
MANGUPURA, BALIPOST.com – Setelah dua tahun vakum, Festival Seni dan Budaya Kabupaten Badung kembali disiapkan untuk menyapa masyarakat pada 5–16 November 2026. Beragam pertunjukan dan perlombaan seni tradisional akan meramaikan festival ini sekaligus membuka ruang bagi seniman untuk menunjukkan kreativitas dan menjaga warisan budaya Bali.
Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung mulai mematangkan persiapan bersama perangkat daerah dan lembaga terkait di Ruang Rapat Dinas Kebudayaan Badung. Hai ini untuk membahas konsep kegiatan serta koordinasi dukungan lintas perangkat daerah demi kelancaran pelaksanaan festival.
Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Badung, I Made Adi Adnyana, mengatakan festival ini dirancang untuk menghidupkan kembali ruang ekspresi bagi para seniman setelah kegiatan serupa tidak terlaksana selama dua tahun.
“Sebagai pengampu seni dan budaya, kami merencanakan kembali penyelenggaraan Festival Seni dan Budaya Kabupaten Badung Tahun 2026. Ada kerinduan dari para seniman agar kegiatan ini dapat terlaksana kembali,” ujar Adnyana pada Jumat (16/10).
Sejumlah agenda seni telah disiapkan untuk memeriahkan festival, mulai dari lomba Tari Telek Bebadungan, parade Gong Kebyar anak-anak, Gong Kebyar dewasa, Gong Kebyar wanita, hingga lomba Bapang Barong. Kegiatan ini akan melibatkan perwakilan dari masing-masing kecamatan di Kabupaten Badung.
Lomba Baleganjur juga menjadi salah satu agenda yang menarik perhatian. Panitia membagi perlombaan ini ke dalam tiga kategori, yakni anak-anak, remaja, dan umum. Kuota yang disediakan masing-masing sebanyak 10 peserta untuk kategori anak-anak, 10 peserta remaja, dan 30 peserta umum.
Antusiasme peserta mulai terlihat sejak pendaftaran dibuka. Menurut Adi Adnyana, sebagian besar kuota yang tersedia untuk lomba Baleganjur telah terisi. Kondisi ini menunjukkan tingginya minat peserta untuk ambil bagian dalam kegiatan seni tradisional tersebut.
“Festival Seni dan Budaya Badung 2026 juga akan bersinergi dengan program Banjar Menari. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas keterlibatan masyarakat, khususnya lingkungan banjar, dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya,” terangnya.
Melalui penyelenggaraan festival selama 12 hari ini, Adi Adnyana berharap seni tradisional tetap hidup, berkembang, dan mendapat tempat di tengah masyarakat. Dukungan perangkat daerah serta lembaga terkait juga menjadi bagian penting untuk menyukseskan agenda budaya yang kembali hadir setelah dua tahun terhenti.
“Kembalinya festival ini kami harapkan tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga memperkuat regenerasi seniman dan menjaga keberlanjutan seni budaya lokal di Kabupaten Badung,” pungkasnya.(Parwata/balipost)










