Kadek Suartaya. (BP/Istimewa)

Oleh: Kadek Suartaya

Pada saat pandemi Covid-19 masih menghantui, sejumlah Pura Dalem di Bali menggelar odalan, seperti Pura Dalem Sukawati, Gianyar, Pura Dalem Bubunan, Buleleng, Pura Dalem Tapuagan, Bangli, dan lain-lainnya. Salah satu pura kahyangan tiga yang umumnya ada di setiap desa adat ini, lazim mengusung penuh takzim benda sakral berupa Rangda.

Rangda yang dikeramatkan ini biasanya ditampilkan di hadapan komunitasnya dalam sebuah pementasan dramatari Calonarang pada puncak prosesi ritual yang berlangsung di halaman luar pura. Akan tetapi di tengah merebaknya wabah virus Corana sekarang ini, pementasan drama of magic khas Bali tersebut tidak tampak hadir unjuk keseraman karena aturan social distancing.

Teater Calonarang merupakan seni pertunjukan Bali yang sejak dulu hingga sekarang menjadi seni pentas yang senantiasa mengundang banyak minat masyarakat penonton. Daya tarik dari kesenian yang diduga sudah muncul di Bali pada tahun 1825 ini adalah unsur sihirnya. Suasana seram menyembul dalam ungkapan estetik tari maupun dipamerkan secara gamblang pada adegan-adegan tertentu.

Adegan mengerikan yang sering membuat penonton bergidik adalah saat munculnya mayat-mayatan yang dimandikan, madusang-dusangan, persis memperlakukan orang mati sesungguhnya di tengah masyarakat Bali. Namun, gedoran rasa takut itu justru menjadikan masyarakat penonton kian kepincut memburu, menyaksikan pagelaran teater Calonarang.

Sebagai teater yang elemennya memadukan tari Topeng, Gambuh, Arja dan Palegongan, pementasan Calonarang dimaknai sebagai seni pertunjukan tolak bala. Fungsinya sebagai ritus penghalau wabah penyakit ini, tampak secara eksplisit pada pesan moral dari cerita yang dibawakan. Dramatari ini berbingkai hitam putih, kisah kejahatan versus kebenaran.

Ni Calonarang, janda penganut ilmu hitam dari Desa Girah atau Dirah, adalah pihak antagonis yang menebar wabah penyakit, yang pada akhirnya dapat ditaklukkan oleh protagonis pengawal dharma yang dalam karya sastra Calon Arang dipresentasikan pada tokoh penganut spiritual mumpuni, Empu Bharadah, penasihat utama Raja Airlangga.

Dramatari Calonarang disajikan para seniman dan seniwati Bali dalam beberapa lakon. Lakon yang umum disimak penonton, di antaranya ‘’Katundung Ratna Mangali’’ dan ‘’Ngeseng Waringin’’. ‘’Katundung Ratna Mangali’’ mengisahkan diusirnya Ratna Mangali dari istana sebagai istri Raja Airlangga karena dituduh menganut black magic seperti ibunya, Ni Calonarang.

Sedangkan lakon ‘’Ngeseng Waringin’’ bertutur pertempuran sengit Ni Calonarang melawan Mpu Bharadah lewat adu kesaktian membakar beringin. Selain mengangkat lakon dengan sastra sumber, teater Calonarang juga tak jarang menampilkan tema teluh yang dicukil dari babad seperti kisah ‘’Balian Batur’’ atau cerita rakyat ‘’Dayu Datu’’ dan ‘’Basur’’.

Karya sastra dari sumber cerita seni pertunjukan Calonarang ini diduga muncul pada abad XI, zaman Kerajaan Airlangga di Jawa Timur, sekitar tahun 1006-1042 Masehi. Menariknya, naskah lontar dengan bahasa Jawa Kuno ini menjadi catatan tertua di Indonesia yang mengisahkan tentang terjadinya suatu wabah penyakit. Siapa gerangan pujangga yang menulis karya sastra menggunakan aksara Bali Kuno ini tak diketahui.

Naskah Calon Arang, pada tahun 1926, pernah diterbitkan dan diterjemahkan dalam bahasa Belanda oleh Poerbatjaraka dengan tajuk ‘’De Calon Arang’’, kemudian oleh Soewito Santoso diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘’Calon Arang Si Janda Dari Girah’’, diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1975. Kini naskah asli Calon Arang masih tersimpan pada sebuah perpustakaan di Leiden, Belanda.

Dalam transformasinya sebagai seni pertunjukan Bali, di samping tetap mengacu kepada sastra sumbernya, terjadi pengembangan dan penyimpangan. Misalnya muncul tokoh penting yang disebut Rangda yang merupakan siluman Calonarang dalam wujud menakutkan. Padahal yang dimaksud rangda dalam sastra sumber adalah janda-Ni Calonarang adalah seorang janda sakti dari Dirah.

Memang, sudah lazim dalam konsep kreativitas seniman Bali yang menjadikan sastra sumber sebagai bingkai intrinsik saja. Pengejawantahan estetik dan artistiknya dicangkokkan dengan pola-pola, idiom-idiom, atau kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam seni pertunjukan tradisional Bali. Namun dalam teater Calonarang, yang selalu bahkan harus ditonjolkan, adalah subtema sihirnya yang di tengah masyarakat Bali disebut leak.

Sementara itu, kajian ilmiah menyangkut teater Calonarang cukup banyak, baik hasil penelitian para sarjana asing maupun Indonesia sendiri. Beryl de Zoete & Walter Spies dalam bukunya ‘’Dance and Drama in Bali’’ (1931), Urs Ramseyer dalam ‘’The Art and Culture of Bali’’ (1977), Soedarsono dalam ‘’Jawa dan Bali, Dua Pusat Perkembangan Drama Tari Tradisional di Indonesia’’ (1972), I Made Bandem & Fredrik deBoer dengan ‘’Kaja and Kelod Balinese Dance in Transition’’ (1981), dan lain-lainnya mengupas dan menempatkan dramatari Calonarang sebagai seni pertunjukan Bali yang khusus mementaskan lakon ilmu hitam.

Seorang dramawan terkemuka Prancis, Antonin Artaud, yang sempat terpesona menyaksikan pementasan Calonarang yang ditampilkan oleh sebuah tim kesenian Bali di negerinya dalam arena Paris Colonial Exhibition pada tahun 1931, dalam karya-karya teaternya seperti ‘’No More Master Sieces’’ dan ‘’The Theatre and Plague’’, dikenal kental bernuansa dramatari Calonarang. Di dalam negeri, seorang koreografer terkenal Indonesia, Sardono W. Kusumo, juga pernah menggarap drama tari Calonarang dengan tajuk ‘’Dongeng dari Dirah’’.

Nah, di Pulau Bali inilah, sejak lampau hingga kini, kisah Calonarang membumi, hidup dan berkembang sebagai ekspresi estetik serta disangga oleh psiko-relegi berbalur mistis dan berakar mitologis. Pementasan Calonarang yang berkaitan dengan ritual di Pura Dalem merupakan suatu persembahan kepada Dewa Siwa sebagai pendaur ulang yang melebur segala sesuatu, didampingi saktinya, Dewi Uma, dalam wujud Durga. Rangda yang disakralkan di Pura Dalem merupakan wujud simbolik dari Dewa Siwa atau Dewi Durga yang penuh kasih mengayomi dan sebaliknya mempralina kehidupan. Ditampilkannya benda wingit Rangda pada klimaks pementasan Calonarang adalah simbol berkenannya Hyang Widhi mengayomi kehidupan. Pementasan Calonarang sejatinya adalah sebuah ‘’ritual artistik’’ yang makna transedentalnya untuk mohon perlindungan Tuhan dari segala malapetaka.

Sastra Calon Arang dalam transformasinya sebagai seni pentas tolak bala Calonarang, adalah guratan kearifan lokal yang mewanti-wanti pernah terjadinya malapetaka wabah penyakit, seperti Covid-19 sekarang ini, mengandung saripati wejangan reflektif persuasif. Masyarakat Bali, meneruskan dan memaknainya secara religi-simbolis melalui seni pertunjukan.

Dalam teater ini, Ni Calonarang dikisahkan berakhir binasa, terberangus berikut ilmu tenungnya oleh Mpu Bharadah. Ini adalah teks berkonteks ruwatan penyadaran menuju jalan yang benar. Karena itu, pementasan dramatari Calonarang dalam tataran praktis dipersembahkan sebagai seni tolak bala ritual penyucian diri dan bumi.

Ruwatan dijalani sebagai jembatan spiritualisme membangun optimisme, penguatan diri meningkatkan sistem imun dalam tubuh, untuk menjalani hidup dengan lebih berani berbinar kepatuhan seperti saat ini, ketika kita bersama melawan grubug Corona. Ritual ruwatan, termasuk persembahan dramatari Calonarang, juga ideal digelar sebagai pemulihan ketenangan batin pascaberlalunya suatu malapetaka.

Penulis, pemerhati seni budaya, Dosen ISI Denpasar

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.