Seorang warga sedang membeli pangan di pedagang sekitar Pasar Kumbasari, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di tengah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), harga barang kebutuhan pokok dan barang penting (bapokting) di Bali secara umum masih terkendali. Meski demikian, sejumlah komoditas pangan mulai menunjukkan sinyal kenaikan harga, terutama bahan pangan hortikultura yang pasokannya bergantung pada distribusi dari luar daerah.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Wiryanata, mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi kondisi kelangkaan BBM. Ia menegaskan, masyarakat tidak perlu melakukan pembelian berlebihan atau panic buying karena stok bapokting di Bali dipastikan masih aman.
“Distributor besar di luar Bali saya hubungi, aman katanya,” ujar Wiryanata saat dikonfirmasi, Kamis (15/10).

Ia mengatakan, Disperindag Bali terus memantau perkembangan harga bapokting di 60 titik pasar yang tersebar di seluruh Bali. Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, kenaikan harga belum terjadi secara signifikan. Namun, bawang putih mulai menunjukkan peningkatan harga.

Baca juga:  Jumlah Penduduk Terus Meningkat, Kesejahteraan Harus Dijamin

“Memang lonjakan belum terasa, tapi ada lonjakan di bawang putih. Tapi itu sih biasa naik turun,” jelasnya.

Berdasarkan hasil analisis pemantauan harga melalui aplikasi SiGapura Bali milik Disperindag Provinsi Bali per 14 Oktober 2026, dampak kelangkaan BBM terhadap harga pangan secara umum masih relatif terbatas. Pengaruhnya terhadap inflasi umum diperkirakan masih di bawah 0,1 persen.

Kendati demikian, terdapat sinyal peringatan dini (early warning) kenaikan harga pada tujuh dari 20 komoditas yang dipantau.

Kenaikan tertinggi terjadi pada bawang putih sebesar 1,41 persen, dari Rp 30.000 menjadi Rp 30.429. Selanjutnya, jeruk lokal naik 0,75 persen, cabai merah besar 0,63 persen, bawang merah 0,40 persen, beras medium I 0,13 persen, cabai rawit 0,10 persen, dan beras premium 0,06 persen.

Menurut Wiryanata, komoditas yang mengalami kenaikan tersebut umumnya bergantung pada pasokan dari luar Bali, seperti Jawa dan Lombok. Karakteristik bahan pangan hortikultura yang membutuhkan pengangkutan cepat serta rentan mengalami penyusutan selama distribusi membuat komoditas tersebut lebih sensitif terhadap perubahan biaya dan kelancaran transportasi.

Baca juga:  JPU Banding, Simpatisan Jerinx Luapkan Kekecewaan Sebut Jaksa Tak Tahu Malu

“Karakteristiknya karena barang harus didatangkan dari Jawa/Lombok, butuh angkut cepat dan rentan susut,” jelasnya.

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga. Berdasarkan data pemantauan, harga gula turun 1,69 persen, daging babi 1,42 persen, telur ayam ras 1,25 persen, dan minyak goreng 0,08 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga belum terjadi secara merata pada seluruh komoditas pangan yang dipantau.

Dari sisi ketersediaan, neraca pasokan komoditas bapokting yang dipantau masih berada dalam kondisi surplus. Namun, persediaan yang relatif terbatas pada sejumlah komoditas perlu diwaspadai apabila kelangkaan BBM berlanjut dan mengganggu distribusi dalam beberapa hari ke depan.

Stok cabai merah besar, misalnya, tercatat tersisa sekitar 2 ton dari posisi 27 ton. Sementara itu, persediaan cabai rawit mencapai 9 ton, bawang putih 12 ton, dan jeruk 14 ton.

Baca juga:  Tutupi Irigasi, Wabup Kasta Ikut Evakuasi Material Longsor

Wiryanata mengingatkan, hambatan pasokan selama tiga hingga lima hari berpotensi menguras persediaan komoditas yang stoknya terbatas. Apabila kondisi tersebut terjadi, kekosongan barang dapat memicu lonjakan harga yang lebih tinggi.

“Jika pasokan terhambat 3–5 hari, stok ini akan habis pertama dan memicu lonjakan 10–20 persen,” ujarnya.

Karena itu, kelancaran distribusi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas harga bapokting di Bali. Disperindag terus memantau perkembangan harga dan stok untuk mengantisipasi potensi gejolak, khususnya pada komoditas yang sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Wiryanata kembali mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan berbelanja sesuai kebutuhan. Ia menegaskan, kondisi harga dan stok bapokting di Bali secara umum masih aman sehingga masyarakat tidak perlu melakukan pembelian secara berlebihan yang justru berpotensi mengganggu keseimbangan pasokan di pasar. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN