SEMARAPURA, BALIPOST.com – Piodalan di Pura Batu Medawu, Nusa Penida, sudah berlangsung puncaknya pada 30 Januari. Setelah dilaksanakan penganyar, rencananya piodalan masineb pada, Sabtu (2/2).

Dengan pelaksanaan piodalan ini, diharapkan alam senantiasa harmonis, umat senantiasa mendapatkan keselamatan dan dijauhkan dari segela bentuk bencana. Ketua Panitia, Putu Sujana, Jumat (1/2), menyampaikan piodalan di Pura Sad Kahyangan ini, berlangsung setiap enam bulan sekali, bertepatan dengan budha kliwon pahang.

Umat Hindu setempat nampak antusias melakukan persembahyangan. Bahkan, Bupati Klungkung Nyoman Suwirta beserta istri juga tangkil ke Pura Batu Medawu, ikut mendoakan agar alam beserta isinya selalu tenang dan damai, di tengah situasi saat ini yang kian akrab dengan bencana alam.

Baca juga:  Dek Arya "Bermain Cantik" dengan Dewi Pradewi

Pura ini memiliki konsep nyegara gunung, dimana ada perpaduan antara daratan dan lautan dalam satu wujud keindahan. Di Pura Batu Medawu, pemedek melakukan tiga kali persembahyangan, yaitu di Pura Segara, Pura Taman dan Pura Penataran.

Piodalan di Pura ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada buda kliwon wuku pahang. Pura ini di-empon oleh separuh desa adat, mulai dari Desa Adat Kutampi Atas ke bagian selatan dan timur.

Selain umat yang berasal dari masyarakat lokal sendiri, pujawali Pura Batu Medawu juga kerap dihadiri oleh umat yang tangkil berasal dari Pulau Bali. Pura Batu Medawu terletak di Desa Suana, persis di sebelah barat Dusun Semaya.

Salah satu Pura Sad Kahyangan di Klungkung ini, memiliki sejarah panjang dalam keberadaannya di Bali. Jero Mangku setempat, menerangkan nama Batu Medawu berasal dari kata perahu medah batu atau perahu yang membelah batu.

Baca juga:  Izin Usaha BPR Legian Denpasar Dicabut

Asal mula itu diperkuat dengan cerita babad Nusa Penida yang mengisahkan cerita tentang I Renggan, salah satu cucu Dukuh Jumpungan yang mau menaklukkan Bali dengan perahu saktinya. Dalam cerita itu, I Renggan diyakini mampu membuat setiap daratan yang dilewati perahunya menjadi lautan. “Bhatara Toh Langkir mengetahui keinginan tersebut, sehingga beliau membuat I Renggan tidak bisa mengendalikan perahu tersebut dan tertidur pulas. Perahu tersebut terdampar di Manggis, Karangasem dan menabrak pulau yang ada di sana, sehingga pulau tersebut terbelah dan menyisakan pulau kecil-kecil seperti yang kita lihat sekarang di sekitar Padangbai,” terangnya.

Jero Mangku mengatakan akibat kegagalannya itu, I Renggan mencoba kembali ke Nusa Penida, melalui bagian di timur pulau tersebut. Saat hendak menambatkan perahunya, rupanya perahunya tidak terkendali dengan sempurna.

Baca juga:  Gunakan Hak Pilih, Masyarakat Nusa Penida Pulang Kampung

Malah, lewat ke pantai dan membelah gundukan batu yang ada dibagian timur pulau itu. Singkatnya, bekas perahu I Renggan tersebut, dibuat suatu tempat pemujaan yang kini disebut Pura Batu Medawu.

Cerita itu semakin diperkuat dari sebuah simbol berupa bangunan yang mirip ekor perahu yang seolah-olah menggambarkan perahu membelah gundukan batu. Bangunan ini dapat dilihat di Pura Batu Medawu, tepatnya di bagian Pura Segara.

Pura Batu Medawu sebagai tempat suci untuk memohon kebijaksanaan. Berbeda dengan Pura Dalem Ped, untuk memohon kekuatan. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN