GIANYAR, BALIPOST.com – Ratusan pedagang pelataran memadati open stage Balai Budaya Gianyar pada Kamis (28/5). Kedatangan mereka untuk mengikuti tahap pengundian terkait penempatan di pasar relokasi di Kelurahan Sampalangan.

Namun dalam proses itu kedatangan pedagang tidak terbendung, sampai akhirnya berdesak-desakan saat mengambil nomor antrean untuk mengikuti pengundian. Padahal saat ini masa pandemi COVID-19 yang harusnya menerapkan protokol kesehatan, salah satunya social dan physical distancing.

Pantauan Bali Post, ratusan pedagang pelataran ini sudah berkumpul di seputaran open stage Balai Budaya Gianyar sejak Kamis pagi. Nah saat pembagian nomor antran ini lah, padagang yang tidak sabaran langsung berkerumun dan berdesak desakan berebut nomor antrean.

Petugas Dinas Perdagangan, Satpol PP Gianyar hingga aparat kepolisian yang langsung dikomndo Kapolsek Gianyar Kompol Ketut Suastika, sempat kelimpungan mengawal jalannya proses ini. Karena para pedagang tidak sabaran dengan berdesak-desakan berebut nomor antrean, sampai menggkesampingkan physical distancing di tengah pandemi covid 19.

Sementara itu Kadiperindag Gianyar, Luh Gede Eka Suary dalam tahap pengundian ini pihaknya mengawali dengan pembagian nomor antrean. Tidak dipungkiri saat mengambil nomor antrean itu, seketika para pedagang berdesakan berebut nomor antrean.

“Usai mendapat nomor antrean mereka bisa pulang dulu, supaya kita tetap memperhatikan protolol kesehatan dan pada saat undian nanti akan dipanggil 10 pedagang, secara bertahap,” katanya.

Dikatakan sebelumnya Disperindag bersama pihak Desa Adat Gianyar sudah mendata para pedagang pelataran. Namun saat pindah ke Pasar Relokasi mereka malah membludak. “ Banyak pedagang membandel, di jalan banyak pedagang lain menganggap dirinya pelataran semua,“ katanya.

Eka Suary tidak menampik bahwa pihaknya belum melakukan pengindian untuk ratusan pedagang pelataran Pasar Umum Gianyar. Selama ini pihaknya hanya melakukan penguindian terhadap pedagang yang terdaftar meliputi los, kios dan pedagang toko. “Kemarin memang pelataran tidak kami undi, karena mereka tidak mempunyai hak sewa hanya tercatat KTP saja,” katanya.

Pihaknya mencoba memverifikasi pedagang pelataran dan pedagang bermobil. Dikatakan seluruh pedagang tersebut jumlahnya sampai 600 lebih. “Mudah mudahan hari ini terverifikasi dan besok bisa masuk ke los pasar relokasi yang ada di Semplangan, yang tidak terdaftar kami serahkan ke desa adat, yang tidak terdaftar minimal pulang dulu, karena kami hanya memferivikasi yang terdaftar,” katanya.

Ditegaskan pedagang yang terdaftar nanti tidak boleh lagi berjualan di mobil atau pelataran. Mereka sudah disiapkan los khusus untuk berjualan. “Pedagang yang masuk ke los tidak berjualan dimobil lagi, ini mengantiipasi kemacetatan lalu lintas. Nah pedagang pelataran ini juga selalu identik dengan membawa payung membuka kursi kemudian menggeber barang dagangan, itu juga merugikan pedagang kita di los utama, itu juga menjadi kecemburuan, karena semua yang di mobil sudah ada, bapak bupati pun mengutamakan pedagang kios, los dan toko,” katanya. (Manik Astajaya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.