Suasana perayaan HUT Smansa Denpasar, Sabtu (8/8). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – SMAN 1 Denpasar alias Smansa, Sabtu (8/8 ) genap berusia 60 tahun. Momentum HUT tak mau dilewati tanpa makna.

Itulah sebabnya puncak HUT dilakukan sangat sederhana sebagai bentuk keprihatinan warga Smansa di pandemi COVID-19. Puncak HUT hanya dihadiri perwakilan OSIS dan guru dengan protokol kesehatan yang ketat.

Puncak HUT ditandai dengan potong tumpeng oleh Kepala SMAN 1 Denpasar, M.Rida M.Pd., dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata kepada dua gurunya yang memasuki purnabhakti. Acara seremonial HUT baru di-share ke siswa usai PBM daring.

Baca juga:  Kunjungi Smansa, Ini yang Dilakukan Putra Bungsu Jokowi

Kasek M. Rida menegaskan di usia 60 tahun, Smansa tetap tampil berkualitas dan berprestasi. Ini dibuktikan sekalipun di masa pandemi COVID-19 siwanya terus mencetak prestasi lewat lomba virtual.

Yang teranyar enam siswanya menjadi duta Kota Denpasar dalam Olimpiade Sain Provinsi (OSP) 2020 dan berpeluang menjadi duta Bali di OSP tingkat nasional. Makanya tema HUT kali ini dipilih ‘’Smansa tetap berprestasi’.”

M. Rida sempat dipuji Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra karena sukses menggelar PPDB dan MPLS secara kondusif. Dia menegaskan momentum HUT ke- 60 dipakai untuk meningkatkan kualitas guru.

Baca juga:  Pemkot Diminta Turun Tangan Atasi Kisruh Rencana Pembukaan Kanal

Mereka adalah kunci PBM dan pendidikan berkualitas. Fungsi dan peran Guru menurut suami tercinta dari Kadek Dewi Marlini, S.Pd.,M.Pd., ini tak bisa digantikan oleh teknologi dan robot. Makanya ia berharap pemerintah terus mengangkat guru ASN dengan memprioritaskan pengangkatan guru kontrak yang selama ini digaji lewat dana komite.

Selain bisa mengefisienkan dana BOS, pengangkatan guru baru juga penting untuk mengisi kekurangan guru di sekolah. “Smansa saja kekurangan 28 guru lagi, sementara guru ASN sudah bekerja maksimal 40 jam/minggu,” tegasnya.

Baca juga:  Sejumlah PKL Resah, Rombongnya Dilempari Batu

Pada bagian lain dia mengakui Smansa sedang menunggu kurikulum darurat Covid-19 dari Mendikbud Nadiem Makarim. Kurikulum ini bisa dijadikan pedoman oleh guru dalam penuntasan materi dan sistem evaluasisekalipun kurikulum ini boleh dipakai atau tidak oleh sekolah. Minimal, kata dia, gurunya memiliki pedoman yang benar namun tetap disesuaikan dengan kondisi sekolah. ‘’Kami menunggu kurikulum darurat, lebih cepat lebih baik,’’ tegasnya. (Sueca/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.