Bambang Pranoto. (BP/nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Bermula dari upaya menemukan obat bagi kesembuhan dari kelumpuhannya, Bambang Pranoto, owner minyak Kutus-Kutus menjadi bagian penggerak ekonomi. Dalam penjualan produk ini, pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini memiliki konsep tidak hanya menyembuhkan tetapi juga menumbuhkan perekonomian.

Terbukti hingga kini reseller produk ini mencapai 50 ribu orang se-Indonesia. “Jadi konsep kami tidak hanya menyembuhkan penyakit tetapi juga menumbuhkan ekonomi, supaya ibu-ibu yang menjadi reseller kami itu sejahtera. Penjual kami dominan adalah ibu-ibu yang tinggal di rumah, yang tidak bisa meninggalkan rumah karena ada anak kecil. Itu yang kita fokuskan, dan sekarang ibu-ibu itu ada yang berpenghasilan bisa rata-rata 25 juta bersih per bulan,’’ ungkap Bambang Pranoto dalam wawancara, Senin (24/8).

Baca juga:  Diusulkan, Pelabuhan Ikan Benoa Dipindah ke Pengambengan

Dikatakannya, hal ini menjadi upaya penting, sebab dari keluarga yang sejahtera bisa menciptakan generasi berkualitas. Tidak hanya itu dalam memenuhi kebutuhan bahan baku minyak Kutus-Kutus, ia mengambil bahan di pasar-pasar tradisional. “Kita tetap beli bahan baku itu di pasar tidak di suplayer, walaupun sebenarnya kalau kami beli di suplayer bisa lebih murah dan kualitas lebih terjaga, tetapi ini tujuanya menghidupkan perekonomian. Bagi saya sebuah brand kalau hanya menghidupkan brand itu sendiri itu tidak bisa. Kita harus sama-sama berhasil, kita berhasil masyarakat juga berhasil, karena barang kita juga dibeli masyarakat,” jabarnya.

Baca juga:  Minimalisir Penyebaran COVID-19, PUTRI Dukung Penutupan Obyek Wisata di Bali

Tidak hanya itu, para tenaga kerja pabriknya yang ada di Desa Babakan Kecamatan Gianyar itu dominan diisi oleh warga desa setempat. Pria berjanggut ini menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat lokal juga menjadi hal penting. “Pekerja kita pun kebanyakan masyarakat kita sendiri. Jadi mereka ke pabrik jalan kaki, bahkan kita menggaji mereka dua kali UMR,” katanya.

Disinggung terkait dampak pandemi Covid-19, Bambang Pranoto mengaku pandemi ini memberi dampak signifikan terhadap penurunan produksi minyak Kutus-Kutus. Ia pun melakukan perbandingan pada 2019 pabriknya memproduksi 4,7 juta botol. “Semetara hingga kini kami baru memproduksi 2 juta botol, memang agak menurun, ini karena kondisi ekonomi akibat pandemi,” katanya.

Baca juga:  Kawasan Eks Galian C Masuk “Zona Merah”

Bambang Pranoto menuturkan bahwa nama Kutus-Kutus, memiliki arti 88 yang filosofi berkelanjutan. Hal ini ia artikan sebagai pentingnya kelancaran energi dalam tubuh manusia.

Dikatakan, minyak Kutus-Kutus dapat membantu melancarkan energi, sehingga dapat membuat tubuh menyembuhkan dirinya sendiri dari berbagai penyakit yang ada. “Orang sehat menurut kebudayaan kita bukan karena sakit, tetapi akrena energinya tidak lancar. Sakit itu informasi yang dikirim ke otak bahwa energi kita tidak lancar. Jadi konsep kita, kita beda dengan obat lain, kalau obat lain itu menyembuhkan penyakit, kalau kita melancarkan energi,” katanya. (Manik Astajaya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.