Siswa berkebutuhan khusus SLB Negeri 1 Tabanan saat pembelajaran vokasi tata busana dan hantaran.(BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Keterbatasan sarana pembelajaran digital masih menjadi tantangan bagi SLB Negeri 1 Tabanan dalam memaksimalkan proses belajar mengajar anak berkebutuhan khusus. Dari total 38 kelas yang tersedia, sekolah tersebut baru memiliki satu unit Papan Interaktif Digital (PID), padahal media ini dinilai penting untuk membantu siswa memahami materi melalui tampilan visual.

Kepala SLB Negeri 1 Tabanan, I Nyoman Meiarta Sedana, S.Kom., mengatakan keberadaan PID sangat membantu guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa dengan kebutuhan yang beragam. Melalui media visual, siswa diharapkan lebih mudah memahami konsep yang diajarkan.

“Anak-anak lebih tertarik ketika pembelajaran disampaikan melalui media yang bisa mereka lihat secara langsung. Dengan PID, guru bisa memberikan contoh secara visual sehingga materi lebih mudah dipahami,” ujarnya, Senin (26/10).

Menurut Meiarta, kebutuhan PID di sekolahnya masih cukup besar. Idealnya, setiap kelas memiliki perangkat tersebut agar pemanfaatannya bisa merata. Namun, saat ini baru satu unit yang tersedia untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di 38 kelas. “Kami berharap ke depan setiap kelas bisa memiliki PID. Kalau hanya satu unit, penggunaannya tentu harus bergantian, sehingga belum semua kelas bisa memanfaatkannya secara maksimal,” katanya.

Baca juga:  Bawaslu Gianyar Gandeng SLB Negeri 1 Gianyar Perkuat Pendidikan Politik

Ia mengungkapkan, sekolah direncanakan menerima tambahan tiga unit PID dari pemerintah pusat pada 2026. Namun, hingga saat ini bantuan tersebut belum terealisasi. Pengadaan perangkat itu mengacu pada pendataan jumlah siswa melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

“Kami mendapat informasi rencana bantuan tiga unit tahun ini. Mudah-mudahan segera terealisasi karena perangkat tersebut sangat dibutuhkan untuk menunjang pembelajaran anak-anak,” ungkapnya.

Saat ini, SLB Negeri 1 Tabanan memiliki 238 siswa dari jenjang SD hingga SMA. Rinciannya, 120 siswa SD, 66 siswa SMP, dan 52 siswa SMA. Mereka memiliki beragam kebutuhan khusus, di antaranya tunanetra, tunarungu, hambatan intelektual, dan tunadaksa.

Baca juga:  Satpol PP Buleleng Jaring Sejumlah Duktang Tanpa Identitas

Dengan karakteristik siswa yang berbeda, metode pembelajaran tentunya perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Selain penggunaan media visual, guru juga menerapkan pendekatan komunikasi yang sesuai, termasuk Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) untuk mendukung pembelajaran siswa tunarungu.

Dari sisi tenaga pendidik, sekolah memiliki 42 guru yang seluruhnya berstatus aparatur sipil negara (ASN) yang menjadi salah satu modal dalam memberikan layanan pendidikan kepada siswa berkebutuhan khusus. Selain pembelajaran akademik, SLB Negeri 1 Tabanan juga mengembangkan keterampilan siswa melalui program vokasi. Bidang yang diajarkan meliputi tata busana, tata boga, musik, pijat atau massage, cuci motor, hingga hantaran. Sekolah juga memiliki kedai kopi sebagai sarana praktik keterampilan.

Meiarta mengatakan, pendidikan keterampilan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan siswa agar mampu mengembangkan potensi dan kemandirian. “Kami tidak hanya memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga membekali anak-anak dengan keterampilan yang bisa mereka kembangkan. Harapannya, setelah lulus mereka memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Baca juga:  Gubernur Koster : Teluk Benoa Itu Tidak Bisa Direklamasi

Upaya pengembangan potensi tersebut juga membuahkan prestasi. Pada 2025, bidang tata busana meraih juara I tingkat Provinsi Bali dan juara III tingkat nasional. Sementara itu, bidang merangkai bunga meraih juara I tingkat provinsi dan juara I tingkat nasional. Pada 2026, siswa kembali menorehkan prestasi. Bidang merangkai bunga meraih juara I tingkat provinsi, sedangkan tata busana meraih juara II tingkat provinsi.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa siswa berkebutuhan khusus memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui pendidikan dan pendampingan yang tepat. “Kami berharap dukungan sarana pembelajaran terus ditingkatkan. Dengan fasilitas yang lebih memadai, guru bisa memberikan pembelajaran secara lebih optimal dan anak-anak memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan kemampuannya,” pungkas Meiarta. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN