Gubernur Bali, Wayan Koster. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali Wayan Koster mengajak seluruh komponen masyarakat Bali agar merenungkan dan memaknai secara mendalam munculnya pandemi COVID-19. Wabah ini merupakan cerminan telah terjadinya ketidakseimbangan alam beserta isinya akibat perilaku manusia yang tidak lagi menuruti wejangan dari leluhur atau tetua di Bali.

Wejangan itu tertuang dalam cara hidup orang Bali yang menyatu dengan alam. Pada intinya, manusia adalah alam itu sendiri.

Manusia harus seirama dengan alam, hidup yang menghidupi, urip yang menguripi. “Bahwa hidup harus menghormati alam. Alam ibarat orangtua. Oleh karena itu, hidup harus mengasihi alam. Ini yang sudah kita tinggalkan jauh-jauh,” ujar Gubernur Koster di Gedung DPRD Bali, Kamis (14/5).

Menurutnya, COVID-19 harus dimaknai dengan dimensi seperti itu. Hadirnya wabah merupakan sebuah peringatan keras bahwa telah terjadi sesuatu yang menyimpang jauh dari tatanan kehidupan alam, manusia, dan budaya Bali. “Maka kita harus merenungkan ini dalam-dalam untuk menata dan bagaimana menjalankan pembangunan Bali ke depan agar betul-betul sesuai dengan genuine-nya Bali,” jelasnya.

Koster menambahkan, sesuatu yang salah ini harus dikoreksi total. Visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’ akan dijadikan sebagai tonggak untuk memulai Bali era baru dengan tatanan baru. Terutama setelah wabah COVID-19 dapat diselesaikan dengan baik.

Ia menekankan, COVID-19 jangan dihadapi dengan narasi yang negatif khususnya lewat diksi melawan virus Corona. Sebab, virus Corona juga merupakan ciptaan Yang Maha Kuasa seperti alam beserta isinya. Seperti ajaran dari para leluhur, virus Corona bukan diusir tetapi dikembalikan fungsinya. “Diksi melawan atau memerangi Corona, bukan satu statemen yang arif dan bijaksana. Yang benar itu adalah kita melakukannya dengan upakara secara niskala lewat segehan, nyejer, macaru atau bahkan tawur agung supaya kembali ke posisi semula dan fungsi sebagaimana mestinya,” paparnya.

Itu sebabnya, lanjut Koster, penanganan COVID-19 di Bali dilakukan secara sekala dan niskala. Keduanya dijalankan karena merupakan perpaduan yang sangat baik. Tanpa adanya upaya niskala lewat komunikasi dengan alam, COVID-19 di Bali diyakini tidak akan bisa ditangani seperti sekarang.

Oleh karena itu, jangan sampai ada yang mengecilkan, menyindir, apalagi menganggap upaya niskala itu sebagai sesuatu yang tidak penting. Saat Bali mengumumkan pasien pertama terkonfirmasi positif COVID-19, Gubernur Koster bersama Wakil Gubernur dan Sekda Provinsi Bali langsung duduk bersama serta menetapkan status Bali Siaga COVID-19.

Setelah itu dibentuk Satgas Gotong Royong Berbasis Desa Adat yang diminta menjalankan tugas secara sekala dan niskala. Mulai 31 Maret, mulai nyejer daksina dan berdoa setiap hari di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat masing-masing sampai pandemi berakhir. “Ini dijalankan dengan sangat tertib oleh desa adat kita di seluruh Bali, bahkan sampai ke tingkat rumah tangga. Luar biasa, menurut saya inilah yang membuat alam kita sekarang ini nyaman walaupun masih ada kasus positif,” terangnya.

Koster menambahkan, tingkat kesembuhan pasien positif COVID-19 di Bali sekarang 66,5 persen atau paling tinggi di Indonesia. Hal ini pun sudah diapresiasi Presiden RI, namun tidak serta merta membuat lengah.

Apresiasi itu justru dijadikan motivasi untuk terus bekerja memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Selain mengontrol agar yang sembuh semakin banyak dan semakin cepat mencapai target zero COVID-19 akhir Mei, orang yang masuk ke Bali juga dikendalikan. Kendati, belum bisa dikendalikan penuh lantaran PMI dan ABK masih akan terus datang. ‘’Cuma sudah akan terkontrol karena dikarantina. Sekiranya PMI/ABK ini sudah tidak lagi datang, kita tinggal mengurusi yang ada di lokal ini saja,’’ imbuhnya.

Koster mengaku sudah memetakan per desa, dan sesuai perhitungan Bali akan menjadi provinsi tercepat di Indonesia yang bebas dari pandemi. Di sisi lain, mantan anggota DPR-RI ini juga mengingatkan semua pihak agar jangan dulu tergoda untuk me-recovery pariwisata.

Misalnya dengan membuka pantai, objek wisata dan lainnya. Sebab, pengalaman di luar menunjukkan adanya gelombang kedua setelah gelombang pertama COVID-19 selesai.

Jadi, kalaupun sudah tidak ada penambahan kasus positif dan semua pasien positif sudah sembuh, masih harus dilakukan upaya mensterilkan Bali sebelum melakukan tahapan recovery pariwisata dan ekonomi. Kendati, konsep recovery itu kini sudah disiapkan. “Kita tidak ingin hal itu terjadi di Bali. Karena itu, walaupun ada tawaran ini-itu untuk mulai membuka secara terbatas dengan protokol yang ketat, saya nyatakan jangan dulu. Kita upayakan dulu sampai pada titik Bali ini zero,’’ jelasnya. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.