Menteri PUPR Basuki Hadimuljono didampingi Gubernur Bali, Wayan Koster meninjau Stadion I Wayan Dipta, Gianyar. (BP/rin)

DENPASAR, BALIPOST.com – Indonesia menawarkan diri menjadi tuan rumah (bidding) pada Piala Dunia (PD) U-20, sejak Agustus 2019. Negara yang juga mengajukan bidding, seperti Timur Tengah, Eropa, sampai dua negara Amerika Latin yang prestasi sepak bolanya sudah mendunia, yakni Peru dan Brazil.

Kendati demikian, Indonesia tak gentar menghadapi negara-negara besar, yang terkenal dengan prestasi sepak bolanya. Negara-negara yang mengajukan diri menjadi tuan rumah, melakukan presentasi di Beijing, Tiongkok.

Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) memutuskan Indonesia menjadi tuan rumah, pada Oktober 2019. Tak bisa dimungkiri, pengajuan Indonesia menjadi tuan rumah, tak luput dari peran Bali yang sudah mendunia sebagai salah satu destinasi favorit.

Hal itu masih ditopang Pulau Dewata yang memiliki venue megah, yakni Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar. “Berkat taksu Bali inilah FIFA mengetuk palu, seraya memutuskan Indonesia menjadi tuan rumah PD U-20,” kata Ketua Umum Asprov PSSI Bali, Ketut Suardana.

Event Piala Dunia U-20 ini selain diadakan di Pulau Seribu Pura, juga memanfaatkan stadion di Surabaya, Jakarta, Solo, Bandung, dan Palembang.

Baca juga:  Tiba di RSUP Sanglah, Begini Penanganan WN Jepang Diduga Terpapar Corona

Di mata Suardana, gaung World Cup U-20 ini diharapkan mampu mengalirkan dolar untuk masuk ke Bali lagi. Apalagi, di saat pandemi COVID-19, Bali yang mengandalkan sektor pariwisata, perekonomiannya morat-marit. “Kami harapkan penyelenggaraan PD U-20 ini mampu menggeliatkan sektor pariwisata yang mati suri,” ucap pengusaha pariwisata asal Ubud ini.

Dongkrak Roda Perekonomian

Suardana yang memiliki usaha penginapan, restoran, serta galeri seni ini mennilai, PD U-20 mampu mendongkrak roda perekonomian hingga kembali bergairah. Misalnya, kedatangan penonton, baik domestik maupun mancanegara. Mereka dipastikan menginap di hotel, serta menyantap makanan di restoran. “Saya kira mulai kedatangan mereka saja Bandara sudah marak, termasuk transportasi lokal,” ujar dia.

Suardana juga berobsesi, Bali bisa dipakai untuk tim-tim Eropa berlatih tanding, di saat libur kompetisi. Karena itu, pihaknya mendukung sport tourism, sehingga Bali makin dikenal bukan bertumpu pada sektor pariwisata, tetapi sepak bola juga ikut memberikan kontribusi.

Baca juga:  Kasus Harian Capai 6 Ribu Orang, Inggris Bersiap Hadapi Gelombang Kedua COVID-19

Suardana juga bertekad, penyelenggaraan event sepak bola mampu menggelindingkan roda perekonomian rakyat. Terbukti tiap kali penyelenggaraan kompetisi nasional, khususnya Bali United bertanding di Liga 1, jumlah pedagang acung dan asongan senantiasa dicatat.

“Jadi, kami juga ingin seberapa jauh penyelenggaraan event sepak bola ini berimbas pada perekonomian rakyat,” katanya.

Ia pun berharap, virus corona secepatnya lenyap, hingga perekonomian pulih dan kompetisi sepak bola bisa bergulir normal.

Sementara, Sekum Asprov PSSI Bali, Dewa Made Teges Wirawan menuturkan, persaingan Indonesia menjadi tuan rumah PD U-20 sangat berat. Apalagi, negara pesaing tuan rumah Peru dan Brazil, yang tersohor prestasi sepak bolanya se-antero jagat raya ini.

Bali sendiri diminta PSSI Pusat untuk menyiapkan infrastruktur terkait penyelenggaraan Piala Dunia U-20. Diputuskan Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar sebagai venue utama, ditopang empat lapangan pendukung yakni Stadion Ngurah Rai dan Kompyang Sujana (Denpasar), serta Lapangan Tri Cakti Legian dan Samudra Kuta (Badung). “Kami patut mensyukuri, Indonesia menjadi tuan rumah PD U-20, sekarang tinggal menyiapkan sarana dan fasilitas sepak bola,” ungkapnya.

Baca juga:  87 Warga Binaan LP Singaraja Dapatkan Remisi  

Stadion Dipta berikut empat lapangan pendamping, telah di verifikasi oleh PSSI Pusat. Selanjutnya, kondisi nyata lapangan akan ditembuskan ke FIFA.

Induk organisasi sepak bola di Bali ini, diminta secara teknis untuk melengkapi sarana dan fasilitas olahraga, yang difungsikan selama putaran Piala Dunia U-20. Dewa Teges pun berharap, penyelenggaraan event terakbar sejagat ini mampu menggairahkan perekonomian Bali, mulai penerbangan, akomodasi, konsumsi, sampai transportasi lokal.

Dewa Teges juga sosok pengusaha di sektor pariwisata. Ia pun merasakan pahit getirnya perekonomian saat disambar virus corona.

Pengusaha pertunjukan seni wisata di Batubulan ini juga mengeluh, ketika terjangkit virus corona, hingga tidak bisa mengais rezeki. “Usaha kami pertunjukan seni bagi wisatawan di Batubulan sudah lima bulan tidak pentas selama pandemi COVID-19 ini,” keluhnya. (Daniel Fajry/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.