Jembatan Kerobokan-Kampung Jarat Rusak Lama, Pemkab Siapkan Penanganan pada 2027. (BP/Yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Jembatan yang menghubungkan Desa Kerobokan dengan Kampung Jarat, Kelurahan Penarukan, Kabupaten Buleleng, mengalami kerusakan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Warga berharap jembatan tersebut segera diperbaiki secara menyeluruh agar akses dan aktivitas masyarakat kembali lancar.

Perbekel Kerobokan, Putu Wisnu Wardana dikonfirmasi Selasa (27/10) mengatakan kerusakan di kawasan tersebut sudah cukup lama terjadi. Sejumlah penambalan sempat dilakukan sebagai upaya perbaikan sementara. Namun, warga berharap penanganan kali ini bisa dilakukan secara menyeluruh.

Baca juga:  Dapat DAK Belasan Miliar Rupiah, Buleleng akan Bangun 3 Jembatan Ini

“Warga sangat mengharapkan agar jalan yang rusak di daerah Kerobokan dapat segera diperbaiki agar aktivitas dan akses menjadi lebih lancar,” kata Wisnu.

Menurutnya, kondisi akses yang rusak menjadi perhatian masyarakat karena jalur tersebut menghubungkan Desa Kerobokan dengan Kampung Jarat di wilayah Kelurahan Penarukan. Karena itu, warga berharap pemerintah segera merealisasikan perbaikan agar akses penghubung tersebut lebih nyaman dan aman dilalui.

Warga pun berharap penanganan tidak sekadar berupa penambalan sementara, melainkan dapat mengatasi kerusakan secara menyeluruh sehingga akses penghubung Desa Kerobokan dan Kampung Jarat bisa digunakan lebih lancar dalam jangka panjang. “Kita harapkan agar segera mendapat penanganan. Pasalnya itu akses vital,” ungkapnya.

Baca juga:  Minimalkan DB, Tabanan Alokasikan Rp 1 Miliar Untuk Ini

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Buleleng menyebutkan penanganan Jembatan Kerobokan-Kampung Jarat direncanakan pada 2027. Ada dua opsi penanganan yang tengah dipertimbangkan, yakni pemeliharaan atau penggantian jembatan.

“Kalau anggarannya sedikit, kita lakukan pemeliharaan. Kalau ada anggaran lebih, baru kita bisa melakukan penggantian jembatan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kondisi jembatan yang sudah cukup tua menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan bentuk penanganan. Jika anggaran memungkinkan untuk pembangunan jembatan baru, dimensinya juga direncanakan diperlebar sekitar satu meter pada sisi kiri dan kanan. “Realisasi rencana tersebut akan menyesuaikan ketersediaan anggaran,”imbuhnya. (Yudha/balipost)

Baca juga:  Dari Kucing hingga Harimau, Ini 5 Kepala Negara dan Peliharaannya

 

BAGIKAN