Sejumlah wisatawan sedang menikmati pemandangan Gunung dan Danau Batur dari sisi utara Objek Wisata Penelokan beberapa waktu lalu. (BP/dok)

BANGLI, BALIPOST.com – Association of Indonesian Travel Agency (Asita) Bali kecewa dengan kenaikan tiket masuk ke sejumlah obyek daya tarik wisata (DTW) yang mulai diberlakukan Pemkab Bangli per 1 Januari. Masalahnya Asita mengaku tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya terkait hal itu.

Kenaikan harga tiket tersebut juga cukup membuat kaget wisatawan yang berkunjung ke DTW Penelokan saat libur Tahun Baru Rabu (1/1). Sekretaris Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia/Asita Bali Putu Winastra, Kamis (2/1) mengungkapkan tidak ada pemberitahuan apapun dari Pemkab Bangli terkait kenaikan tiket wisata itu sebelumnya.

Baca juga:  Tiba di Yogyakarta, Obama Menginap di Hotel Tentrem Milik Sido Muncul

Pihaknya pun telah mencoba menghubungi pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Bangli untuk menanyakan soal hal tersebut. “Katanya surat sosialisasinya sudah dikirim lewat pos, faximile, tapi kenyataannya kami di DPD Asita sampai hari ini tidak ada menerima apa. Kemudian katanya besok akan dikirimkan SK soal kenaikan tarifnya, buat apa? sedangkan kenaikannya kan sudah berjalan dari kemarin,” ungkapnya.

Winastra benar-benar kecewa dengan sikap Disparbud. Dia menilai Disparbud seolah-olah tidak membutuhkan keberadaan Asita.

Baca juga:  Pertama Kalinya, Beijing Laporkan Nihil Kasus COVID-19 Sejak Wabah Baru Merebak

Winastra menegaskan bahwa pihaknya di Asita sejatinya tidak pernah alergi terhadap kenaikan tarif retribusi wisata. Kalaupun ada kenaikan tiap tahun, baginya tidak masalah.

Asalkan kenaikan tarif itu disosisialisasikan dan diinformasikan dari jauh-jauh hari. “Sebenarnya kami selalu siap kalau diajak diskusi, mengenai kenaikan tiket. Tapi selama ini pengelola pariwisata (Disparbud) menaikan retribusi seenak udelnya. Itu yang sangat kami sayangkan,” terangnya.

Kini ia pun mengaku tak bisa bicara dan berbuat banyak dengan adanya pemberlakuan kenaikan tiket tersebut. Mau tak mau, pihaknya harus menerima risiko merugi.

Baca juga:  Gempa 4,8 SR Guncang Bali

Sebab sebelum adanya kenaikan tiket tersebut, Asita sudah membuat kontrak/menjual paket perjalanan wisata di tahun 2020 dengan tarif retribusi yang lama. Untuk menekan kerugian, pihaknya semaksimal mungkin akan berupaya mengalihkan tempat kunjungan wisatawan. “Semaksimal mungkin akan kita alihkan. Tapi karena sudah masuk program jadi agak susah kami alihkan. Terkecuali yang baru-baru ini, bisa kami alihkan ke obyek yang lain,” imbuhnya. (Dayu Swasrina/balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.