Ilustrasi Gempabumi. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gempabumi yang terjadi Kamis (19/3) pukul 1.45.38 Wita di wilayah Samudera Hindia Selatan Bali-Nusa Tenggara ternyata disusul gempa dengan intensitas 3-4,5 SR.

Gempabumi yang memiliki parameter awal dengan magnitudo M=6,6 yang kemudian dimutakhirkan menjadi Mw=6,3 ini episenternya terletak pada koordinat 11.4 LS dan 115.04 BT. Tepatnya berlokasi di laut pada jarak 305 km arah Selatan Kota Denpasar, Bali pada kedalaman 10 km.

Baca juga:  Oknum Photografer Setubuhi Modelnya yang Masih di Bawah Umur

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG,
Rahmat Triyono, ST.,Dipl. Seis., M.Sc. dalam rilisnya Kamis (19/3) mengatakan ada 10 gempa susulan. Gempabumi susulan pertama terjadi pukul 2.01 Wita dengan kekuatan 4,5 SR. “Gempabumi susulan hingga pukul 05.52 Wita sebanyak 10 kali dgn kisaran 3.0-4.5 SR,” jelasnya

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas subduksi. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan turun.

Baca juga:  Sampel Babi di Tabanan Negatif Streptococcus Suis

Guncangan gempabumi ini dirasakan di Denpasar, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Barat, Kota Mataram IV MMI (Bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah), Kuta, Sumbawa Barat, Sumbawa, Bima, Dompu, Lombok Utara III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu).

Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami.

Baca juga:  Gubernur Koster Harap Masyarakat Bali Gunakan Hak Politik

Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

“Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yg membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah,” jelasnya. (Winatha/balipost)

BAGIKAN