
NEGARA, BALIPOST.com – Diduga bara api yang dikira sudah padam kembali menyala dan menghanguskan gudang pembuatan arang di Banjar Melaya Krajan, Desa/Kecamatan Melaya, pada Kamis (29/10) dini hari. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun kerugian materiil ditaksir sekitar Rp10 juta.
Kobaran api menghanguskan bagian atap gudang, bambu, dan kayu. Mohamad Tauhid, 52, pemilik gudang yang juga warga banjar setempat, diperkirakan mengalami kerugian sekitar Rp10 juta.
Sebelum kejadian, Tauhid telah menyelesaikan kegiatan operasional pembuatan arang pada Rabu (28/10) sekitar pukul 17.00 WITA. Setelah bekerja, dia memastikan bara api di sekitar drum tempat pembuatan arang telah padam sebelum pulang ke rumah untuk beristirahat.
Kebakaran diketahui setelah Miftahul Mubin, tetangga pemilik gudang, mendengar suara ledakan keras dari bambu yang terbakar. Miftahul kemudian menyampaikan informasi tersebut kepada Tauhid, yang segera mengecek kondisi gudangnya.
Saat tiba di lokasi, Tauhid mendapati kobaran api telah menyebar. Khawatir api semakin meluas, dia menghubungi Polsek Melaya agar kejadian tersebut segera diteruskan kepada petugas Damkarmat Jembrana.
Laporan penanganan kebakaran tercatat pada Kamis (29/10) pukul 03.04 WITA. I Ketut Eko Susilo Artha Permana, Kasatpol PP Jembrana, menjelaskan anggota Regu III Damkarmat yang sedang bersiaga langsung menuju lokasi setelah menerima laporan yang diteruskan melalui Polsek Melaya. “Begitu menerima laporan, anggota Regu III yang sedang bersiaga langsung menuju lokasi untuk melakukan penanganan kebakaran,” ucap Eko Susilo.
Regu III membutuhkan waktu tempuh sekitar 15 menit menuju lokasi. Setibanya di tempat kejadian perkara (TKP), petugas mendapati api sudah membesar. Proses pemadaman menghadapi kendala karena akses jalan di beberapa titik menyulitkan armada menjangkau kobaran api. Petugas bersama warga sekitar terus berupaya memadamkan api hingga akhirnya kebakaran berhasil dikendalikan dan situasi dinyatakan aman. “Petugas melakukan pemadaman bersama warga setempat. Penanganan berlangsung sekitar 3 jam hingga api berhasil dipadamkan,” ujar Eko Susilo.
Sebanyak tiga armada dikerahkan dalam penanganan tersebut, yakni satu armada tangki merah, satu armada Hino tembak, dan satu armada Altora. Total air yang digunakan selama proses pemadaman mencapai 19.500 liter.
Penyebab kebakaran sementara diduga berkaitan dengan aktivitas pembuatan arang. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pemeriksaan menyeluruh terhadap bara dan sisa pembakaran setelah aktivitas selesai, untuk mengantisipasi kemungkinan api kembali
menyala. (surya dharma/balipost)










