintah dan masyarakat perlu bersinergi untuk tidak menyepelekan pandemi ini. Dalam perayaan kemenangan dharma melawan adharma ini, masyarakat perlu menyiasati segala prosesnya tidak bisa disamakan seperti hari raya seperti sebelum–sebelumnya.

Baca juga:  Putus Penyebaran COVID-19 di Pasar Tradisional, Pedagang Luar Denpasar Wajib Penuhi Syarat Ini

Ada aturan yang harus dipatuhi. Peran masing–masing desa adat sangat dibutuhkan untuk mengontrol tatanan upacara yang akan berlangsung. Seperti memberikan arahan untuk cukup melakukan persembahyangan di rumah saja. Dan adanya kontrol sesi waktu bagi masyarakat yang hendak melakukan persembahyangan ke Pura Khayangan Tiga dan yang lainnya.

‘’Kalau Majelis Desa Adat (MDA) bisa mengoptimalkan perannya dalam hal ini, pasti akan sangat luar biasa. Saya bicara bukan sebagai ahli agama ataupun adat. Saya bicara sebagai ahli virus, tindakan aman cegah COVID-19 untuk meminimalisir kemungkinan klaster hari raya Galungan adalah dengan cara menghindari kerumunan. Konsepnya Galungan yang sebenarnya adalah merayakan kemenangan dharma dengan cara bersyukur, bukan berkerumun,” imbuhnya.

Baca juga:  Pungutan PBB-P2 Memberatkan, Perangkat Desa Mengadu ke DPRD Buleleng

Antisipasi dini juga harus dilakukan dengan cara menyiapkan dengan matang kapasitas rumah sakit untuk menampung pasien COVID–19. Hal ini dilakukan untuk menghindari kekurangan tempat karena pasien overload. “Pandemi memiliki konsep yang banyak orang tidak tahu. Orang yang terinfeksi kemungkinan jauh lebih banyak dari data yang didapatkan,” ujarnya.

Ia mengatakan spesialnya virus ini terletak di sana, dengan adanya orang tanpa gejala (OTG) membuat masyarakat terkecoh. “Jika memang harus, setelah data menunjukkan peningkatan setiap harinya, keputusan lockdown harus dipertimbangkan. Sejauh ini itu adalah salah satu cara efektif untuk menepis penularan virus. Dan dibuka lagi saat kondisi sudah mulai aman,’’ tutupnya. (Gita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.