Ilustrasi. (BP/Tomik)

Volume sampah di Kota Denpasar pada Umanis Galungan, 20 Februari lalu, mencapai 1.200 ton atau meningkat 50 persen dari biasanya. Sampah didominasi bekas banten rumah tangga. Sejatinya sudah tidak mengherankan pascahari raya akan terjadi lonjakan volume sampah.

Hal ini pula yang diungkapkan netizen di akun Facebook @balipost. Sebagian besar netizen juga paham, pengelolaan sampah di Bali dari hulu ke hilir masih belum tergolong baik. Di hilir atau tempat pembuangan akhir (TPA), pengolahan sampah tak maksimal.

Banyak faktor yang menentukan di antaranya teknologi, SDM dan tentu saja anggaran. Sampah kebanyakan hanya ditumpuk sehingga TPA cepat overload. Sejauh ini masih ada kesan metodenya hanya memindahkan sampah. Masyarakat pun sadar mengenai hal ini, makanya pemerintah terus didorong mencari mekanisme pengolahan sampah yang efektif.

Di balik itu semua, faktanya sebagian dari masyarakat belum menyadari bahwa pengelolaan sampah di hulu terutama di tingkat rumah tangga sangatlah menentukan. Masih banyak masyarakat di perkotaan enggan memilah sampah. Kelihatannya sepele, padahal jika ini dilakukan niscaya pengelolaan sampah di tingkat desa hingga TPA akan lebih mudah.

Apalagi kita tahu di banyak desa sudah ada gerakan pengolahan sampah terpadu. Gerakan tersebut bukan saja soal lingkungan tetapi juga mampu meningkatkan ekonomi desa. Ke depan, keengganan memilah atau mengolah sampah dan limbah tidak boleh lagi dipelihara.

Rumah tangga dan dunia usaha harus aktif berkontribusi menyelamatkan alam Bali. Mari menata ulang pengelolaan sampah di hulu sembari terus mendorong pengolahan di hilir lebih modern, berwawasan lingkungan serta menghasilkan produk bermanfaat secara luas. Berikut komentar sejumlah netizen.

Agung Skip
Sebaiknya sampah organik dari bebantenan ditanam dalam tanah saja. Itu membuat tanah subur sekaligus indah. Kalau sudah sadar dalam memilah sampah, dirasa juga tidak perlu khawatir lagi dengan sampah plastik karena akan lebih mudah untuk proses daur ulang. Mari kita mulai dari diri sendiri dan sekitar.

Mank-d Peon Cahaya Baskara
Sumber daya kita (masyarakat) belum siap mental dalam memilah sampah organik dan non organik.

Dek Shinobi
Maaf, bukan dari masyarakat saja, tetapi yang memberikan contohnya ogahan. Kalau pmerintah berikan contoh tapi tanpa amplop ya okelah. Contoh dari kita bisa, tapi contoh menjaga Tri Hita Karana untuk Bali ini sendiri nggak bakalan bisa. Dulu waktu mau mencalonkan ada programnya. Sudah jalan, masih saja jalur hijau jadi jalur abu-abu (beton). Jadi, menjadi tradisi dr kepala sampai ekor. Masalahnya yang paling ujung ekor nggak mengerti efek dan ke selanjutnya bagaimana. Yang paling ujung itu 60% nggak ada yang berpendidikan, 10% jawabanya nak mula keto, 10% berpendidikan jawabnya SDM (selamatkan diri masing-masing), 10% berpendidikan prihatin tapi nggak ada actionnya,
10% omdo (omong doang), 10% baru tersadar. Nunggu Bali hancur. Padahal ada solusi, tapi malah dibuat ribet. Itu adalah suatu kenyataan.

Rudi Ana
Masalah di Kota Denpasar mau ditanam di mana sampahnya? Karena lahannya sudah rumah dan beton semua. Kalau di desa-desa memang sampah-sampah hasil upacara banyak ditanam sama petani untuk kompos di tegalan-tegalan.

Sang They
Singapura, Surabaya, memang mereka sudah bisa yaa mengolah sampah? Kok saya belum pernah dengar. Yang saya dengar itu Amerika yang negara superpower yang bisa nyetak uang semaunya dan diakui dunia belum bisa mengatasi sampahnya. Baru sejumlah kecil saja yang bisa didaur ulang dan sisanya yg lebih dari 60% masih ditumpuk saja di TPA dan sisanya di eksport ke negara-negara berkembang. Masalah sampah sampai saat ini belum bisa tersolusikan 100%. Saya bukan bicara skala sempit ya, tapi umat manusia yang berada di bumi ini sampai saat ini belum begitu cerdas untuk memecahkan masalah tersebut. Termasuk negara superpower ke-2 yaitu China, mereka juga kewalahan mengatasi sampah. Namanya juga sampah yang notabenenya bukan komoditas politik laku buat jualan suara, jadi mau bagaimanapun koar-koar di media, ini masalah di balik masalah nggak akan bener.

Putu Adiana
Mohon maaf sebelumnya, mungkin sudah tradisi ada banyolan dari keluarga saya yang di Bali barat tepatnya Jember rane sesuai nama dug dug girr,
Lulu medugdug busung ligir. Maknanya bagaimana mengatasi sampah, sebaiknya bukan buat diposting.

Gede Somantara
Jangan terlalu banyak berkomentar ini-itu. Mari urus dulu sampah di rumah sendiri supaya ibaratnya tidak cuma pintar melihat kotoran di punggung orang lain tapi kotoran punggung sendiri tidak tampak. Intinya dimulai dari kesadaran diri sendiri.

Gde Wijaya
Tidak punya pengolah sampah, ke manakah akan dibawa?

Berata Wayan
Pemerintah RI, Bali memang pulau kecil terpadat di 34 provinsi. Dan sampah dari surudan, lungsuran seperti canang, sampian, dll, sejenis dari upacara adalah bunga. Seharusnya Bali mampu beli mesin sampah seperti di Jatim. Dan bila ada yang bilang bahwa bila memiliki mesin dimaksud, kemudian kasihan mesinnya karena kekurangan sampah, jawabannya adalah pengaturannya yang profesional saja. Bila mau pemerintah di Bali, ahli itu dan orang Bali yang lama di Jerman.

Ida Bagus Putra Adnyana
Nyebut kata “Galungan”, bagaimana kalau tidak ada Galungan? Apa dagang kebutuhan hari raya Galungan bisa hidup di Bali? Apa ada yang jamin kalau tidak ada Galungan bakalan tidak ada sampah? Jangan hari raya Galungan anda pakai alasan sampah menumpuk bro.

IDewa Nym Kartika
Sampah organik dan non organik seharusnya dipisah dari rumah tangga, jadinya sampahnya tidak tercampur. Semoga yang berwenang bisa mengatasinya #lakukanuntukdirisendiridulu.

Agung Ardana
IDewa Nym Kartika setuju, perlu juga dibikin jadwal buang sampah organik dan sampah non organik #sistemsampahterpadu.

BAGIKAN