Sejumlah penumpang berjalan di area pemindaian suhu tubuh di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Minggu (26/1). (BP/Antara)

Virus Corona yang mengawali penyebarannya di daerah Wuhan, Tiongkok, kini sudah menyebar ke beberapa belahan dunia. Beberapa negara di dunia secara terbuka mengakui wilayah/warga mereka telah terpapar virus mematikan ini.

Tidak dengan Indonesia, meski banyak juga warganya yang menjadi pekerja di Tiongkok. Juga, banyak warga Tiongkok yang datang berkunjung ke Indonesia, khususnya Bali. Bahkan, tahun terakhir wisatawan asal Negeri Tirai Bambu menempati posisi teratas berkunjung ke Bali.

Potensi wisatawan Tiongkok ini, membuat pemerintah dan kalangan pariwisata di Bali belakangan terus menggenjot jumlah kedatangan wisatawan dari Tiongkok. Berbagai promosi, kunjungan, pertukaran budaya dan berbagai event kerja sama Indonesia (Bali) dan Tiongkok terus digenjot.

Bisa dibayangkan, “ikan” yang sudah nyaris masuk penggorengan tiba-tiba hilang begitu saja hanya gara-gara virus Corona. Keluhan demi keluhan mulai berkicau dari mulut para pemain pariwisata.

Mengingat, virus Corona ini tidak hanya mematikan arus kunjungan wisatawan dari Tiongkok, tetapi juga dari berbagai pemasok wisatawan ke daerah ini. Kecemasan akan keganasan virus Corona menjadi alasan.

Menengok sejarah kepariwisataan Bali di masa lalu, sebenarnya bukan hanya virus Corona yang sempat membuat kepariwisataan Bali anjlok bahkan mati suri. Tengoklah kasus diare yang sempat menghebohkan wisatawan Jepang usai berkunjung ke Bali.

Hampir mirip kondisi sekarang ini, kala itu Bali sangat mengandalkan kunjungan wisatawan dari negeri Matahari Terbit itu. Berikutnya muncul kasus flu burung (H5N1), SARS dan isu-isu kesehatan yang boleh dikatakan bisa mematikan sektor pariwisata jika pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik. Karena pariwisata memang sangat sensitif dan rentan dengan isu-isu kesehatan dunia.

Tidak hanya masalah kesehatan, pariwisata juga sangat sensitif dan rentan terhadap dunia politik dan keamanan. Ambil contoh ketika perang Teluk berkecamuk, jalanan di Kuta yang biasanya latah dengan macetnya tiba-tiba menjadi lengang dan sepi. Begitu juga manakala gedung kembar WTC diserang dengan aksi bunuh diri teroris, pariwisata Bali ikut lumpuh.

Apalagi ketika bom langsung meledak dan menewaskan ratusan orang tepat di jantung pariwisata Bali, Kuta, pariwisata Bali sempat mandek. Bahkan informasi tentang erupsi Gunung Agung yang lokasinya jauh di sudut Pulau Bali ini, telah melumpuhkan pariwisata di daerah ini.

Berbagai ‘’virus mematikan pariwisata’’ ini haruslah ditangani dan dikelola dengan benar dan sebaik mungkin. Terlebih di era globalisasi dengan kecanggihan teknologi informasi, semua begitu terbuka dan sangat susah disembunyikan. Keterbukaan semua pihak, justru membuka ruang solusi untuk mengatasi masalah virus mematikan pariwisata ini. Karena keterlambatan dalam  penanganan, membuat virus dengan cepat menyebar dan hanya menyisakan kematian. Demikian halnya virus pariwisata ini, jika telanjur menyebar akan membuat susah menangani dan menyisakan kematian bagi dunia pariwisata.

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.