Suasana Diamond Beach di Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung. (BP/Istimewa)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Kunjungan wisatawan ke Nusa Penida, Klungkung, melandai selama Oktober 2026. Selain memasuki musim sepi kunjungan atau low season yang diperkirakan berlangsung hingga pertengahan Desember, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) turut berdampak terhadap aktivitas pelaku usaha pariwisata, khususnya agen perjalanan wisata.

Kepala Dinas Pariwisata Klungkung, I Gusti Agung Gde Putra Mahajaya, mengatakan penurunan kunjungan pada periode ini sejalan dengan siklus low season. Namun, persoalan pasokan BBM menambah tantangan bagi pelaku usaha perjalanan wisata di Nusa Penida.

Baca juga:  Jembatan Dermaga Banjar Nyuh Nusa Penida Ambruk, Dikhawatirkan Pengaruhi Kunjungan Wisatawan

“Sekarang ini memang low season sampai pertengahan Desember. Kelangkaan BBM juga memberikan dampak, Asita juga menyampaikan demikian,” ujar Mahajaya, Selasa (20/10).

Menurutnya, dampak kelangkaan BBM tidak hanya dirasakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga merembet ke sektor pariwisata. Asosiasi perusahaan perjalanan wisata atau Asita telah menyampaikan adanya agen perjalanan yang ikut terdampak kondisi tersebut.

Di tengah kondisi itu, Dinas Pariwisata Klungkung tetap menggenjot promosi untuk menjaga daya tarik Nusa Penida. Promosi dilakukan baik pada musim sepi maupun musim ramai, dengan melibatkan pengelola destinasi yang telah menjalin kerja sama dengan Pemkab Klungkung.

Baca juga:  WN Prancis Tewas Terseret Ombak di Pantai Kelingking

“Upaya-upaya promosi tetap berjalan, bahkan kita tingkatkan. Sekarang pengelola destinasi yang diajak kerja sama oleh pemkab berlomba-lomba melakukan promosi,” katanya.

Selain promosi, pembenahan destinasi juga dilakukan secara bertahap, termasuk penyediaan atraksi wisata dan penataan infrastruktur. Tahun ini, penataan destinasi mulai berjalan seiring penerapan pungutan retribusi berbasis objek wisata. Sementara, pembenahan infrastruktur direncanakan berlanjut pada 2027.

Gusti Mahajaya mengakui, peningkatan fasilitas destinasi tidak bisa dilakukan sekaligus. Terlebih, penerapan retribusi berbasis destinasi baru berjalan sekitar satu bulan.

Baca juga:  Bupati Himbau Wisatawan Tak Kenal Medan Manfaatkan Sopir Lokal

Dalam skema tersebut, 20 persen dialokasikan kembali kepada pengelola destinasi untuk mendukung kebutuhan penataan di lapangan. Penggunaannya akan disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan anggaran yang tersedia.

“Kalau minta ABCD (ini itu) tidak bisa serta-merta. Kami sudah membuat perencanaan secara bertahap. Ada anggaran 20 persen kembali ke pengelola destinasi, nanti apa keperluannya akan disesuaikan dengan kondisi anggaran,” tandasnya. (Sri Wiadnyana/balipost)

BAGIKAN