Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson. (BP/AFP)

LONDON, BALIPOST.com – Gelombang kedua COVID-19 di Inggris pada musim dingin ini diperkirakan bisa menyebabkan 120 ribu kematian di rumah sakit. Demikian peringatan yang dilontarkan ilmuwan pada Selasa (14/7), dikutip dari AFP.

Peringatan ini merupakan skenario terburuk yang paling masuk akal dirilis oleh Academy of Medical Sciences. Kepala Penasehat Keilmuwan Inggris, Patrick Vallance, meminta pemerintah segera melakukan upaya untuk memitigasi gelombang kedua ini.

Dengan adanya kasus-kasus flu musiman, gelombang kedua ini bisa berdampak lebih parah dibandingkan wabah yang pertama. Diestimasikan terjadi kasus meninggal sebanyak 120 ribu orang antara September hingga Juni tahun depan.

Model yang digunakan ini tidak memasukkan jumlah kematian di panti dan komunitas lainnya. Juga diasumsikan tidak ada tindakan pemerintah untuk mencegah kemunculan kasus-kasus baru.

Baca juga:  Pencairan Insentif Nakes dari APBD Tinggal Menghitung Hari

Inggris sejauh ini mengalami 45 ribu kematian pada gelombang pertama. Jumlah kematian tertinggi di Eropa dan ketiga dunia, setelah Amerika Serikat dan Brasil.

Perkiraan terbaru ini didasari asumsi bahwa R0 (r naught) yang digunakan untuk mengukur jumlah orang yang terifeksi oleh orang yang sudah terkonfirmasi positif, naik menjadi 1,7 dari September.

Para ilmuwan juga menggunakan model dengan R0 sebesar 1,5, yang hasilnya bisa menyebabkan 74.800 kematian.

Saat ini, R0 di Inggris antara 0,7 hingga 0,9, sesuai dengan data yang dipublikasi pemerintah Inggris pada Jumat (10/7).

Ketua dari penelitian yang dilakukan Academy of Medical Sciences, Stephen Holgate, mengatakan jumlah 120 ribu kematian bukan prediksi namun sebuah kemungkinan.

Baca juga:  Masih Tetap Beroperasi dan Ramai Dikunjungi, Rapid Test Digelar di Mal

“Model ini memperlihatkan adanya kemungkinan kematian yang lebih tinggi karena adanya gelombang baru COVID-19 di musim dingin ini. Namun, risiko ini bisa diminimalkan jika kita mengambil tindakan secepatnya,” ujarnya.

Kelompok yang membuat laporan ini terdiri dari 37 ilmuwan yang menyatakan pemerintah perlu melakukan persiapan segera karena risiko serius bagi bidang kesehatan dengan kemungkinan melonjaknya kasus.

“Wabah yang terjadi di musim dingin bisa menjadi lebih buruk karena orang-orang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruang sehingga virus bisa menyebar lebih muda,” tambah Azra Ghani dari Imperial College London.

Studi ini meminta agar dilakukan persiapan lebih intens bulan ini dan bulan depan untuk mencegah Layanan Kesehatan Nasional (National Health Service –NHS) kewalahan. Termasuk, meminimalkan transmisi komunitas, kampanye informasi publik, dan memastikan adanya alat perlindungan diri yang cukup bagi petugas medis dan layanan sosial.

Baca juga:  4 Pasien COVID -19 di Denpasar Sembuh

Upaya pemerintah untuk melakukan tes, penelusuran, dan isolasi perlu lebih ditingkatkan, termasuk mengawasi dan memastikan individu yang berisiko, petugas kesehatan, dan pekerja layanan sosial mendapatkan suntikan antiflu.

Pemerintah yang dipimpin Perdana Menteri Boris Johnson dikritik karena dinilai terlalu longgar dalam merespons wabah. Kritik menyebut bahwa karantina nasional harus dilakukan lebih awal dan penelusuran kontak harus terus dilakukan.

Johnson pada Jumat menyatakan ia lebih memilih untuk melokalisasi wabah dibandingkan kembali melakukan karantina seluruh Inggris. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.