Beberapa warga melihat-lihat produk perlengkapan harian di salah satu swalayan di Denpasar, Senin (12/12). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Lapangan usaha perdagangan besar dan eceran menjadi sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar di Bali pada Agustus 2026. Sektor ini menyerap 20,85 persen dari total penduduk bekerja, meningkat tipis dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 20,79 persen.

Namun, besarnya penyerapan tenaga kerja tersebut belum sebanding dengan kontribusi sektor perdagangan terhadap pembentukan nilai tambah ekonomi Bali yang hanya mencapai 8,81 persen.

Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan mengatakan, struktur penyerapan tenaga kerja Bali menunjukkan perbedaan dibandingkan struktur pembentukan nilai tambah berdasarkan lapangan usaha.

Setelah perdagangan besar dan eceran, sektor pertanian menjadi penyerap tenaga kerja terbesar kedua dengan porsi 17,22 persen. Angka tersebut sedikit meningkat dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 17,18 persen.

Baca juga:  Belum Ada Rapat Soal Pembatasan BBM Bersubsidi

Berikutnya adalah industri pengolahan, disusul akomodasi dan makan minum yang menyerap sekitar 14,51 persen dari total penduduk bekerja di Bali.

“Menariknya, meskipun bukan penyerap tenaga kerja terbesar, akomodasi dan makan minum justru menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap pembentukan nilai tambah ekonomi Bali,” katanya di Denpasar, Kamis (5/11).

Sektor tersebut menyumbang 22,87 persen terhadap total nilai tambah ekonomi Bali, jauh lebih besar dibandingkan porsi tenaga kerja yang diserap.

Sebaliknya, pertanian menyerap 17,22 persen tenaga kerja, tetapi kontribusinya terhadap nilai tambah ekonomi hanya 12,19 persen. Bahkan, sektor perdagangan yang menyerap 20,85 persen tenaga kerja hanya menghasilkan 8,81 persen dari total nilai tambah Bali.

Baca juga:  Kembali, Bali Nihil Tambahan Korban Jiwa COVID-19

“Kalau kita bandingkan, pertanian menyerap 17,22 persen dari total penduduk yang bekerja di Bali, sementara nilai tambah yang dihasilkan hanya 12,19 persen. Untuk perdagangan, nilai tambahnya 8,81 persen, tetapi tenaga kerja yang terserap mencapai 20,85 persen,” kata Agus.

Sebaliknya, sektor akomodasi dan makan minum mampu menghasilkan nilai tambah 22,87 persen dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 14,51 persen.

Perbedaan tersebut memperlihatkan karakteristik masing-masing lapangan usaha dalam menyerap tenaga kerja dan menghasilkan nilai tambah ekonomi.

Baca juga:  Kinerja Ekspor Bali Januari-November 2025 Melemah, Turun Belasan Persen Dibandingkan Periode Sebelumnya

Agus menilai perbandingan tersebut menarik untuk dikaji lebih lanjut, terutama dalam melihat karakteristik lapangan usaha yang padat karya maupun padat modal.

Menurutnya, struktur penyerapan tenaga kerja berdasarkan lapangan usaha antara Agustus 2025 dan Agustus 2026 secara umum tidak banyak berubah dari sisi peringkat. Perdagangan tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, disusul pertanian, industri pengolahan, serta akomodasi dan makan minum.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa besarnya penyerapan tenaga kerja tidak selalu sejalan dengan besarnya kontribusi suatu sektor terhadap perekonomian,” ujarnya.

Dengan demikian, produktivitas dan nilai tambah yang dihasilkan menjadi aspek penting dalam membaca kualitas pertumbuhan ekonomi Bali. (Suardika/balipost)

BAGIKAN